Mengenal Vibecession, Kecemasan Ekonomi yang Dirasakan Gen Z-Edukasi Ekonomi

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Perekonomian mungkin terlihat baik-baik saja jika dilihat dari sejumlah indikator. Namun, bagi sebagian orang, kondisi tersebut belum tentu terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Harga kebutuhan yang masih terasa mahal, penghasilan yang seolah tidak cukup, hingga kekhawatiran soal pekerjaan dan masa depan membuat munculnya perasaan bahwa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan istilah vibecession.
 

Baca Juga :

Merdeka Finansial Sebelum Usia 30, Begini Caranya-Edukasi Ekonomi
Apa Itu Vibecession? Vibecession merupakan gabungan dari kata vibe dan recession. Sederhananya, istilah ini menggambarkan kondisi ketika data ekonomi terlihat aman, tetapi masyarakat justru merasa perekonomian sedang memburuk.

Misalnya, pemberitaan menunjukkan ekonomi tumbuh dan angka pengangguran menurun. Namun, ketika berbelanja ke supermarket, harga kebutuhan sehari-hari masih terasa mahal. Begitu pula ketika gaji mengalami kenaikan, tetapi peningkatan tersebut tetap terasa tidak cukup karena biaya hidup ikut meningkat.

Dengan kondisi seperti ini, persepsi masyarakat terhadap ekonomi bisa berbeda dengan gambaran yang ditunjukkan oleh data. Mengapa Gen Z Merasakan Vibecession? Bagi Gen Z, kondisi ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang terjadi secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga terus terpapar berbagai informasi melalui media sosial, termasuk berita negatif mengenai kondisi ekonomi, sulitnya mendapatkan pekerjaan, hingga mahalnya biaya hidup.

Paparan tersebut dapat membuat kekhawatiran semakin kuat. Akibatnya, seseorang bisa merasa cemas terhadap kondisi ekonomi meskipun secara data belum tentu sedang terjadi resesi.

Kecemasan tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan keuangan. Mulai dari lebih berhati-hati ketika mengeluarkan uang, menunda pembelian barang yang dianggap tidak penting, hingga terus memikirkan kondisi tabungan, pekerjaan, dan masa depan. Jangan Hanya Berpatokan pada Perasaan Meski perasaan terhadap kondisi ekonomi tetap penting, hal tersebut sebaiknya tidak menjadi satu-satunya patokan. Selain mengikuti perkembangan berita, penting juga untuk melihat kondisi keuangan pribadi dan memahami kemampuan masing-masing dalam mengelola pengeluaran.

Membuat anggaran dan berfokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan dapat membantu menghadapi kekhawatiran tersebut. Dengan begitu, seseorang tidak hanya ikut terbawa persepsi mengenai kondisi ekonomi, tetapi juga memiliki kendali terhadap keuangan pribadinya.
 

Baca Juga :

Mengenal Frugal Living dan Cara Menerapkannya-Edukasi Ekonomi


Nah, vibecession menunjukkan bahwa ekonomi bukan hanya soal angka dan data, tetapi juga tentang bagaimana kondisi tersebut dirasakan dan disikapi dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, ketika ekonomi terasa berat, penting untuk tetap memahami situasinya sekaligus mengatur keuangan sesuai kondisi masing-masing.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Demo Mahasiswa Hari Ini, Reynold Pastikan Anak Buahnya Tidak Membawa Senjata Api
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Harga Emas Naik Ditopang Pelemahan Dolar dan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Polling: Apakah Akun WhatsApp Kamu Pernah Terblokir?
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Ada Dua Hal Ancam Ambisi AI di Sektor Kesehatan, Apa Aja?
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Kapal Eks KRI Ki Hajar Dewantara Segera Dijual, Surat Presiden Sudah Diterima DPR
• 5 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.