Jakarta: Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun 2027. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan di LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai pelibatan sektor swasta merupakan langkah penting mewujudkan hal tersebut.
"Jadi kalau kita mau tumbuh lebih tinggi harusnya memang kita menggunakan produktivitas sektor riil atau swasta dan belanja rumah tangga atau investasi instead of hanya dari government spending," ujar Riefky, dalam program Zona Bisnis yang tayang di Metro TV, Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia menerangkan, ketika pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh pada tahun 2027, maka sektor swasta, belanja rumah tangga, dan investasi harus ikut tumbuh. Peningkatan pendapatan ketiganya akan terefleksi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh).
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan di LPEM FEB UI, Teuku Riefky dalam program Zona Bisnis. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Riefky menjelaskan, jika sektor swasta tumbuh, maka pendapatan atau profit juga akan meningkat. Kondisi tersebut secara otomatis meningkatkan PPh.
"Saat profit meningkat harusnya dibarengi dengan peningkatan upah. Nah peningkatan upah ini kemudian akan meningkatkan konsumsi masyarakat, akan meningkatkan belanja rumah tangga," jelasnya.
Saat konsumsi masyarakat dan belanja rumah tangga meningkat, lanjut Riefky, PPN juga akan meningkat. Menurutnya, peningkatan PPN dan PPh harus jadi bagian dari realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Kalau realisasi PPN dan PPh bisa meningkat maka kemudian kita bisa pastikan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi ini sudah tumbuh secara lebih merata," terangnya.
Baca Juga :
Prabowo Pasang Target Ekonomi Indonesia Tumbuh 6% & Defisit 2,40% pada 2027"Nah ini yang perlu pemerintah lakukan adalah bagaimana mendorong agar sektor swasta ini bisa menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan formal," tuturnya.



