Saham Properti Mendadak Melesat di Tengah Sentimen PFII hingga Suku Bunga, Intip Targetnya

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Saham-saham properti mendadak melesat perdagangan Rabu (19/8/2026).

Saham Properti Mendadak Melesat di Tengah Sentimen PFII hingga Suku Bunga, Intip Targetnya. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Saham-saham properti dan kawasan industri mendadak melesat perdagangan Rabu (19/8/2026).

Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melemah, indeks sektor properti melaju 1,68 persen, dengan KIJA, APLN, hingga BSDE mencatat lonjakan signifikan.

Baca Juga:
Saham BYAN Digoyang Rumor Akuisisi Haji Isam, HSC Bikin Harga Makin Liar

Penguatan tersebut ditopang rotasi sektoral ke saham-saham yang tertinggal, ekspektasi penurunan suku bunga, serta sentimen rencana pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.29 WIB, indeks sektor properti menguat 1,68 persen, berlawanan arah dengan IHSG yang melemah 0,16 persen ke 6.435.

Baca Juga:
PGEO Siapkan Pelaksanaan MESOP, Harga Exercise Mulai Rp648 per Saham

Penurunan indeks terjadi seiring jatuhnya saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang menjadi salah satu big cap.

Saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) melonjak 13,86 persen ke Rp189 per unit, disusul PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) yang mendaki 12,41 persen ke Rp154 per unit.

Baca Juga:
IRSX Rancang Rights Issue Jumbo 12,39 Miliar Saham, Tunggu Restu RUPSLB

Kemudian, saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) melambung 9,02 persen ke Rp665 per unit, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) terkerek 6,20 persen, PT Mega Manunggal Property Tbk (PWON) naik 6,20 persen.

Selanjutnya, saham PT Intiland Development Tbk (DILD) terapresiasi 5,17 persen, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) 4,58 persen, PT Sentul City Tbk (BKSL) 3,90 persen, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) 3,31 persen, dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) 3,12 persen.

Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta Utama, terdapat dua faktor yang menjadi katalis kenaikan saham properti.

Pertama, rotasi sektoral. Setelah sektor properti tertinggal cukup dalam, sebagian pelaku pasar mulai melakukan bottom fishing dan mencari sektor dengan valuasi yang sudah terdiskon.

Sebagai konteks, indeks IDX Properties & Real Estate masih tercatat turun sekitar 36,37 persen secara year to date (YTD) per pertengahan Juli 2026. Kondisi tersebut membuat valuasi sektor properti relatif lebih menarik dan membuka ruang bagi terjadinya rebound.

Katalis kedua berasal dari ekspektasi penurunan suku bunga yang dapat mendorong perbaikan daya beli dan aktivitas ekonomi.

“Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dan perbaikan daya beli/aktivitas ekonomi dapat kembali mengangkat interest terhadap properti karena sektor ini sangat sensitif terhadap biaya kredit, KPR, dan cost of fund,” tutur Nafan kepada IDXChannel.com, Rabu (19/8/2026).

Menanti PFII

Rencana pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi sektor properti.

Namun, dampaknya terhadap fundamental emiten properti diperkirakan masih terbatas selama rencana tersebut belum direalisasikan secara konkret.

BRI Danareksa Sekuritas menilai, Rabu (19/8), sentimen PFII dapat memberikan dorongan terhadap saham-saham properti, terutama emiten yang memiliki eksposur terhadap kawasan pengembangan dan potensi landbank yang relevan.

Sejumlah emiten properti besar seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), BSDE, PWON, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menjadi bagian dari emiten yang berpotensi mendapat perhatian pasar.

Sementara itu, PT Sentul City Tbk (BKSL) menjadi salah satu emiten yang menarik dicermati karena memiliki landbank sekitar 14.543 hektare.

Luas lahan tersebut dinilai memberikan potensi apabila pengembangan PFII nantinya turut mencakup kawasan yang dimiliki perseroan.

PFII sendiri diarahkan sebagai pusat yang dapat mengakomodasi berbagai aktivitas jasa keuangan global.

Pemerintah sebelumnya memperkirakan kawasan tersebut berpotensi menarik investasi global hingga Rp500 triliun.

Dari sisi lokasi, pemerintah masih melakukan pembahasan. PFII berpotensi terlebih dahulu beroperasi di Jakarta pada masa transisi, sebelum pengembangannya diperluas ke Jakarta dan Bali.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, meski PFII dapat menjadi sentimen positif bagi saham properti dalam jangka pendek, investor tetap perlu mencermati realisasi proyek dan dampaknya terhadap kinerja perusahaan.

Target Teknikal

Sementara itu, analis Trimegah Sekuritas Hans Adisastra menjelaskan kepada IDXChannel.com, Rabu (19/8), sejumlah saham properti masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan.

Untuk BSDE, target terdekat berada di level Rp730. Sementara itu, KIJA memiliki target di Rp192, disusul APLN di Rp167.

Kemudian, saham PT Sentul City Tbk (BKSL) memiliki target terdekat di Rp101, sementara PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) ditargetkan mencapai Rp143. Untuk PT Intiland Development Tbk (DILD), target terdekat berada di level Rp133. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aktivitas Gunung Ili Lewotolok di NTT Meningkat Pascagempa, Zona Bahaya Diperluas
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Keputihan di Trimester 1 Kehamilan, Mana yang Normal dan Kapan Harus ke Dokter?
• 2 jam lalutheasianparent.com
thumb
Terekam CCTV, 2 Pria Curi Motor di Indekos Uluwatu
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
ESDM Kejar Pemodal Penyelundupan Emas 22 Kg, Telusuri hingga Tambang Ilegal
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Clara Shinta Diduga Enggan Bagi Harta Gono Gini untuk sang Putra, Mantan Suami: Ini Bukan Buat Saya Ambil
• 4 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.