Penggunaan waktu di depan layar atau screen time pada anak dan remaja tidak selalu berdampak buruk terhadap kemampuan kognitif. Manfaat dapat diperoleh jika konten yang dikonsumsi mendorong pemikiran aktif, pemecahan masalah, kreativitas, dan pembelajaran. Namun, penggunaan layar tetap perlu diimbangi dengan aktivitas fisik.
Studi University of Jyväskylä (JYU), Finlandia, yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatric Exercise Science edisi cetak 3 Agustus 2026 menemukan hubungan antara penggunaan layar dan kinerja kognitif. Anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar selama masa pertumbuhan cenderung menunjukkan kemampuan pemrosesan kognitif yang lebih baik ketika remaja. Namun, manfaat tersebut bergantung pada jenis aktivitas di depan layar dan tetap perlu disertai aktivitas fisik yang memadai.
Temuan ini menunjukkan, waktu di depan layar dapat mendukung kemampuan kognitif anak dan remaja, bergantung pada jenis aktivitas yang dilakukan. ”Hal terpenting adalah jenis aktivitas yang mereka lakukan selama menatap layar. Guru dan orangtua harus mendorong anak menggunakan perangkat dan layar untuk merangsang pemikiran aktif, pemecahan masalah, kreativitas, dan pembelajaran,” ujar Petri Jalanko, peneliti doktoral dari University of Jyväskylä.
Temuan tersebut merupakan hasil tindak lanjut selama delapan tahun dalam studi Physical Activity and Nutrition in Children (PANIC). Analisis melibatkan 260 remaja, terdiri dari 124 perempuan dan 136 laki-laki, dengan usia rata-rata 15,8 tahun.
Yang perlu dicari adalah keseimbangan antara aktivitas fisik dan waktu di depan layar yang mendorong pemikiran aktif.
Aktivitas fisik dan perilaku sendentari diukur melalui kuesioner serta perangkat yang merekam detak jantung dan gerakan. Sementara kemampuan belajar, perhatian, dan memori kerja dinilai menggunakan rangkaian tes CogState.
Menurut Jalanko, aktivitas digital yang melibatkan pembelajaran, kreativitas, pemecahan masalah, dan keterlibatan mental aktif lainnya berpotensi memberikan dampak positif. Karena itu, waktu di depan layar tidak semestinya semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya.
”Yang perlu dicari adalah keseimbangan antara aktivitas fisik dan waktu di depan layar yang mendorong pemikiran aktif,” kata Jalanko.
Jalanko mengingatkan, penggunaan layar juga dapat membuat anak dan remaja kurang aktif bergerak. Rendahnya aktivitas fisik di kalangan remaja pun berpotensi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.
Perilaku sendentari selama ini dikaitkan dengan prestasi akademik yang lebih rendah, sedangkan aktivitas fisik diketahui mendukung fungsi otak, terutama pada orang dewasa. Hal ini penting diperhatikan karena masa anak-anak dan remaja merupakan periode penting perkembangan otak.
Kemampuan kognitif yang terbentuk pada periode tersebut dapat berdampak hingga dewasa, termasuk terhadap pendidikan dan kehidupan kerja.
Menurut Jalanko, hubungan antara aktivitas fisik dan perilaku sendentari sejak masa kanak-kanak dengan kemampuan kognitif saat remaja masih belum banyak diketahui. Karena itu, para peneliti mengkaji hubungan aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan waktu penggunaan layar sejak masa kanak-kanak hingga remaja dengan pemrosesan kognitif. Mereka juga menelusuri perbedaan berdasarkan jenis kelamin serta intensitas aktivitas fisik.
Pada anak perempuan, peningkatan aktivitas fisik berintensitas ringan sejak masa kanak-kanak dikaitkan dengan memori kerja yang lebih baik saat remaja. Sementara pada anak laki-laki, hubungan serupa ditemukan pada mereka yang semakin aktif mengikuti aktivitas fisik terarah sejak masa kanak-kanak hingga remaja.
Temuan lain menunjukkan pola yang tidak terduga. Remaja yang melaporkan tingkat aktivitas fisik tanpa pengawasan lebih rendah justru menunjukkan pemrosesan kognitif yang lebih baik.
