Cara NUS Business School Atur Penggunaan AI Mahasiswa: Boleh Pakai, tapi Ada Batasnya

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah masuk ke berbagai lini kehidupan salah satunya pendidikan. AI membantu mahasiswa mengerjakan tugas hingga penelitian. 
 
Meski begitu, penggunaan AI di kalangan mahasiswa mesti memiliki regulasi ketat. Hal ini penting agar mahasiswa menggunakan AI sebagai teman belajar bukannya menggantikan proses belajar. 
 
National University of Singapore (NUS) Business School misalnya, telah mengizinkan mahasiswa menggunakan AI. Keterampilan AI di tengah pesatnya teknologi dapat mempersiapkan mahasiswa untuk masuk ke dunia kerja. 

Belum lama ini, NUS menjalin kerja sama dengan OpenAI untuk menyediakan akses OpenAI bagi mahasiswa dan staf pengajar. 
 
"Kami juga berupaya mengubah kurikulum agar AI terintegrasi dalam pendidikan, dengan konsep "AI plus X" untuk berbagai bidang studi: bagaimana AI digunakan dalam bidang tertentu, bagaimana AI mentransformasi bidang tersebut, dan bagaimana AI dapat bersinergi dengannya," kata Assistans Dean (Digital Operations) NUS Business School, Tan Hong Ming, dalam diskusi bersama media di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.
 
Dia menuturkan setiap jurusan di NUS Business School harus menerapkan konsep, misalnya AI plus Keuangan, AI plus Fisika, dan sebagainya. Artinya, mata kuliah inti harus mempertimbangkan bagaimana AI mengubah bidang studi tersebut dan bagaimana mahasiswa dapat menggunakan AI dalam bidang mereka masing-masing.
 
Pihaknya juga memiliki beberapa tingkatan integrasi AI, mulai dari 25 persen sampai 50 persen. Namun, ada dorongan kuat dari universitas agar setidaknya mata kuliah inti memiliki unsur AI di dalamnya.  Fundamental lebih dulu, AI kemudian Meski diizinkan menggunakan AI, Tan mengungkapkan mahasiswa memahami bila mereka hanya menyerahkan semuanya kepada AI, maka tidak akan belajar apa pun. Karena itu, sebagian dari mahasiswa justru mencoba mengerjakannya sendiri. 
 
"Kami juga tetap mengadakan ujian atau penilaian di mana AI tidak boleh digunakan, sehingga mereka tetap harus belajar untuk bisa lulus ujian. Hal ini mendorong mereka untuk tetap belajar dengan sungguh-sungguh," tutur dia.
 
Selain itu, porsi tugas rumah (PR) lebih menekankan pada presentasi tatap muka serta penilaian yang diawasi langsung. Karena itu, mahasiswa memahami bila mereka hanya mengandalkan AI untuk mengerjakan tugas, mereka tidak akan belajar apa pun dan tidak akan berhasil di ujian. 
 
Pihaknya juga menguji kemampuan mahasiswa dalam menggunakan AI. Penilaian dirancang untuk menguji kemampuan mahasiswa mensintesis jawaban dari AI dengan cara melihat prompt yang digunakan dan cara berpikir mereka. 
 
"Karena saat ini sangat penting untuk melatih proses berpikir mereka. Jadi, setidaknya di tingkat pendidikan tinggi, mahasiswa sebenarnya memahami bahwa jika mereka hanya menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan, mereka tidak akan belajar apa pun. Mereka memahami AI diajarkan dan dipelajari untuk membantu menyajikan jawaban, bukan untuk menggantikan proses belajar itu sendiri," tegas dia. 
 
Pendekatan penilaian terhadap mahasiswa juga harus berubah seiring hadirnya AI. Mahasiswa kini lebih difokuskan pada ujian dan presentasi di dalam kelas, sehingga tidak terlalu banyak tugas yang dibawa pulang. 
 

