KUPANG, KOMPAS - Bantuan terus mengalir bagi korban gempa Flores di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sayangnya, distribusi bantuan menuju permukiman penduduk terkendala oleh material longsor yang menutup badan jalan. Ekskavator dan alat berat lainnya dibutuhkan untuk membersihkan material longsoran di Palue.
Pantauan Kompas hingga Selasa (18/8/2026) dini hari, material longsor belum juga disingkirkan. Material berupa pohon, tanah, kerikil, dan batu dengan diameter hingga empat meter. Titik longsor menuju lima desa yang paling terdampak itu berjumlah belasan.
"Untuk menyingkirkan titik longsor itu tidak bisa pakai tenaga manusia. Harus gunakan ekskavator yang dibawa dari luar," kata Nestor Langga, guru sekolah dasar yang menjadi pegiat kemanusiaan di daerah itu.
Ekskavator itu bisa diangkut menggunakan kapal dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka yang berada di Pulau Flores. Lamanya pelayaran dari Maumere ke Palue sekitar lima jam.
Sambil menunggu, warga mengangkut sebagian bantuan menggunakan sepeda motor dan selebihnya dengan jalan kaki. Kondisi medan yang menanjak tajam dari pantai ke arah gunung dengan elevasi hingga 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jarak terjauh sekitar 15 kilometer.
Banyak pengungsi tidak sanggup mengangkut bantuan itu terpaksa hidup dengan bahan makanan yang masih tersisa. "Di kampung paling ujung atas itu kebanyakan lansia dan janda. Mereka pasrah saja dengan keadaan," katanya.
Serial Artikel
Gempa Flores Mengguncang Nurani, Palue Memanggil Peduli
Tiga hari terisolasi pascagempa Flores, warga Palue mulai dijangkau bantuan. Pulau kecil itu masih menghadapi kerusakan, luka, dan keterbatasan akses.
Guncangan di tempat itu sangat terasa. Pulau itu berada dekat episentrum gempa. Tanah berayun ke kiri, ke kanan selama beberapa detik lalu bergerak naik turun dengan cepat. "Ayun lalu gergaji," ujar Nestor memberi gambaran. Kini warga berkumpul di luar rumah.
Mereka khawatir dengan gempa susulan yang terus meneror. Pada malam hari, warga tidur di tenda darurat yang mereka bangun sendiri. Ada balita, anak-anak, orang desa, dan lanjut usia.
Terkait kendala itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena berjanji akan segera mendatangkan alat berat ke Palue dalam waktu dekat demi kelancaran distribusi bantuan. Selasa ini merupakan hari keempat gempa Flores dengan magnitudo 7, 7 mengguncang daerah itu.
"Menteri Pekerjaan Umum melalui balai jalan dan dinas pekerjaan umum sedang mengusahakan pergerakan ekskavator masuk ke sana (Palue)," ucapnya. Pengangkutan akan menggunakan kapal negara milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan.
Di Palue terdapat 8 desa dengan pnduduk tercatat 10.728 jiwa. Gempa merusak pemancar sinyal serta pembangkit listrik. Akibatnya, komunikasi antardesa di Palue juga terputus. Satu orang tewas dan dua orang luka parah. Komunikasi ke luar pulau itu baru terbuka sehari setelah gempa.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, hingga Senin malam kemarin, jumlah korban tewas 68 orang dan ratusan orang terluka. Data tersebut masih terus diperbaharui mengingat masih banyak daerah yang terisolasi.
Gempa pada Sabtu (15/8/2026) diikuti peringatan dini tsunami. Peringatan dikeluarkan pada pukul 07.30 WIB atau 08.30 Wita. Peringatan dini tsunami berakhir setelah berlangsung selama 2 jam 31 menit 30 detik sejak gempa terjadi.
Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan informasi resmi BMKG dan arahan petugas di lapangan. Aktivitas kegempaan masih berlanjut setelah gempa utama. Gempa susulan terjadi ribuan kali.
Serial Artikel
Wartawan ”Kompas” ke Palue, Pulau Terdekat Episentrum Gempa
Pulau Palue di Kabupaten Sikka, NTT, berada di tengah laut Flores. Pulau ini terdampak gempa cukup parah dan hingga 17 Agustus 2026 siang masih terisolasi.





