Getaran gempa susulan masih terus dirasakan di sejumlah wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, termasuk di Kabupaten Manggarai. Meski dinilai mengkhawatirkan, kondisi itu tak sedikit pun menggoyahkan semangat para ibu dalam menyambut kelahiran buah hati mereka.
Agustina Pukan (34) berjalan semringah sambil menenteng popok bayi di salah satu lorong Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Selasa (18/8/2026) siang. Di sampingnya, saudara perempuannya menggendong bayi perempuan yang baru dilahirkan Agustina pada Minggu (16/8/2026).
Meski harus bersalin di tengah gempa, Agustina mengaku bersyukur karena anak ketiganya itu lahir dalam kondisi sehat. Kebahagiaannya bertambah tatkala pada Selasa pagi dokter menginformasikan bahwa ia dan bayinya sudah boleh pulang ke rumah mereka di Desa Leong, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.
Perjuangan Agustina melahirkan bayinya itu tidaklah mudah. Awalnya, Agustina yang dijadwalkan menjalani operasi sesar pada Sabtu (15/8/2026) siang itu sudah bersiap-siap sejak subuh. Saat itu, dia sudah berada di RSUD Ruteng. Mendekati pukul 06.00 Wita, perutnya mulas. Ia lalu pergi ke toilet untuk buang air besar.
Baru sebentar di dalam toilet, Agustina merasakan guncangan yang cukup kuat. Dari dalam toilet, ia mendengar suara orang-orang berlarian sembari berteriak bahwa sedang ada gempa. Saat itu, memang terjadi gempa dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pulau Flores.
”Saya cuma bisa diam, pasrah, karena sedang di lantai dua. Setelah gempa pertama selesai, saudara perempuan saya menggedor pintu toilet, mengajak saya bergegas keluar,” kata Agustina.
Setelah sampai di dekat tangga menuju lantai satu, Agustina yang dituntun oleh saudarinya itu kembali merasakan gempa. Langkah kedua orang itu pun terhenti tatkala menyaksikan plafon dan kaca-kaca pecah berjatuhan di depan mereka.
Seusai mematung selama beberapa saat, mereka dijemput oleh petugas rumah sakit dan dibawa keluar gedung. Sesampainya di luar, Agustina melihat tembok-tembok retak dan mengelupas serta kaca-kaca yang pecah. Ia juga melihat orang-orang panik dan ketakutan. Tak terasa badannya bergetar.
Agustina lalu diminta duduk di sebuah kursi di depan gedung farmasi bersama ibu-ibu hamil lainnya. Ia yang sedang berpuasa untuk persiapan operasi pun diminta makan dan minum karena kemungkinan operasinya bakal ditunda.
”Saya sempat khawatir dengan penundaan operasi karena kata dokter air ketuban saya sudah mulai berkurang. Tapi kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi, jadi saya bilang sama anak saya di dalam untuk sabar, bertahan sedikit lagi,” ucapnya.
Di tengah gempa susulan yang terus terjadi, Agustina dirawat di tenda-tenda darurat yang dibangun di halaman dan jalanan di depan RSUD Ruteng. Meski kondisinya tidak nyaman, setidaknya ia tidak lagi khawatir karena tidak berada di dalam gedung.
Pada Sabtu petang, petugas rumah sakit meminta Agustina berpindah ke dalam ruangan yang dinilai aman. Namun, Agustina dan keluarganya menolak karena masih trauma. Setelah diyakinkan bahwa kondisinya aman, akhirnya Agustina menurut.
Operasi lalu dijalani Agustina pada Minggu di sebuah ruangan yang sebelumnya merupakan gudang. Dari ruang operasi darurat itu, beberapa kali Agustina masih merasakan guncangan gempa. Namun, ketakutannya sirna. Rasa takut itu kalah dengan rasa tak sabar Agustina untuk segera bertemu dengan putri kecilnya.
Agustina yang sebelumnya telah melahirkan dua anak laki-laki itu mengaku senang karena akhirnya bisa punya anak perempuan. Sebelumnya, ia telah menyiapkan nama untuk bayi perempuannya itu. Namun, ia mempertimbangkan untuk memakai nama yang diusulkan keluarganya.
”Karena dia lahir di tengah gempa, ada usul dari saudara-saudara agar bayinya diberi nama Gempita,” ujar Agustina sambil terkekeh.
Jika Agustina sudah lega karena bayinya sudah lahir, Yustina Doko (27) masih berharap-harap cemas pada Selasa siang. Awalnya Yustina datang ke RSUD Ruteng pada Minggu siang dengan maksud ingin menjalani ultrasonografi (USG). Namun, ia diminta kembali pulang karena layanan USG belum bisa dilayani.
Pada Minggu petang, ketubannya pecah. Kontraksi juga beberapa kali terjadi. Oleh karena panik, keluarga pun membawa Yustina kembali ke RSUD Ruteng. Saat dicek, ternyata ia sudah mengalami pembukaan dua.
Yustina lalu dirawat di tenda darurat selama semalam. Di tempat itu, Yustina merasa lebih aman dari gempa. Hanya saja, ia tetap susah tidur karena kedinginan dan beberapa kali digigit nyamuk. Akibat kurang istirahat, tekanan darah Yustina disebut naik.
Karena dia lahir di tengah gempa, ada usul dari saudara-saudara agar bayinya diberi nama Gempita
Yustina pun ditawari untuk dirawat di ruangan bersama para ibu hamil dan ibu melahirkan lainnya. Meski sempat ragu, Yustina akhirnya setuju dipindahkan. Namun, di dalam ruangan Yustina juga mengaku tidak bisa beristirahat dengan tenang. Dia takut karena gempa susulan terus terjadi.
