Lembata: Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), meningkat pascagempa bermagnitudo (M) 7,7 yang mengguncang pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Merespons hal tersebut, Badan Geologi memperluas radius rekomendasi bahaya di sektor selatan dan tenggara gunung api itu hingga tiga kilometer.
Peningkatan aktivitas ini ditandai dengan keluarnya aliran lava dari kawah menuju sektor selatan. Berdasarkan pemantauan visual pada Selasa, 18 Agustus 2026, aliran lava yang sebelumnya berada di kisaran 400 meter terus bergerak maju hingga radius 1.200 meter dari bibir kawah.
"Berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental, Gunung Ili Lewotolok menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, terutama aktivitas aliran lava," kata Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam laporannya di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca Juga :
BMKG: 2.768 Kali Gempa Susulan Guncang NTTSepanjang 18 Agustus hingga pukul 18.00 WITA, Badan Geologi merekam 113 kali gempa erupsi, 12 kali gempa embusan, 31 kali tremor nonharmonik, satu kali gempa hybrid atau fase banyak, tiga kali gempa vulkanik dangkal, dan tiga kali gempa tektonik jauh. Tremor menerus juga terekam dengan amplitudo dominan 16,6 milimeter.
Di samping aliran lava, petugas mengamati adanya lontaran material pijar sejauh 100 hingga 500 meter ke arah tenggara dan 100 hingga 400 meter ke arah selatan. Erupsi ini turut disertai suara gemuruh atau dentuman dengan intensitas lemah hingga kuat. Radius Bahaya Diperluas Menyikapi eskalasi aktivitas tersebut, Badan Geologi meminta masyarakat, pendaki, maupun wisatawan untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat kawah. Khusus untuk sektor selatan dan tenggara, jarak aman direkomendasikan meluas hingga tiga kilometer.
"Masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung dan 3 kilometer sektor selatan dan tenggara," tegas Lana.
Aktivitas Gunung Ili Lewotolok, di Lembata, NTT, Selasa, 26 Agustus 2025. (Magma Indonesia)
Lebih lanjut, masyarakat diminta terus mewaspadai potensi bahaya guguran, longsoran lava, serta awan panas di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut gunung. Warga di sekitar lingkar gunung juga diimbau memakai masker serta pelindung mata dan kulit guna meminimalkan risiko gangguan pernapasan atau masalah kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Lana berpesan agar warga tidak panik ketika mendengar suara dentuman dari arah kawah, mengingat hal tersebut merupakan wujud wajar dari aktivitas gunung api yang tengah bererupsi.
Sementara itu, data akumulatif Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan bahwa selama Selasa, 18 Agustus 2026, Gunung Ili Lewotolok mengalami 158 kali letusan dengan tinggi kolom abu berkisar 100 hingga 500 meter. Erupsi ini diikuti lontaran material pijar, suara gemuruh, dan pergerakan lava sejauh 1.200 meter ke arah selatan.




