Hujan deras yang memecahkan rekor melanda Prefektur Chiba, Jepang, pada 13 Agustus. Banjir terjadi di berbagai wilayah. Hingga 14 Agustus siang, 8 orang telah dikonfirmasi meninggal dunia. Lebih dari 7.400 orang tidak dapat pulang sementara akibat gangguan transportasi atau membutuhkan tempat penampungan. Karena laporan mengenai bencana terus berdatangan dalam jumlah besar, sejumlah pemerintah daerah mengatakan bahwa skala keseluruhan kerusakan masih belum dapat diketahui secara lengkap.
EtIndonesia.com Laporan NHK menyebutkan Badan Meteorologi Jepang menyatakan bahwa pengaruh udara lembab dan udara dingin di lapisan atas atmosfer menyebabkan Prefektur Chiba mengalami serangkaian “garis hujan” (senjō kōsuitai) sejak 13 Agustus sore. Kondisi tersebut memicu hujan dengan intensitas yang memecahkan rekor. Pihak berwenang bahkan sempat mengeluarkan peringatan khusus tingkat tinggi terkait hujan lebat dan bencana tanah longsor.
Dari sekitar pukul 17.00 tanggal 13 Agustus hingga sekitar tanggal 14 Agustus pukul 01.00 dini hari, informasi cuaca mengenai “hujan lebat dalam waktu singkat yang memecahkan rekor” diterbitkan sebanyak 25 kali.
Curah hujan di berbagai wilayah juga mencatat rekor baru. Di Kota Chiba, hingga sekitar pukul 01.40 dini hari, akumulasi curah hujan selama 12 jam mencapai 348 milimeter, tertinggi sejak pencatatan dimulai. Jumlah tersebut setara dengan sekitar tiga kali rata-rata curah hujan sepanjang bulan Agustus di wilayah tersebut, tetapi turun hanya dalam waktu setengah hari.
Alat pengukur curah hujan milik Prefektur Chiba di Distrik Midori, Kota Chiba, bahkan mencatat sekitar 450 milimeter hujan hanya dalam waktu enam jam sejak pukul 18.00 pada 13 Agustus.
Pemerintah Prefektur Chiba pada pagi hari melaporkan bahwa hujan lebat tersebut telah menyebabkan 4 orang meninggal dan 1 orang hilang. Pada sore harinya, jumlah korban meninggal meningkat menjadi 8 orang.
Kematian Berkaitan dengan Kendaraan dan Jalan yang TerendamPolisi mengatakan, seorang perempuan di Kota Kashiwa terjebak di dalam kendaraan yang terendam banjir pada 13 Agustus. Ia berhasil dievakuasi dalam kondisi henti jantung dan pernapasan, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Setelah tengah malam pada 14 Agustus, seorang pria di Murata-cho, Distrik Chuo, Kota Chiba, menelepon polisi untuk meminta pertolongan karena terjebak di dalam mobil dan tidak dapat keluar. Petugas pemadam kebakaran yang tiba di lokasi menemukan sebuah kendaraan terendam di jalan bawah tanah. Pria tersebut berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit, tetapi akhirnya dinyatakan meninggal.
Pada dini hari 14 Agustus, seorang perempuan juga ditemukan tergeletak di jalan yang terendam banjir di Izumicho, Distrik Wakaba, Kota Chiba. Petugas medis dan pemadam kebakaran memastikan ia telah meninggal di lokasi.
Di Futamata, Kota Ichikawa, seorang pria ditemukan mengambang di jalan yang tergenang air. Ia dibawa ke rumah sakit tetapi tidak berhasil diselamatkan. Di Kamitakano, Kota Yachiyo, seorang pria ditemukan terendam di bawah permukaan jalan yang dilanda banjir dan dinyatakan meninggal di tempat.
Di Kotake, Kota Sakura, pada malam 13 Agustus, sebuah kendaraan terjebak banjir. Saat meminta pertolongan, korban mengatakan, “Air sudah sampai ke dada.” Tim penyelamat kemudian menemukan seorang perempuan di dalam taksi yang terendam dan memastikan ia telah meninggal.
Di Kamishizu, Kota Sakura, seorang pria juga ditemukan tergeletak di jalan pada malam hari. Ia meninggal setelah dibawa ke rumah sakit. Petugas pemadam kebakaran menduga penyebab kematiannya kemungkinan adalah tenggelam.
Rumah dan Fasilitas Umum Mengalami Kerusakan ParahMenurut data NHK, setidaknya sekitar 300 bangunan di Kota Chiba, Kota Ichihara, dan wilayah lainnya telah terdampak banjir. Selain itu, setidaknya terdapat 70 kasus tanah longsor dan bencana terkait lainnya.
Karena laporan bencana dari berbagai daerah terus masuk dalam jumlah besar, sejumlah pemerintah daerah mengatakan bahwa mereka masih kesulitan mengetahui keseluruhan skala kerusakan.
Hujan Lebat Mengacaukan TransportasiMenurut Asahi Shimbun, layanan Keisei Electric Railway antara Keisei-Takasago dan Bandara Narita, serta jalur Chiba, Chihara, dan Higashi-Narita, semuanya sempat dihentikan. Kereta ekspres Narita Express juga diperkirakan tidak beroperasi hingga sekitar pukul 15.00 pada 14 Agustus.
Bandara Narita juga terdampak gangguan transportasi. Hingga sekitar pukul 04.00 dini hari, sekitar 7.000 penumpang terpaksa bermalam di bandara.
Keisei Electric Railway dan JR East secara bertahap menghentikan layanan kereta menuju Bandara Narita pada malam 13 Agustus. Selain itu, sebagian ruas Higashi-Kanto Expressway ditutup setelah sekitar pukul 19.00. Akibatnya, sebagian besar bus antarkota yang menghubungkan bandara dengan pusat Tokyo dan wilayah lainnya juga tidak dapat beroperasi.
Sejak sekitar pukul 19.00 pada 13 Agustus, pemerintah Prefektur Chiba membuka gedung kantor pemerintah prefektur dan Biro Perusahaan sebagai tempat penampungan sementara. Pemerintah Kota Chiba juga membuka gedung balai kota, Makuhari Messe, dan sejumlah fasilitas lainnya.
Menurut data pemerintah Prefektur Chiba, total 3.877 orang sempat ditempatkan di tempat-tempat penampungan. Sekitar 1.700 orang bermalam di gedung pemerintah prefektur dan Biro Perusahaan. Petugas pemerintah membagikan air minum dalam botol, selimut termal aluminium, dan perlengkapan lainnya.
Selain itu, sekitar 4.000 orang sempat tidak dapat pulang di sekitar Stasiun JR Soga. Setelah menerima permintaan bantuan dari pemerintah daerah, Pasukan Bela Diri Jepang mulai mengerahkan bus berukuran kecil dan besar sejak pukul 06.45 untuk secara bertahap membawa para penumpang yang terlantar dari Stasiun JR Soga ke Chiba Prefectural Cultural Hall yang dijadikan tempat penampungan sementara.
Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan akan terus bekerja sama dengan berbagai lembaga terkait untuk membantu masyarakat berpindah ke tempat yang aman secepat mungkin.
Seiring hujan mulai mereda, Badan Meteorologi Jepang mengingatkan masyarakat bahwa meskipun peringatan khusus tingkat tertinggi telah dicabut, ancaman tanah longsor, kenaikan drastis atau luapan sungai, serta banjir di daerah rendah masih harus diwaspadai.
Pada 13 Agustus 2026, masyarakat berjalan di jalan yang terendam banjir setelah hujan deras melanda Prefektur Chiba.
Sumber : NTDTV.com





