Berbagai wilayah di Tiongkok mulai muncul modus penipuan baru yang memanfaatkan teknologi AI. Para penipu memanfaatkan kesempatan ketika orang yang berniat membantu diminta membacakan nomor pada kartu atau layar ponsel. Dengan teknologi AI, mereka dapat menangkap wajah korban dalam resolusi tinggi dan merekam serta mengekstrak karakteristik suara korban. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyamar sebagai korban dan mengajukan pinjaman, sehingga korban dapat tiba-tiba memiliki utang dalam jumlah besar.
EtIndonesia.com Pada 13 Agustus, seorang perempuan di jalanan Shanghai bertemu dengan seorang pria lanjut usia yang meminta bantuan. Pria itu mengaku mengalami rabun dekat sehingga tidak dapat melihat layar ponselnya dengan jelas, lalu meminta perempuan itu membacakan tulisan di layar.
Perempuan tersebut kemudian menyadari bahwa tulisan di layar ternyata berisi kalimat persetujuan seperti “Saya telah mengetahui dan menyetujui”. Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ia segera menolak dan meninggalkan tempat tersebut.
Pengalaman perempuan itu kemudian menarik perhatian luas. Hingga 14 Agustus, topik terkait telah memperoleh lebih dari 10 juta tayangan di internet.
Menurut laporan, modus penipuan semacam ini telah muncul di berbagai wilayah Tiongkok. Kelompok penipu biasanya menggunakan orang lanjut usia sebagai pelaku di lapangan, dan melakukan aksinya di tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan dan depan bank.
Para penipu biasanya menggunakan alasan “mata saya rabun sehingga tidak bisa melihat dengan jelas”, kemudian meminta orang yang lewat membacakan nomor kartu bank, rangkaian angka, atau kalimat seperti “Saya telah mengetahui dan menyetujui” ke arah ponsel yang sedang melakukan panggilan video atau merekam video.
Begitu korban mulai berbicara, penipu menggunakan teknologi AI untuk memisahkan suara dari kebisingan dan mengekstrak karakteristik suara korban, sekaligus merekam gambar wajah korban dalam resolusi tinggi. Selanjutnya, dengan teknologi penggantian wajah dan sintesis suara, mereka dapat melewati sebagian pemeriksaan keaktifan wajah (liveness detection) pada platform pinjaman online dan menyamar sebagai korban untuk mengajukan pinjaman.
Setelah dana pinjaman masuk ke rekening penipu, korban sering kali baru menyadari adanya masalah ketika menerima telepon penagihan utang atau memeriksa catatan kredit pribadinya.
Dalam kasus yang serius, korban dapat tanpa mengetahui apa pun tiba-tiba memiliki utang puluhan ribu hingga ratusan ribu yuan, sekaligus mengalami dampak serius terhadap catatan kredit pribadinya.
Selain itu, suara korban yang telah dikloning juga dapat digunakan penipu untuk menyamar sebagai anggota keluarga atau teman, kemudian melakukan penipuan tahap kedua terhadap orang-orang dalam lingkaran sosial korban.
Pakar industri mengatakan bahwa saat ini ambang teknologi kloning suara AI telah turun hingga hanya membutuhkan sekitar 5 detik sampel suara. Rangkaian angka yang mengandung berbagai kombinasi suku kata, jika dipadukan dengan video wajah dari arah depan, sangat mudah digunakan untuk menghasilkan model biometrik berkualitas tinggi.
Peringatan dari para ahliPara ahli mengingatkan: Jika ada orang asing yang meminta Anda membacakan angka, kode verifikasi, atau kalimat persetujuan ke arah ponsel mereka, segera dan tegas menolaknya.
Jika tanpa sengaja terjebak dalam modus tersebut atau menerima pemberitahuan mengenai pinjaman yang tidak pernah Anda ajukan, segera laporkan kepada polisi dan simpan seluruh bukti yang ada.
Laporan gabungan reporter Li Yun / Editor penanggung jawab: Li Quan





