Harga emas turun pada perdagangan Selasa (18/8/2026) seiring lonjakan imbal hasil obligasi atau Treasury yield ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
IDXChannel - Harga emas turun pada perdagangan Selasa (18/8/2026) seiring lonjakan imbal hasil obligasi atau Treasury yield ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Kenaikan harga energi akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut memperkuat kekhawatiran inflasi, sehingga menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Harga emas spot merosot 1,86 persen menjadi USD4.334,57 per troy ons.
“Kurva imbal hasil yang semakin curam menjadi hambatan bagi emas, sementara harga minyak yang menguat juga menjadi faktor di balik pelemahan hari ini,” kata Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, dikutip Reuters.
Meski mengalami koreksi, Grant tetap optimistis terhadap prospek emas. Menurut dia, harga emas masih memiliki ruang untuk kembali menguat, meski pasar kemungkinan perlu melewati periode konsolidasi sebelum minat beli kembali meningkat.
Biaya pinjaman jangka panjang di AS, Jepang, dan Jerman mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi tersebut menekan emas sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, sementara harga minyak mentah tetap berada di zona positif untuk sesi perdagangan ketiga berturut-turut.
Prospek tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran juga kembali menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump mengatakan Tehran kemungkinan tidak menerima persyaratan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, Iran menyatakan akan beralih ke postur militer yang “sepenuhnya ofensif” dan menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup hingga Washington memenuhi persyaratan dalam kesepakatan sementara.
Kenaikan harga energi memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi guna menekan inflasi.
Hal ini terjadi meski sejumlah data ekonomi AS terbaru menunjukkan pelemahan, termasuk penurunan lapangan kerja yang tidak terduga, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, serta lemahnya penjualan ritel pada Juli.
Pelaku pasar kini menantikan risalah pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (19/8) waktu setempat. Risalah tersebut dipantau untuk melihat petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya.
Sementara itu, analis Bank of America menilai pola pembelian investor saat ini lebih konsisten dengan harga emas di sekitar USD4.000 per troy ons dibandingkan USD5.000 per troy ons.
Menurut mereka, level USD5.000 per troy ons membutuhkan pertumbuhan permintaan investasi sebesar 21 persen secara tahunan.
“Karena itu, pembelian oleh investor kemungkinan perlu meningkat lebih cepat agar emas dapat bergerak menuju USD5.000 per ounce,” tulis analis Bank of America dalam catatannya. (Aldo Fernando)





