Trump Ancam Akan Bom Oman Jika Halangi Kesepakatan dengan Iran

metrotvnews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengebom Oman yang selama ini dianggap sebagai negara sekutu AS, jika negara itu menghalangi pembicaraan pemerintahannya sendiri dengan Iran.

AS dan Oman telah melakukan negosiasi secara terpisah dengan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan yang vital bagi ekonomi global. Jalur ini sebagian besar telah ditutup selama hampir enam bulan akibat perang antara AS dan Iran.

Seorang reporter Fox mengatakan bahwa Presiden AS melontarkan ancaman tersebut kepada Oman sembari menggunakan kata-kata kasar dalam sebuah wawancara telepon.

Baca Juga :

Iran Sebut Batas Waktu 60 Hari Negosiasi dengan AS Tak Lagi Relevan

Sebelumnya pada hari yang sama, para pejabat Iran menyatakan bahwa mereka hampir merampungkan kesepakatan dengan Oman. Sementara itu, masa depan pembicaraan antara AS dan Iran masih belum jelas karena Nota Kesepahaman (MoU) berdurasi 60 hari antara kedua belah pihak akan segera berakhir.

Saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval pada hari Senin, Trump ditanya oleh BBC News apakah ia berupaya memperpanjang MoU tersebut, dan ia menjawab: "Tidak."

Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada bulan Februari, Teheran sebagian besar telah memblokir Selat Hormuz—jalur yang biasanya dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Pembukaan kembali selat ini telah menjadi poin pembahasan utama.

Oman berbatasan dengan sisi selatan selat tersebut dan menyatakan diri sebagai negara netral dalam konflik ini. Namun, negara itu telah mengalami sejumlah serangan dari Iran dan kini memainkan peran kunci dalam negosiasi dengan Teheran untuk membuka kembali jalur perairan tersebut.

Washington telah melakukan upayanya sendiri untuk memastikan pembukaan kembali jalur itu. Reporter Fox, Trey Yingst, mengutip ucapan Trump: "Jika Oman menghalangi, kami akan mengebom mereka habis-habisan."

Tidak jelas apa yang dianggap Trump sebagai tindakan menghalangi ambisinya untuk mencapai kesepakatan tersebut.

Dalam wawancara yang sama dengan Fox, Trump juga mengatakan bahwa AS memiliki saluran komunikasi langsung (backchannel) dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang merupakan kekuatan militer, ekonomi, dan politik utama di Iran.

Seorang juru bicara IRGC membantah klaim Trump tersebut. Seorang juru bicara mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News: "Tidak ada pembicaraan yang berlangsung antara pejabat IRGC dan pihak Amerika, dan kebohongan Trump ini hanyalah fantasi yang timbul akibat delusi dan mimpi buruk yang ia alami sebagai dampak dari kekalahan dan keputusasaan dalam perang."

Trump melontarkan ancamannya terhadap Oman beberapa jam setelah Iran menyatakan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan agar kapal-kapal dapat melintasi Selat tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kepada para wartawan bahwa "telah tercapai kesepahaman mengenai peta rute transit".

Ia menambahkan bahwa kedua belah pihak akan memfinalisasi perinciannya sebelum mengeluarkan pernyataan bersama. Sebelumnya, Oman menyebut pembicaraan ini sebagai sesuatu yang positif.

Awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa pembukaan kembali secara penuh bergantung pada diterimanya kompensasi oleh Iran dari AS atas apa yang disebut Teheran sebagai pelanggaran terhadap Nota Kesepahaman (MoU).

Dilaporkan sebelumnya bahwa Teheran menuntut biaya antara 5% hingga 7% dari nilai muatan kapal yang melintasi Selat tersebut.

Meskipun Trump mengatakan dalam percakapannya dengan Fox bahwa ia memiliki jalur komunikasi rahasia langsung dengan IRGC, ia menyatakan tidak terburu-buru untuk mengakhiri perang.

"Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat," ujarnya seperti dikutip.

"Saya tidak punya jadwal waktu. Saya tidak terburu-buru,” ujar Trump.

Nota Kesepahaman antara AS dan Iran, yang ditandatangani pada 18 Juni, dirancang untuk mewujudkan gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz—setidaknya sebagian. Namun, kesepakatan itu gagal tak lama kemudian ketika kedua belah pihak kembali melancarkan serangan.

Pada 8 Juli, Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah "berakhir" dan mengecam keras para pemimpin Iran dengan sebutan "sampah" serta "gila" setelah terjadinya kembali aksi saling serang.

Menjelang berakhirnya masa berlaku resmi MoU tersebut pada hari Senin, Trump mengunggah pernyataan di jejaring Truth Social miliknya: "Tujuan utamanya adalah, dan akan selalu demikian, bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk atau cara apa pun."


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pascagempa M 7,7 NTT, BMKG Kerahkan Tim Survei Makroseismik
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ciri Kepribadian Pencinta Kucing yang Perlu Kamu Ketahui
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
DPR dan Pemerintah Rapat Bahas Finalisasi Perpres Ojol
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Pemprov Kaltim manfaatkan skema dana karbon perkuat mitigasi karhutla
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Aksi Direktur-Komisaris Astra (ASII) Borong 551 Ribu Saham
• 7 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.