Kinshasa/Addis Ababa (ANTARA) - Jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di Republik Demokratik (RD) Kongo telah melampaui 5.000 kasus, dengan lebih dari 2.320 kematian.
Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Afrika pada Senin (17/8) memperingatkan bahwa wabah itu berpotensi menjadi epidemi Ebola paling mematikan yang pernah tercatat di dunia kecuali jika laju penyebarannya segera dihentikan.
CDC Afrika dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa tiga bulan setelah wabah yang disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo ini diumumkan, perkembangannya telah "melampaui ekspektasi terburuk pihaknya.
Data CDC Afrika Per-Senin menyebutkan bahwa RD Kongo telah melaporkan lebih dari 5.000 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 2.320 kematian di enam provinsi, yaitu Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, Bas-Uele, dan Tshopo.
CDC Afrika menyatakan bahwa wabah ini telah menjadi wabah Ebola paling mematikan dalam sejarah RD Kongo dan wabah Ebola dengan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat, dengan rasio kematian kasus mendekati angka 50 persen.
"Saat ini, wabah itu merenggut satu nyawa setiap 30 menit. Jika laju penyebarannya tidak segera dihentikan, wabah ini berisiko menjadi wabah Ebola paling mematikan yang pernah tercatat di dunia," kata badan tersebut.
CDC Afrika juga menyoroti negara tetangga, Uganda, yang mengumumkan berakhirnya wabah Ebola Bundibugyo pada 28 Juli, menyatakan bahwa pengalaman Uganda menunjukkan bahwa virus itu dapat dikendalikan jika langkah-langkah kesehatan masyarakat yang terbukti efektif diimplementasikan secara cepat dan menyeluruh dengan melibatkan masyarakat sebagai pusat dari upaya penanggulangan.
RD Kongo mengumumkan wabah Ebola saat ini pada 15 Mei.
Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Afrika pada Senin (17/8) memperingatkan bahwa wabah itu berpotensi menjadi epidemi Ebola paling mematikan yang pernah tercatat di dunia kecuali jika laju penyebarannya segera dihentikan.
CDC Afrika dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa tiga bulan setelah wabah yang disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo ini diumumkan, perkembangannya telah "melampaui ekspektasi terburuk pihaknya.
Data CDC Afrika Per-Senin menyebutkan bahwa RD Kongo telah melaporkan lebih dari 5.000 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 2.320 kematian di enam provinsi, yaitu Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, Bas-Uele, dan Tshopo.
CDC Afrika menyatakan bahwa wabah ini telah menjadi wabah Ebola paling mematikan dalam sejarah RD Kongo dan wabah Ebola dengan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat, dengan rasio kematian kasus mendekati angka 50 persen.
"Saat ini, wabah itu merenggut satu nyawa setiap 30 menit. Jika laju penyebarannya tidak segera dihentikan, wabah ini berisiko menjadi wabah Ebola paling mematikan yang pernah tercatat di dunia," kata badan tersebut.
CDC Afrika juga menyoroti negara tetangga, Uganda, yang mengumumkan berakhirnya wabah Ebola Bundibugyo pada 28 Juli, menyatakan bahwa pengalaman Uganda menunjukkan bahwa virus itu dapat dikendalikan jika langkah-langkah kesehatan masyarakat yang terbukti efektif diimplementasikan secara cepat dan menyeluruh dengan melibatkan masyarakat sebagai pusat dari upaya penanggulangan.
RD Kongo mengumumkan wabah Ebola saat ini pada 15 Mei.