Sementara itu, aktivitas fisik dan waktu sendentari yang diukur dengan perangkat pemantau detak jantung dan gerakan tidak menunjukkan hubungan dengan pemrosesan kognitif. Salah satu kemungkinan penyebabnya, perangkat tersebut hanya merekam gerakan dan aktivitas fisiologis, tetapi tidak dapat mengidentifikasi secara spesifik kegiatan yang dilakukan seseorang saat aktif ataupun tidak aktif.
”Studi kami menunjukkan, hubungan aktivitas fisik dan perilaku sendentari dengan pemrosesan kognitif cukup kompleks. Hubungan tersebut dipengaruhi jenis kelamin serta jenis dan metode pengukuran aktivitas fisik ataupun perilaku sendentari. Anak laki-laki dan perempuan juga mungkin memperoleh manfaat berbeda dari aktivitas fisik terhadap kesehatan otak,” ujar Jalanko.
Para peneliti menegaskan, temuan tersebut hanya menunjukkan hubungan atau korelasi, bukan membuktikan bahwa waktu di depan layar ataupun jenis aktivitas fisik tertentu secara langsung menyebabkan perubahan kinerja kognitif.
”Kita membutuhkan lebih banyak studi intervensi untuk mengetahui hubungan sebab-akibat dan perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Pengaruh intensitas aktivitas fisik terhadap perubahan pemrosesan kognitif juga perlu diteliti lebih spesifik,” kata Jalanko.
Melarang anak sepenuhnya menggunakan layar juga dinilai bukan pilihan yang tepat. Hal itu disampaikan Molly Cairncross dari Simon Fraser University, Kanada, berdasarkan penelitian yang dilakukannya bersama Noah Silverberg dari University of British Columbia (UBC).
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics pada 2022, para peneliti dari sejumlah universitas di Kanada melibatkan lebih dari 700 anak berusia 8-16 tahun yang mengalami gegar otak atau cedera ortopedi, seperti keseleo pergelangan kaki dan patah lengan. Mereka sebelumnya mendapat perawatan di salah satu dari lima unit gawat darurat di Kanada.
Peneliti kemudian mengkaji hubungan antara waktu penggunaan layar yang dilaporkan anak pada 7-10 hari pertama setelah cedera dan gejala yang dilaporkan anak serta pengasuhnya selama enam bulan berikutnya.
Penelitian tersebut melibatkan anak dengan cedera ortopedi sebagai kelompok pembanding untuk melihat pemulihan anak yang mengalami gegar otak. Secara umum, kelompok gegar otak mengalami gejala yang lebih berat dibandingkan dengan kelompok cedera ortopedi. Namun, pada kelompok gegar otak, pemulihan lebih lambat tidak hanya terjadi pada anak dengan waktu layar tinggi, tetapi juga pada mereka yang sangat minim menggunakan layar.
”Anak-anak menggunakan ponsel pintar dan komputer untuk tetap terhubung dengan teman sebaya. Menghilangkan penggunaan layar sepenuhnya dapat membuat mereka merasa terputus, kesepian, dan kehilangan dukungan sosial. Kondisi ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan memperlambat pemulihan,” ujar Cairncross.
Meski penelitian menemukan adanya pengaruh screen time terhadap kecepatan pemulihan, pengaruhnya relatif kecil dibandingkan faktor lain, seperti jenis kelamin, usia, pola tidur, aktivitas fisik, dan gejala yang telah dialami sebelumnya. Karena itu, melarang penggunaan ponsel pintar sepenuhnya tidak dianjurkan. Pada anak dengan gegar otak, tidur yang cukup dan aktivitas fisik ringan secara bertahap dinilai lebih membantu pemulihan tanpa harus meniadakan penggunaan gawai.
Temuan tersebut menunjukkan, pembatasan total waktu di depan layar belum tentu bermanfaat bagi anak dan remaja yang mengalami gegar otak. Para peneliti pun menyarankan penggunaan layar secara moderat, sebagaimana aktivitas lainnya.
”Jika gejalanya kembali muncul, waktu penggunaan layar dapat dibatasi,” kata Cairncross.





