Dokter Ingatkan Polusi Musim Kemarau Tingkatkan Risiko ISPA, Ini Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Cuaca panas, debu, dan peningkatan polusi udara pada musim kemarau dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan, sehingga masyarakat disarankan menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi paparan polutan.

Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked mengatakan debu serta polutan yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan.

“Iritasi tersebut dari debu, akan menurunkan daya tahan saluran nafas, menyebabkan inflamasi, sehingga mudah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas,” kata Feni di Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026.

Dosen Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyebut orang dengan daya tahan tubuh rendah lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara selama musim kemarau.

Pola Hidup Sehat dan Perlindungan dari Polusi

“Nah trik-triknya bagaimana kalau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tentu butuh vitamin, istirahat yang cukup, pola hidup bersih sehat intinya,” katanya.

Feni menyarankan masyarakat menerapkan pola makan bergizi seimbang dengan mengonsumsi buah, sayuran, serta sumber vitamin untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.

Konsumsi suplemen vitamin dan antioksidan juga dapat dipertimbangkan ketika kualitas udara memburuk.

“Dari kita sendiri supaya tidak terjadi menambah polusi udara ya tidak ikut-ikutan membakar sampah, atau tidak merokok,” kata Feni.

Masyarakat juga disarankan memprioritaskan kegiatan penting apabila harus beraktivitas di luar rumah ketika kualitas udara sedang buruk.

Penggunaan kacamata dan pelindung wajah dianjurkan untuk mengurangi paparan polusi yang berpotensi mengiritasi mata serta saluran pernapasan.

“Kalau memang harus keluar rumah, ya gunakan alat-alat proteksi yang tadi dan sesegera mungkin kembali ke rumah untuk menghindari pajanan debu,” kata Feni.

Kunjungan Pasien ISPA Capai 676.404 hingga Juli 2026

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman sebelumnya menyebut kunjungan pasien ISPA di rumah sakit mencapai 676.404 sepanjang Januari hingga Juli 2026.

ISPA mencakup berbagai infeksi yang memengaruhi saluran pernapasan bagian atas maupun bawah, termasuk hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru.

Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan, ISPA dapat disebabkan virus, bakteri, atau jamur, sedangkan paparan polusi udara juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan memicu infeksi saluran napas.

Gejala ISPA antara lain batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, pilek, suara serak atau hilang, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi.

Feni menyarankan kelompok rentan seperti balita, lansia, penderita penyakit paru-paru, dan penderita penyakit jantung segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala tersebut.

Individu dengan penyakit pernapasan kronis seperti asma juga diingatkan tetap mengonsumsi obat rutin ketika kualitas udara memburuk.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terungkap! Ternyata Ini Penyebab Siswa di Karo Keracunan Massal MBG
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Media Italia Beri Kabar Mengejutkan soal Jay Idzes di Sassuolo, Kapten Timnas Indonesia Jadi Sorotan
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
15 Ribu Botol Miras Hasil Sitaan 3 Bulan di Bogor Dimusnahkan
• 3 jam laludetik.com
thumb
Pramusim: Karim Adeyemi impresif, Barcelona menang 5-2 atas Basel
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Melihat Bendera Merah Putih Raksasa Terbentang di Danau Situ Gintung
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.