Kiai Sepuh Tebuireng: Politik Uang Menjelang Muktamar Ke-35 NU Bukan Lagi Isu

jpnn.com
16 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Musta’in Syafi’ie menilai praktik politik uang menjelang Muktamar ke-35 NU bukan sekadar isu, tetapi merupakan kondisi faktual di lapangan.

Oleh karena itu, Kiai Musta’in menegaskan bahwa praktik kotor itu harus dilawan.

BACA JUGA: Menjelang Muktamar Ke-35 NU, Ustaz Taufik Suprapto dari Bekasi Puji Rekam Jejak Kiai Marsudi Syuhud

Pernyataan itu disampaikan Kiai Musta'in saat menjadi pembicara dalam acara Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertema “Setop Politik Transaksional di Muktamar NU” di Resto Trisnoku, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).

Untuk diketahui, dalam diskusi ini juga hadir tiga narasumber, yaitu Ketua PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma'arif, Direktur Parameter Indonesia Adi Prayitno, CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali dan Nono Suwarno (Wartawan senior) sebagai moderator.

BACA JUGA: Mewarisi Spirit Mbah Wahab, Muktamar NU di Tambakberas Harus Dijiwai Napas Peradaban

"Ini bukan isu lagi, tapi realita, ada yang ngaku,” terang Kiai Musta'in.

Dia tidak sepakat bahwa praktik politik uang itu dikatakan sebagai sekadar uang transportasi. Jika hal itu memang uang transportasi, seharusnya diserahkan oleh panitia secara terbuka.

BACA JUGA: Maju di Muktamar NU, Gus Rozin Keliling Daerah Menawarkan Konsep Poros Tengah

Kiai Musta'ian menegaskan bahwa uang yang mereka berikan disebut panjer atau uang muka yang dibayar sebelum muktamar dilaksanakan.

“Hal itu jelas-jelas sebuah kemungkaran,” tegasnya.

Menurutnya, istilah kemungkaran ada dua, yaitu nahi munkar dan taghyir munkar. “Bedanya, kalau nahi munkar, kemungkarannya belum terjadi.

Sedangkan taghyir munkar, kemungkarannya sudah terjadi. Ini sudah terjadi (politik uang), bukan isu lagi. Jadi, yang dilakukan taghyir munkar, " tegas Kiai Musta'in.

Ada tiga panduan dalam mengubah kemungkaran, yaitu biyadi (dengan tangan atau kekuasaan), bilisani (dengan lisan), biqalbi (dengan hati).

Menurut dia, pihak yang melakukan politik uang itu sebenarnya adalah orang-orang yang pintar, ahli agama, ahli fikih, dan menguasai berbagai keilmuan Islam. Maka, akan sulit mengingatkan mereka dengan lisan.

"Ulama-ulama fasik. Pikirane ketok apik (pikirannya kelihatan bagus), tapi hatinya buta," ungkap Kiai Musta'in.

Dia mengusulkan agar kemungkaran itu diubah dengan kekuasan, bukan dengan lisan. Yaitu, melalui berbagai perubahan yang diusulkan dalam Muktamar NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada 27-31 Agustus 2026 nanti.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
9 Gempa Bermagnitudo di Atas 4 Guncang Nagekeo NTT Pagi Ini
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Robot Superman Unitree Kalahkan Rekor Manusia, Lari Kencang & Loncat 2 Meter
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Pertamina Drilling Perkuat Ekspansi Regional, Perpanjang Kerja Sama dengan Timor GAP
• 23 jam laludisway.id
thumb
Pemerintah Dirikan RS Lapangan di Ruteng NTT untuk Warga Terdampak Gempa
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Hobi yang Cocok untuk Introvert
• 14 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.