Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) belum cukup kuat mengangkat mata uang Asia pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Mayoritas mata uang kawasan justru bergerak melemah terhadap greenback, di tengah sentimen pasar yang masih rapuh akibat ketidakpastian global.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang melemah terhadap dolar AS. Sementara tiga lainnya berhasil menguat.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won menguat 0,33% ke posisi KRW 1.410,9/US$.
Ringgit Malaysia menyusul dengan kenaikan 0,27% ke posisi MYR 4,049/US$. Dolar Taiwan juga bergerak positif dengan penguatan 0,24% ke TWD 31,78/US$.
Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia. Peso melemah 0,19% ke posisi PHP 61,586/US$.
Rupiah juga masuk dalam daftar yang melemah dari greenback. Rupiah Garuda melemah 0,14% ke posisi Rp17.845/US$.
Baht Thailand turun 0,09% ke THB 33,04/US$, disusul yuan China yang melemah 0,06% ke CNY 6,743/US$.
Yen Jepang dan dong Vietnam sama-sama melemah 0,04%, masing-masing ke posisi JPY 159,5/US$ dan VND 26.211/US$. Dolar Singapura juga terkoreksi tipis 0,03%.
Pergerakan mata uang Asia hari ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau melemah 0,06% ke posisi 99,581.
DXY masih berada di bawah level 100 dan bergerak dekat level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat.
Data ekonomi AS belakangan memberi sinyal perlambatan. Penjualan ritel AS pada Juli turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, menyusul data tenaga kerja yang lebih lemah dan inflasi yang relatif lebih jinak.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menurunkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada rapat September turun menjadi 35%, dari 52,2% pada pekan sebelumnya.
Namun, pelemahan dolar AS tidak langsung membuat mata uang Asia menguat merata. Sentimen pasar masih rapuh karena risiko eskalasi perang di Timur Tengah kembali meningkat, terutama setelah pembicaraan untuk mengakhiri konflik AS-Iran menemui jalan buntu.
Risiko geopolitik tersebut ikut menjaga harga minyak tetap tinggi. Brent naik 0,3% ke US$91,14 per barel setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Juli pada perdagangan Senin.
Nohshad Shah, head of EMEA fixed income sales Citadel Securities, menilai risiko inflasi masih belum bisa diabaikan di tengah potensi gangguan pasokan global.
"Inflasi berada di atas target hampir sepanjang lima tahun terakhir. Laju inflasi tahunan di kisaran tinggi 2% mungkin dapat diterima The Fed, tetapi itu membuat proses inflasi hampir tidak punya ruang bernapas di tengah dunia yang terus menghadapi guncangan pasokan," ujar Shah, dikutip dari Reuters.
Dengan kondisi tersebut, dolar AS memang berada dalam tekanan karena ekspektasi kenaikan suku bunga menurun. Namun, kekhawatiran terhadap harga minyak dan ketegangan Timur Tengah membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)



