MAUMERE, KOMPAS — Sudah tiga hari sejak gempa, persediaan makanan ratusan warga yang mengungsi di Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dinyatakan habis. Sejumlah warga dilaporkan kelaparan. Bantuan didorong agar secepatnya mengalir ke wilayah tersebut.
”Banyak yang sudah kehabisan makanan dan kelaparan. Belum ada sentuhan bantuan sama sekali. Kami di sini kelaparan,” kata Apolonia Dhupa Mema, pengungsi yang dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (17/8/2026) siang. Mema merupakan kepala sekolah di daerah itu.
Menurut dia, masyarakat setempat saling membantu dengan membagikan makanan. Ada beras, pisang, dan ubi. Namun, persediaan sangat terbatas. Banyak pengungsi yang kini sudah kehabisan makanan.
”Kami sekarang sudah kesulitan mendapatkan makanan dan minuman karena persediaan di kios-kios kecil sudah habis. Kami sangat mengharapkan bantuan segera datang ke Desa Rendu Butowe,” kata Mema.
Warga yang hendak pergi membeli kebutuhan ke kota terkendala transportasi. Bahan bakar tidak tersedia. Sejumlah ruas jalan juga terputus. Mereka terisolasi dan menunggu bantuan pemerintah.
Para pengungsi kebanyakan berasal dari sejumlah desa pesisir yang dekat dengan episentrum gempa bermagnitudo 7,7 itu. Mereka memilih mengungsi ke Rendu Butowe yang berada di kawasan perbukitan. Hingga Senin siang, gempa susulan masih terus terjadi.
Sementara itu, tim pembawa bantuan untuk korban gempa Flores akhirnya tiba di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, pada Minggu (16/8/2026) malam. Di sana terungkap dampak kerusakan yang sangat parah. Satu orang meninggal, dua orang luka berat, ratusan rumah rusak, dan ribuan warga belum mendapatkan bantuan.
Wakil Kepala Polres Sikka Komisaris Marselus Yugo Amboro, Senin (17/8/2026) pagi, mengatakan, tim tiba pada Minggu sekitar pukul 20.00 Wita. ”Jalanan mendaki. Banyak longsor. Menyerempet maut,” kata Yugo melalui pesan singkat.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, mereka mencapai Desa Nitung, Kecamatan Palue. Jumlah penduduk desa itu 2.018 jiwa. Di Palue terdapat delapan desa dengan jumlah penduduk tercatat 10.728 jiwa. Palue dapat dijangkau dengan kapal cepat dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam pelayaran.
Yugo bersama rombongan membawa sebanyak 230 paket bantuan untuk warga di desa itu. ”Dari kondisi lapangan, dukungan personel serta bantuan perlu ditambah lagi ke Palue,” kata Yugo. Menurut rencana, bantuan tambahan akan kembali dikirim ke sana pada hari ini.
Tim yang tiba di Palue pada Minggu langsung mengevakuasi korban luka untuk dibawa ke Maumere. Sebagian anggota tim kemudian kembali, tetapi Yugo dan beberapa orang tetap tinggal di sana.
Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan warga Pulau Palue di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, belum tersentuh bantuan sejak gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores dan sekitarnya pada Sabtu (15/8/2026). Pulau tersebut berada paling dekat dengan pusat gempa. Satu orang tewas, puluhan terluka, dan ratusan rumah warga rusak.
Kompas mendapat kabar itu setelah dihubungi Nestor Langga, warga Pulau pada Minggu (16/8/2026) pagi. "Sinyal hilang karena listrik padam. Kami baru hidupkan genset (generator set) sehingga baru bisa kontak keluar," kata dia.
Ia menuturkan, gempa pada pagi itu paling terasa guncangannya. Pulau itu berada paling dekat dengan titik gempa yang berada Laut Flores. Gempa pertama diikuti gempa susulan sebanyak ratusan kali. Hingga Minggu petang ini, gempa susulan masih terus berlangsung.
Gempa merusak pemancar sinyal serta pembangkit listrik. Akibatnya, komunikasi antardesa di Palue juga terputus. Di sana terdapat delapan desa. Nastor berasal dari Desa Rokirole.
Ia melaporkan, di desa itu satu orang meninggal dan dua orang luka. Rumah uang yang rusak puluhan unit. "Kalau seluruh desa di Palue belum kami ketahui. Sinyal putus, jalan antaradesa juga tertutup longsor," ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan bahan makanan. Warga kini terisolasi lantaran kapal yang dijadwalkan berlayar ke sana dibatalkan setelah peringatan dini tsunami. Secara khusus, ia meminta PLN segera menormalisasi jaringan listrik di pulau tersebut.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, pemerintah secara bertahap akan membuka akses ke daerah-daerah yang masih terisolasi. Pengiriman bantuan mulai dilakukan. Ia akan berkoordinasi dengan Polri, TNI, serta kepala daerah setempat untuk mempercepat pengiriman bantuan ke Palue.
Menurut Melkiades, dampak gempa Flores sangat serius. Ia telah menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari terhitung sejak 15 Agustus 2026. Semua sumber daya akan dikerahkan untuk penanggulangan bencana ini.
Untuk gempa Flores, lanjutnya, status bencana ditetapkan sebagai bencana daerah. Pemerintah pusat akan melakukan pendampingan. Terkait usulan penetapan sebagai bencana nasional, hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat.
Banyak warga di berbagai wilayah Pulau Flores dan sekitarnya terdampak guncangan gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Laut Flores. Guncangan utama diikuti gempa susulan yang jumlahnya telah mencapai ratusan kali.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama menyampaikan, peringatan dini tsunami telah berakhir. Peringatan dini IV atau pengakhiran dikeluarkan pada pukul 07.30 WIB atau 08.30 Wita. Dengan demikian, peringatan dini tsunami berakhir setelah berlangsung selama 2 jam 31 menit 30 detik sejak gempa terjadi.
Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan informasi resmi BMKG serta arahan petugas di lapangan. Aktivitas kegempaan masih berlanjut setelah gempa utama.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan, hingga Minggu malam, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 55 orang. Data tersebut masih terus diperbarui mengingat masih banyak daerah yang terisolasi.





