Unit Penanganan Utang Tiongkok Ambruk, Skandal Besar di Balik Krisis Mulai Terbongkar 

erabaru.net
16 jam lalu
Cover Berita

 Krisis pasar properti Tiongkok terus berlanjut dan tekanan utang perusahaan belum juga mereda. Kini, perusahaan pengelola aset yang bertugas menangani utang bermasalah (bad debt) dan menjadi “penjinak bom” bagi sistem keuangan justru mulai kesulitan menyelamatkan dirinya sendiri. Pada akhir Juli, pengadilan di Anhui menyetujui rencana restrukturisasi Guohou Asset Management, dan di balik kasus itu terungkap sejumlah persoalan yang mengkhawatirkan.

EtIndonesia.com Majalah Inggris The Economist baru-baru ini mengungkap bahwa pada akhir Juli, pengadilan di Anhui menyetujui restrukturisasi Guohou Asset Management (selanjutnya disebut “Guohou”). 

Perusahaan yang pada awalnya didirikan untuk membeli dan menangani kredit bermasalah perbankan tersebut kini justru menjadi perusahaan pertama di Tiongkok yang harus “dijinakkan bomnya” oleh pihak lain. Yang lebih mengkhawatirkan, Guohou kemungkinan bukan kasus terakhir.

Perusahaan pengelola aset atau Asset Management Company (AMC) di Tiongkok mulai muncul pada 1999. Saat itu, empat AMC besar didirikan dengan tugas utama mengambil alih kredit bermasalah dari empat bank milik negara, kemudian melakukan restrukturisasi atau likuidasi secara bertahap.

Awalnya, “bank-bank utang bermasalah” tersebut seharusnya meninggalkan panggung setelah menyelesaikan tugasnya. Namun, mereka bukan hanya tidak menghilang, melainkan justru berkembang semakin besar. Pada 2018, total neraca keempat AMC besar tersebut telah mencapai sekitar 5 triliun yuan. Setelah itu, lebih dari 60 AMC daerah juga didirikan di berbagai wilayah Tiongkok.

Masalahnya, sebagian AMC secara bertahap menyimpang dari fungsi awalnya dalam menangani kredit bermasalah. Dengan memanfaatkan status sebagai perusahaan milik negara, mereka dapat meminjam uang dari bank dengan biaya yang relatif murah, kemudian menyalurkan kembali dana tersebut kepada perusahaan bermasalah dengan bunga yang lebih tinggi. Banyak penerimanya adalah pengembang properti.

Ketika pasar properti Tiongkok sedang booming, model bisnis ini tampak menguntungkan. Namun, setelah pasar properti Tiongkok mengalami pembekuan dan kemerosotan, risiko yang selama ini tersembunyi mulai bermunculan.

Yang lebih mengkhawatirkan, menurut laporan itu, AMC juga pernah membantu bank menyembunyikan kredit bermasalah. Kalangan akademisi memperkirakan bahwa hingga 2020, praktik semacam itu mungkin telah menutupi setidaknya separuh, atau bahkan lebih, dari kredit bermasalah di Tiongkok.

Guohou sendiri diketahui pernah menandatangani apa yang disebut “perjanjian laci” (drawer agreements) dengan bank. Sebelum bank melaporkan suatu kredit sebagai kredit bermasalah, Guohou terlebih dahulu membeli kredit tersebut. Setelah laporan dibuat, kredit itu kemudian dijual kembali kepada bank. Dengan cara tersebut, Guohou memperoleh biaya atau komisi.

Investigasi juga menemukan bahwa Guohou telah mengalami kerugian operasional selama beberapa tahun berturut-turut dan tidak mampu melunasi utang sekitar 13 miliar yuan.

Krisis ternyata tidak berhenti di situ. China Cinda Asset Management, salah satu AMC milik negara terbesar di Tiongkok, memperkirakan laba bersihnya pada paruh pertama tahun ini dapat anjlok sekitar 70%.

Data resmi memang menunjukkan bahwa kredit bermasalah dalam industri perbankan Tiongkok hanya sekitar 3,7 triliun yuan, atau sekitar 1,5% dari total aset. Secara kasat mata, angka tersebut terlihat tidak terlalu tinggi.

Namun, dengan krisis properti Tiongkok yang terus berlanjut dan harga rumah yang terus merosot, lebih banyak kredit bermasalah dan AMC yang berada dalam kesulitan kemungkinan akan muncul ke permukaan.

The Economist menilai AMC daerah yang berukuran lebih kecil juga berpotensi mengikuti jejak Guohou dan akhirnya menjadi tidak mampu membayar utangnya.

Di kawasan industri tua Tiongkok timur laut, misalnya, pernah ada sebuah AMC daerah yang memberikan pinjaman bermasalah kepada sebuah klub sepak bola. Pada 2020, perusahaan tersebut tiba-tiba dibubarkan.

Sementara itu, beberapa AMC daerah lainnya telah mengalami penurunan peringkat kredit dari lembaga pemeringkat domestik Tiongkok dan kini berada di ambang keruntuhan.

Menurut laporan tersebut, alasan Guohou dapat menjalani restrukturisasi alih-alih langsung dilikuidasi hanyalah karena masih ada investor yang tertarik terhadap lisensi AMC yang dimilikinya. Regulator Tiongkok sendiri telah menghentikan penerbitan lisensi baru untuk jenis perusahaan tersebut sejak tahun lalu.

Identitas calon investor tersebut hingga kini belum diumumkan.

Siapa pun mereka, keputusan untuk mengambil alih perusahaan dengan kondisi seperti ini kemungkinan membutuhkan keberanian dan kemampuan layaknya “ahli penjinak bom” sungguhan.

Sumber : NTDTV.com 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
HUT ke-81 RI: 3.786 Pendaki Padati Bawakaraeng, 31 Dievakuasi
• 14 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Pemprov DKI Imbau ASN dan Pekerja Swasta WFH 18 Agustus 2026
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gempa Dahsyat Kolombia Menyebabkan Kerugian Diperkirakan Tembus Rp133 Triliun
• 10 jam lalupantau.com
thumb
1.700 Orang Tertipu Lowongan Kerja di Eropa, Begini Modusnya
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Usman Hamid Nilai Aksi Demo Mahasiswa di Jakarta Hari Ini Merepresentasikan Kerisauan Masyarakat
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.