Jakarta (ANTARA) - Cuaca panas dan peningkatan polusi udara pada musim kemarau bisa meningkatkan peluang munculnya masalah kesehatan seperti infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA pada individu yang rentan.
Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked menyampaikan bahwa debu dan polutan udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan jika terhirup.
"Iritasi tersebut dari debu, akan menurunkan daya tahan saluran nafas, menyebabkan inflamasi, sehingga mudah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas," kata dokter spesialis paru-paru dan pernapasan itu kepada ANTARA di Jakarta pada Senin
Dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyampaikan bahwa orang dengan daya tahan tubuh rendah lebih berpeluang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara semasa kemarau.
"Nah trik-triknya bagaimana kalau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tentu butuh vitamin, istirahat yang cukup, pola hidup bersih sehat intinya," katanya.
Dia menyarankan penerapan pola makan bergizi seimbang yang mencakup buah-buahan, sayur-sayuran, dan sumber vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Konsumsi suplemen vitamin dan antioksidan juga bisa dipertimbangkan ketika kualitas udara memburuk.
"Dari kita sendiri supaya tidak terjadi menambah polusi udara ya tidak ikut-ikutan membakar sampah, atau tidak merokok," kata dr. Feni, yang berpraktik di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.
Selain itu, dia menyarankan penerapan skala prioritas dalam melakukan kegiatan di luar rumah pada masa kualitas udara memburuk.
Kalau memang harus melakukan kegiatan di luar rumah saat cuaca panas dan kualitas udara buruk, maka sebaiknya menggunakan kacamata dan pelindung wajah untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya iritasi mata dan saluran pernapasan akibat paparan polusi udara.
"Kalau memang harus keluar rumah, ya gunakan alat-alat proteksi yang tadi dan sesegera mungkin kembali ke rumah untuk menghindari pajanan debu," kata dr. Feni.
Ia juga mengingatkan pentingnya konsumsi obat-obatan rutin bagi individu yang menderita penyakit pernapasan kronis seperti asma pada masa kualitas udara memburuk.
Baca juga: Waspadai risiko penyakit pernapasan selama musim kemarau
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman sebelumnya menyampaikan bahwa angka kunjungan pasien ISPA di rumah sakit mencapai 676.404 kunjungan sepanjang Januari sampai Juli 2026.
Istilah ISPA digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis infeksi yang mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, termasuk hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, infeksi saluran pernapasan akut bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.
Paparan polusi udara juga dapat menyebabkan masalah pernapasan dan memicu infeksi saluran napas.
Gejala ISPA antara lain batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, pilek, suara serak atau hilang, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi.
Dokter Feni mengatakan, kalau gejala-gejala itu muncul pada individu dengan kerentanan seperti balita, lansia, penderita penyakit paru-paru, dan penderita penyakit jantung, maka yang bersangkutan sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Baca juga: Langkah-langkah untuk mencegah gangguan pernapasan semasa kemarau
Baca juga: Ahli kesehatan sebut 60 persen penyakit berkaitan dengan polusi udara
Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked menyampaikan bahwa debu dan polutan udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan jika terhirup.
"Iritasi tersebut dari debu, akan menurunkan daya tahan saluran nafas, menyebabkan inflamasi, sehingga mudah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas," kata dokter spesialis paru-paru dan pernapasan itu kepada ANTARA di Jakarta pada Senin
Dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyampaikan bahwa orang dengan daya tahan tubuh rendah lebih berpeluang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara semasa kemarau.
"Nah trik-triknya bagaimana kalau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tentu butuh vitamin, istirahat yang cukup, pola hidup bersih sehat intinya," katanya.
Dia menyarankan penerapan pola makan bergizi seimbang yang mencakup buah-buahan, sayur-sayuran, dan sumber vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Konsumsi suplemen vitamin dan antioksidan juga bisa dipertimbangkan ketika kualitas udara memburuk.
"Dari kita sendiri supaya tidak terjadi menambah polusi udara ya tidak ikut-ikutan membakar sampah, atau tidak merokok," kata dr. Feni, yang berpraktik di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.
Selain itu, dia menyarankan penerapan skala prioritas dalam melakukan kegiatan di luar rumah pada masa kualitas udara memburuk.
Kalau memang harus melakukan kegiatan di luar rumah saat cuaca panas dan kualitas udara buruk, maka sebaiknya menggunakan kacamata dan pelindung wajah untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya iritasi mata dan saluran pernapasan akibat paparan polusi udara.
"Kalau memang harus keluar rumah, ya gunakan alat-alat proteksi yang tadi dan sesegera mungkin kembali ke rumah untuk menghindari pajanan debu," kata dr. Feni.
Ia juga mengingatkan pentingnya konsumsi obat-obatan rutin bagi individu yang menderita penyakit pernapasan kronis seperti asma pada masa kualitas udara memburuk.
Baca juga: Waspadai risiko penyakit pernapasan selama musim kemarau
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman sebelumnya menyampaikan bahwa angka kunjungan pasien ISPA di rumah sakit mencapai 676.404 kunjungan sepanjang Januari sampai Juli 2026.
Istilah ISPA digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis infeksi yang mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, termasuk hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, infeksi saluran pernapasan akut bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.
Paparan polusi udara juga dapat menyebabkan masalah pernapasan dan memicu infeksi saluran napas.
Gejala ISPA antara lain batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, pilek, suara serak atau hilang, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi.
Dokter Feni mengatakan, kalau gejala-gejala itu muncul pada individu dengan kerentanan seperti balita, lansia, penderita penyakit paru-paru, dan penderita penyakit jantung, maka yang bersangkutan sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Baca juga: Langkah-langkah untuk mencegah gangguan pernapasan semasa kemarau
Baca juga: Ahli kesehatan sebut 60 persen penyakit berkaitan dengan polusi udara