Baca Juga :

AI Bakal Ubah Banyak Profesi, Ini Tips Buat Mahasiswa Baru Siapkan Kompetensi
NUS Business School juga mengadakan ujian untuk menguji sejauh mana mahasiswa memahami AI dan cara menggunakannya, sehingga mereka bisa membuat prompt mereka sendiri.
 
Untuk tingkat yang lebih junior, seperti sekolah dasar atau menengah, Tan mencontohkan penggunaan kalkulator atau komputer. Siswa lebih dulu diajarkan dasar-dasar terlebih dahulu tanpa kalkulator. 
 
"Ada tingkat fundamental tertentu di mana tidak ada alat bantu yang diperbolehkan, agar fondasi dasar bisa terbentuk dengan baik," beber Tan.
 
Begitu pula, kata dia, AI hanyalah alat lain, namun alat ini jauh lebih canggih dan lebih terhubung. Karena itu, diperkenalkannya jauh lebih belakangan. 
 
Dia berpendapat AI seharusnya tidak diperkenalkan di tingkat sekolah menengah tetapi baru di tingkat universitas, karena kekuatan AI yang begitu besar. "Jika diperkenalkan terlalu dini, siswa tidak akan belajar apa pun," ujar dia.
 
Di tingkat sekolah dasar dan menengah, siswa tetap diajarkan matematika sebagai fondasi, sambil juga diizinkan penggunaan kalkulator atau komputer. 
 
"Itulah pendekatan yang diambil di Singapura. Siswa diajarkan dasar-dasarnya terlebih dahulu, baru kemudian AI diperkenalkan dalam kehidupan nyata, misalnya di tingkat universitas," tutur dia.  AI berbiaya mahal Meski begitu, dia mengakui biaya penerapan AI sangat mahal. Untuk sekolah seperti NUS yang memiliki lebih dari 30 ribu mahasiswa harus benar-benar memikirkan anggaran AI.
 
Tan mengungkapkan ketika Fakultas Ilmu Komputer meluncurkan akses AI untuk mahasiswa, ada kelompok mahasiswa yang menghabiskan biaya sekitar SGD1.000 dolar per hari, per mahasiswa. 
 
"Bayangkan, hanya dalam 6 hari, biaya tersebut sudah setara dengan biaya kuliah semester. Karena itu, kami sangat berhati-hati dalam menyusun anggaran dan memperhitungkan biaya token," tutur dia. 
 
Pihaknya juga tidak memaksakan penggunaan AI ke semua hal sehingga sangat selektif dan strategis. NUS melibatkan para pakar di masing-masing bidang untuk memikirkan cara penerapannya, bukan sekadar memaksakannya. 
 
Persoalan lainnya, bila hanya menggunakan prompt sederhana, sebagian besar akan mendapatkan jawaban yang sedikit berbeda-beda. Padahal, secara garis besar sebenarnya sama saja karena hanya menggunakan prompt dasar. 
 
"Karena itu, kami perlu meninjau kurikulum secara cermat untuk memastikan kami tidak hanya menyampaikan hal yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Itu juga menjadi perhatian kami," ujar Tan.
 
Di NUS, juga ada cukup banyak mahasiswa yang justru tidak benar-benar belajar, sehingga penggunaan AI harus benar-benar dievaluasi. 
 
"Karena itu, para pengajar terus-menerus memikirkan bagaimana cara mengukur pembelajaran mahasiswa, bahkan ketika mereka bisa menggunakan AI," ujar Tan. 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Heboh King Nassar Dikabarkan Bakal Nikahi Ipar Syahrini
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Kapolri Bareng Titiek Soeharto Tinjau Lokasi Pengungsian Korban Gempa di NTT
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Pramono tegaskan PJJ dan WFH di Jakarta ikuti arahan Pemerintah Pusat
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Menlu RI hingga UEA Kutuk Penolakan Israel Terkait Rencana Trump untuk Palestina
• 59 menit lalukumparan.com
thumb
Kapolri dan Ketua Komisi IV DPR Tinjau Korban Gempa NTT, Bawa 247 Ton Bantuan
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.