Jok motor bawaan pabrik tidak selalu menawarkan kenyamanan yang sama. Beberapa dibekali jok yang nyaman, sementara yang lainnya masih perlu mendapat sentuhan modifikasi, terutama bagi pengendara yang sering melakukan perjalanan jauh.
Zain, pemilik usaha modifikasi jok motor, mengatakan salah satu keluhan yang kerap disampaikan konsumen berkaitan dengan ukuran dan karakter jok bawaan. Ada jok yang terlalu tipis, sempit, dan permukaannya licin sehingga posisi duduk mudah bergeser.
“Keluhannya jok terlalu tipis, jok terlalu kecil, terus dari segi kulit gampang merosot, nggak keset,” kata Zain saat ditemui di Pondok Ranggon, Jakarta Timur.
Menurutnya, karakter busa bawaan juga berbeda-beda. Ia menyebut sejumlah motor memiliki busa jok yang cenderung lebih keras. Sementara itu, beberapa model, dari Yamaha misalnya, dinilai sudah memiliki jok yang cukup nyaman tanpa perlu banyak modifikasi.
Selain material busa, ukuran lebar jok juga menjadi faktor penting. Zain menuturkan jok yang lebih lebar dapat menopang bagian paha dengan lebih baik sehingga posisi duduk terasa lebih nyaman.
Ia bilang, hal tersebut menjadi alasan bagian jok kerap dilebarkan ketika konsumen meminta penggunaan busa. Jika hanya mengganti material tanpa memperbesar bidang duduk, kenyamanan yang dihasilkan tidak akan maksimal.
“Kalau busanya lebar itu sebenarnya enak. Paha kita sudah ketopang semua, otomatis sudah nyaman. Misal ganti latex, pasti busanya saya lebarin dulu karena motor kecil pakai latex, terus ditumpuk lagi pakai busa, jadinya sama-sama kecil. Itu sebenarnya kurang nyaman,” jelas pria yang menekuni usaha modifikasi jok motor sejak 2011 itu.
Untuk jok motor berukuran kecil, seperti Honda Beat dan Mio Smile Zain menyebut lebar jok sekitar 28 cm sudah cukup maksimal untuk mengejar kenyamanan. Ukuran yang lebih lebar memang dapat membuat posisi duduk semakin nyaman, tapi tampilan motor bisa menjadi kurang proporsional.
Sesuaikan dengan Postur TubuhAdapun, tinggi dan berat pengendara juga perlu diperhitungkan saat melakukan modifikasi. Menurut Zain, penyesuaian tersebut penting agar posisi berkendara tetap nyaman sekaligus tidak membuat jok terlalu tinggi.
“Penting banget buat kenyamanan berkendara. Kalau tinggi badan kita standar, di bawah 165 cm, untuk modifikasi harus disesuaikan tinggi badan supaya posisi berkendaranya pas. Biar nggak kesulitan pas berhenti di lampu merah,” kata dia.
Tak hanya tinggi badan, berat pengendara juga menjadi pertimbangan dalam menentukan material jok. Zain menyarankan pengendara dengan berat di atas 80 kilogram untuk menggunakan busa yang lebih padat dibandingkan latex.
“Berat badan yang di atas 80 kilogram kurang cocok pakai latex, lebih cocok ditumpuk pakai busa ori. Apalagi kalau sudah berat dan tinggi, langsung ambles pakai latex,” ucap Zain.
Ia mengatakan tantangan muncul ketika konsumen bertubuh pendek menginginkan jok yang sangat empuk. Sebab, sebagian busa harus dipangkas untuk menyesuaikan ketinggian jok sehingga tingkat keempukannya akan berkurang.
Untuk motor matik, terdapat solusi dengan memangkas bagian fiber alias pelat dasar jok. Cara ini membuat ketinggian jok bisa dikurangi tanpa harus mengorbankan terlalu banyak material busa.





