JAKARTA, KOMPAS — Demonstrasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di dekat kawasan Bundaran Hotel Indonesia atau HI, sudah usai. Meski demikian, mereka memastikan aksi turun ke jalan akan terus berlanjut sebagai bentuk desakan kepada pemerintah yang dinilai abai terhadap perbaikan dan keadilan publik.
Rombongan mahasiswa mulai berdatangan ke arah Bundaran HI sejak Selasa siang. Namun, perjalanan mereka terhenti karena dihadang aparat gabungan TNI-Polri. Demonstran yang dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan sejumlah kampus lainnya itu, terpaksa menyuarakan pendapatnya di depan Plaza UOB yang terletak sekitar 500 meter dari Bundaran HI.
Seorang mahasiswa sempat pingsan saat berunjuk rasa. Selain itu, dua orang ditangkap karena membawa senjata tajam dan tengah diperiksa. Unjuk rasa berlangsung damai hingga mahasiswa membubarkan diri pada 18.10 WIB.
Ketua BEM Fakultas Hukum UI Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menyampaikan, rencana untuk terus menggelar demonstrasi dengan massa yang lebih besar bukanlah sebuah tantangan, melainkan sebuah keniscayaan. Langkah tersebut diambil lantaran pemerintah dinilai tidak pernah melakukan perubahan maupun evaluasi konkret terhadap berbagai persoalan bangsa.
Ia mencontohkan sejumlah kasus, mulai dari impunitas berupa sekadar teguran bagi pelaku pembunuhan ojek daring Affan Kurniawan, keengganan pemerintah menghapus anggaran dan mengevaluasi program MBG yang meracuni siswa, hingga dugaan korupsi di dalam struktur program tersebut.
”Hari kapan pun itu bisa menjadi hari di mana kita turun aksi, karena pemerintah tidak pernah melakukan perbaikan, tidak pernah mendengarkan, dan hanya peduli pada kekuasaan,” kata Dimas.
Hari kapan pun itu bisa menjadi hari di mana kita turun aksi, karena pemerintah tidak pernah melakukan perbaikan, tidak pernah mendengarkan, dan hanya peduli pada kekuasaan.
Menurut Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra, gerakan mahasiswa ini bukan lagi sebatas gerakan eksklusif kelompok akademisi, melainkan gerakan milik seluruh rakyat. Ia pun menyinggung bahwa aksi di dekat Bundaran HI ini baru awal dari perjuangan.
Mahasiswa secara terbuka mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk buruh, petani, guru, pedagang, hingga sopir angkutan umum, untuk tidak takut mengorbankan sedikit rasa nyaman untuk ikut turun ke jalan dan memperjuangkan hak-hak mereka ke depannya.
Mahasiswa berjanji perjuangan mereka akan selalu ada dan siap melawan siapa pun yang tidak berpihak pada rakyat.
”Ini bukan krisis ekonomi, ini krisis kedaulatan. Republik yang dijanjikan berdaulat, adil, dan makmur, kini justru direduksi jadi slogan tahunan tanpa substansi,” tuturnya.
Berangkat dari hal itu, mahasiswa mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan delapan tuntutan rakyat yakni menghentikan penjajahan negara terhadap rakyatnya sendiri, serta pemberantasan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Mahasiswa juga menuntut perwujudan reforma agraria sejati, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), hingga evaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN) sekaligus penghentian Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis.
Selain itu, mereka menuntut penghentian pemusatan kekuasaan, pemangkasan dana transfer ke daerah, serta pengembalian otonomi daerah. Mereka pun menuntut penetapan status bencana nasional terkait bencana Sumatera dan Flores serta percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana.
Tuntutan lainnya adalah penghentian represivitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta pembubaran Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, menyampaikan, aparat penegak hukum siap memfasilitasi setiap penyampaian aspirasi mahasiswa. Pihaknya telah menyiapkan sejumlah titik alternatif untuk penyampaian pendapat, seperti di Gedung DPR/MPR, Silang Monas Selatan untuk aksi yang menyasar Istana, serta area Parkir Senayan.
Namun, Budi menegaskan kawasan Bundaran HI tidak bisa dijadikan tempat untuk berunjuk rasa karena berisiko memicu kemacetan yang merembet hingga ke kawasan Semanggi dan Slipi.
”Bundaran HI itu merupakan center of gravity Indonesia. Pusat-pusat perbelanjaan, pusat perekonomian, ada moda transportasi, termasuk ada konsulat negara-negara asing. Ini akan melumpuhkan Jakarta apabila HI digunakan sebagai tempat pelaksanaan penyampaian aspirasi,” jelasnya.
Ia pun berharap mahasiswa dapat terus menjalankan demonstrasi seperti hari ini, di mana unjuk rasa berlangsung damai dan tertib. Benda-benda yang dilarang seperti senjata tajam pun diharapkan tidak dibawa saat berunjuk rasa.
Kali ini, petugas menemukan senjata tajam di lokasi demonstrasi. Pihaknya menyita sebilah pisau dari seorang oknum mahasiswa berinisial AM, serta sebuah golok yang ditemukan di sebelah kursi kemudi seorang sopir ambulans. Keduanya saat ini masih dalam proses pemeriksaan polisi.