“Saya berharap, pembukaan bisa segera lengkap dan saya bisa segera bersalin. Saya ingin cepat pulang bersama bayi saya,” kata Yustina yang juga tengah menyambut anak ketiganya itu.
Yustina juga berharap, gempa susulan yang terjadi di Ruteng bisa segera berhenti sehingga ia dan warga lainnya tidak terus-terusan dihantui kekhawatiran. Ia juga ingin agar ke depan rumah sakit itu bisa kembali dibangun supaya bisa digunakan untuk melayani dan merawat pasien dengan ideal.
“Semoga bisa dibangun lagi menjadi bangunan yang lebih kuat. Kasihan kalau pasien harus dirawat di tenda-tenda, tidak nyaman,” ucapnya.
Saat gempa terjadi, RSUD Ruteng sedang merawat 150 pasien. Para tenaga kesehatan dan petugas rumah sakit lalu bergotong royong mengevakuasi satu per satu pasien keluar dari dalam gedung. Dalam upaya itu, ada dua petugas yang menderita luka karena jatuh terdorong.
“Satu petugas itu patah tulang, sudah ditangani dan sekarang sudah pulang. Lalu ada satu lagi cedera ringan, tapi sampai kemarin masih bekerja,” ujar Humas RSUD Ruteng, Yohana Raisita D Mari.
Sebenarnya, Yohana menyebut, para petugas juga panik saat gempa terjadi. Namun, mereka dituntut untuk tetap tenang dan bergerak cepat membantu pasien.
Sejumlah keputusan pun diambil dengan cepat, termasuk membangun tenda-tenda darurat untuk melayani dan merawat pasien karena rumah sakit rusak parah. Apalagi, gempa susulan masih terus terjadi dan dikhawatirkan membuat bangunan yang retak-retak menjadi roboh.
Hingga Selasa, ada 49 pasien yang dirawat di RSUD Ruteng. Meski sebagian besar pasien dirawat di tenda-tenda darurat, ada beberapa pasien dengan kondisi tertentu yang dirawat di dalam ruangan. Pasien-pasien yang dirawat di dalam ruangan itu misalnya pasien yang membutuhkan perawatan intensif, pasien bayi, ibu hamil dan ibu melahirkan.
Yohana menyebut, ruangan-ruangan yang digunakan untuk merawat sebagian pasien adalah ruangan yang dinilai aman karena tidak ada kerusakan maupun keretakan pada bangunan. Sebelumnya, ruangan-ruangan lama di gedung yang masih utuh itu digunakan untuk gudang.
Pihak rumah sakit juga berupaya membuat kamar operasi darurat. Kamar operasi itu dipakai untuk melayani pasien-pasien yang memerlukan tindakan segera, seperti operasi caesar. Sejak Minggu hingga Selasa, sebanyak 9 pasien telah dioperasi di ruang operasi darurat tersebut dan 8 pasien di antaranya menjalani operasi sesar.
Yohana berharap, ke depan, RSUD Ruteng bisa kembali dipugar dan diperbaiki secara menyeluruh atau bahkan dibangun ulang jika dinilai perlu.
Sembari menunggu perbaikan rumah sakit, pemerintah bakal mendirikan rumah sakit lapangan di Lapangan Golo Dukal yang berjarak sekitar 4 kilometer dari RSUD Ruteng. Oleh karena jaraknya yang cukup jauh, pihak RSUD Ruteng berharap ada bantuan tenaga kesehatan tambahan, baik dokter maupun perawat.
Penambahan tenaga kesehatan dinilai perlu supaya penanganan pasien di tenda darurat RSUD Ruteng maupun di RS lapangan bisa berjalan dengan baik. Selain itu, mereka juga berharap ada tambahan armada untuk mengangkut pasien maupun tenaga kesehatan yang bakal berpindah-pindah dari RSUD Ruteng ke RS lapangan dan sebaliknya.
“Kami masih akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait pelayanan pasien ke depan seperti apa. Saat ini, di RS lapangan baru ada tenda-tenda yang diperuntukkan sebagai kamar operasi, bagian kebidanan, rawat inap, ruangan untuk pasien yang membutuhkan observasi, dan ruangan penunjang,” ucap Yohana.
Pada Selasa siang, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengunjungi RSUD Ruteng. Ia mengaku sempat melihat ruangan-ruangan yang kondisinya hancur, termasuk kamar operasi. Pihak RS telah berupaya menyiapkan ruang operasi darurat, namun kondisinya dinilai masih kurang steril.
Usai melihat-lihat kondisi RSUD Ruteng dan berbincang dengan pasien, Budi meninjau RS lapangan di Golo Dukal. Menurut Budi, pembangunan RS lapangan itu bakal dikebut supaya bisa segera beroperasi.
Daya tampung pasien di RS lapangan itu diperkirakan sekitar 80-100 pasien. Namun, ada kemungkinan jumlah tenda yang dikirim akan ditambah supaya jumlah pasien yang tertampung bisa menyamai daya tampung di RSUD Ruteng yakni sekitar 200 pasien.
“Kita harapkan besok udah bisa beroperasi. Nanti kita tambah lagi kamar-kamarnya dan tempat-tempatnya supaya bisa masuk. Inginnya agar (RS lapangan) bisa segera beroperasi karena RSUD Ruteng itu rujukan dari puskesmas-puskesmas,” ujar Budi.





