Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah merespons upayanya untuk kembali membuka komunikasi. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump memerintahkan Pentagon mengurangi latihan militer bersama AS dan Korea Selatan.
Ketika ditanya mengenai alasan Kim belum merespons upayanya untuk kembali menjalin komunikasi, Trump justru mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara tersebut sudah memberikan respons.
"Dia sudah," kata Trump, Senin (18/8/2026), dilansir Reuters. Namun, Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bentuk maupun isi respons Kim tersebut.
- Trump Emosi, Ancam Bom Negara Arab Kaya Ini Gegara Selat Hormuz-Iran
- Trump Kibarkan Perang Dagang ke Mitra Strategis AS, Tarif 50% Menanti
- Perang AS-Iran Makan Korban Baru: Mobil Jepang
Pejabat Gedung Putih maupun misi Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York belum segera memberikan tanggapan ketika dimintai komentar.
Hubungan Trump dan Kim mendapat perhatian lebih kecil dari Gedung Putih dibandingkan masa jabatan pertama Trump. Saat itu, kedua pemimpin bertemu dalam sejumlah pertemuan tingkat tinggi dan saling bertukar surat.
Meski demikian, Trump berulang kali menunjukkan ketertarikannya untuk menghidupkan kembali diplomasi langsung dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
Pernyataan terbaru Trump muncul sehari setelah ia memerintahkan Pentagon untuk "secara substansial mengurangi" latihan militer bersama Korea Selatan. Trump menyebut biaya latihan sebagai salah satu alasannya, selain keputusan Seoul yang tidak bersedia ikut dalam tindakan terhadap Iran.
Korea Utara selama ini mengecam latihan militer gabungan AS-Korea Selatan sebagai persiapan untuk perang.
Pada Minggu, Trump juga menyebut Korea Utara sebagai negara yang "tidak mengancam dan penuh rasa hormat".
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan latihan militer tersebut "tidak hanya mahal ... tetapi mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada negara yang, selama Donald J. Trump menjadi presiden, tidak mengancam dan penuh rasa hormat."
Meski Korea Utara dinilai bersikap dingin terhadap pendekatan Trump dan posisi Kim kini jauh lebih kuat dibandingkan saat pertemuan terakhir kedua pemimpin, sejumlah analis menilai pertemuan baru antara Trump dan Kim masih mungkin terjadi.
Victor Cha, kepala program Korea di Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, mengatakan Korea Utara kemungkinan tidak akan langsung memberikan respons.
"Saya pikir mereka akan menunggu dan bersabar sebentar," kata Cha.
Menurut Cha, salah satu alasan Trump kembali mengangkat isu Korea Utara kemungkinan berkaitan dengan upayanya mengalihkan perhatian dari kesulitan yang dihadapinya dalam perang Iran. Namun, menurutnya, Trump juga jelas memiliki ketertarikan untuk kembali bertemu dengan Kim.
Andrew Yeo dari Brookings Institution di Washington menilai pertemuan baru dengan Trump juga dapat memberikan keuntungan bagi Kim.
"Sebagian orang mengatakan bahwa tidak ada alasan bagi Kim Jong Un untuk bertemu Trump karena sekarang dia memiliki Rusia dan China di kantongnya. Namun, di sisi lain, saya merasa dia tidak akan rugi apa pun dengan bertemu Trump karena dia memiliki Rusia dan China di kantongnya," kata Yeo.
Menurut Yeo, bagi Kim, pertemuan tersebut bukan semata-mata mengenai substansi diplomasi, tetapi juga reputasi. "Ini hanya masalah waktu dan kapan waktu yang paling optimal bagi Kim Jong Un," lanjut Yeo.
Sydney Seiler, mantan pejabat National Intelligence Officer AS untuk Korea Utara, mengatakan langkah terbaru Trump bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Ia mengingatkan bahwa pada 2018 Trump pernah menghentikan latihan militer besar Ulchi Freedom Guardian untuk mendorong dialog dengan Kim.
"Memang, saat itu hal tersebut tidak memberi kita banyak keuntungan, tetapi saya juga tidak berpikir kita kehilangan banyak hal saat itu," kata Seiler.
Hubungan Trump dan Kim memang menjadi salah satu tema utama pada masa jabatan pertama Trump.
Keduanya menggelar pertemuan tingkat tinggi pada 2018 dan 2019. Namun, perundingan kemudian terhenti karena perbedaan terkait persenjataan nuklir Korea Utara.
Pada tahun lalu, saudara perempuan Kim yang memiliki pengaruh besar, Kim Yo Jong, mengakui bahwa hubungan pribadi antara kakaknya dan Trump "tidak buruk".
Namun, ia memperingatkan bahwa apabila Washington bermaksud menggunakan hubungan pribadi tersebut sebagai jalan untuk mengakhiri program nuklir Pyongyang, upaya tersebut hanya akan menjadi bahan "ejekan".
Sejak pertemuan terakhir Trump dan Kim pada 2019, posisi Korea Utara juga telah berubah secara signifikan.
Pyongyang memperkuat hubungan dengan Rusia sembari mempertahankan hubungan erat dengan China. Pasukan Korea Utara bahkan telah bertempur bersama Rusia dalam invasinya ke Ukraina.
Pemerintah Ukraina pada pekan lalu mengatakan rudal buatan Korea Utara digunakan dalam serangan rudal balistik Rusia terhadap sebuah pabrik baja di Zaporizhzhia.
Pemerintahan Trump selama ini berulang kali mengkritik dukungan militer Korea Utara kepada Rusia dalam perang di Ukraina. Namun, Trump pada Senin justru kembali menekankan hubungan pribadinya dengan Kim.
"Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan penuh rasa hormat," kata Trump. "Saya memahaminya. Dia memahami saya," lanjutnya.
(luc/luc)




