Menanti Peta Jalan Penyelamatan Orangutan di Tengah Krisis Populasi dan Habitat

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Hutan alam habitat orangutan di Sumatera terus dibabat dengan laju 10.000 hektar per tahun. Populasi dua spesies yang hidup di Sumatera, orangutan sumatera dan orangutan tapanuli, pun terus menurun karena kerusakan habitat, perburuan, dan konflik. Di tengah tekanan itu, penyusunan dokumen strategi dan rencana aksi konservasi orangutan terkatung-katung selama satu dekade.

Hari Orangutan Sedunia pada Rabu (19/8/2026) diperingati di tengah kondisi tersebut dengan mengangkat tema, “Act for Orangutan: Their Forest Our Future”.

“Tema ini mengingatkan kita bahwa kepedulian saja enggak cukup. Kita harus ikut bertindak menyiapkan aksi untuk menyelamatkan orangutan,” kata Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatra Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) M Indra Kurnia.

Hasil ”Survei Populasi Orangutan Sumatra dan Orangutan Tapanuli di Sumatera Utara dan Aceh” yang dilakukan Kementerian Kehutanan menjadi refleksi sangat penting dalam memperingati Hari Orangutan. Survei pada 2021-2023 yang dipublikasikan pada 2026 itu melibatkan YOSL-OIC dan Yayasan Ekosistem Lestari-Program Konservasi Orangutan Sumatra (YEL-SOCP).

Survei itu menunjukkan, sedikitnya 130.030 hektar tutupan hutan di habitat orangutan di Sumatera lenyap dalam kurun 10 tahun. Populasi orangutan sumatra (Pongo abelii) saat ini diperkirakan 11.694 individu yang tersebar di delapan metapopulasi di Aceh dan Sumatera Utara. Populasi itu turun 15,5 persen dibandingkan hasil survei 2011-2013 yang masih mencapai 13.846 individu.

Baca JugaSelamatkan Rumah Terakhir Orangutan Tapanuli, Pokja Batang Toru Dibentuk

Populasi orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) bahkan hanya tersisa 716 individu. Mereka tersebar di tiga metapopulasi yang terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru, Sumut. Populasi tersebut turun 6,7 persen dibandingkan dengan hasil survei 2011-2013 yang masih mencapai 767 individu.

Faktor utama penyebab penurunan populasi adalah kehilangan tutupan hutan alam. Kehilangan 74 hektar habitat mengakibatkan hilangnya daya dukung bagi satu individu orangutan. Dengan laju kehilangan habitat 10.000 hektar per tahun, penurunan populasi orangutan di Sumatera diperkirakan mencapai 135 individu setiap tahun.

“Dengan tekanan populasi orangutan yang ada sekarang, penyelamatan tidak cukup lagi hanya dengan kampanye untuk peduli, kita harus bertindak nyata menyelamatkan hutan yang tersisa dan memulihkan hutan yang telah rusak,” kata Indra.

Salah satu yang mendesak untuk segera dilakukan adalah penyusunan peta jalan penyelamatan orangutan. Saat ini, nyaris tidak ada dokumen peta jalan konservasi orangutan secara nasional.

Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Indonesia 2007-2017 sudah berakhir dan tidak relevan lagi dengan tantangan yang sudah berubah.

Sementara itu, SRAK Orangutan 2019-2029 juga sudah dicabut hanya beberapa bulan setelah diluncurkan. Dalam catatan Kompas, SRAK yang disusun berdasarkan dokumen Penilaian Kelayakan Populasi dan Habitat (Population and Habitat Viability Assessment/PHVA) Orangutan 2016 itu dibatalkan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup saat itu, Siti Nurbaya Bakar, tanpa menjelaskan alasannya.

Indra mengatakan, lembaga konservasi orangutan melakukan aksi dengan beradaptasi pada kondisi yang ada sekarang. Dokumen terakhir seperti SRAK Orangutan 2007-2017 dan PHVA 2016 tidak serta merta bisa dijadikan landasan.

Dokumen itu, misalnya, belum memisahkan orangutan tapanuli sebagai spesies yang berbeda dari orangutan sumatera. Orangutan tapanuli dinyatakan sebagai spesies baru pada 2017.

Padahal, populasi orangutan tapanuli sudah di titik nadir mengingat populasinya hanya tersisa 716 individu yang tersebar di tiga habitat yang terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru.

Berdasarkan survei terakhir, kata Kepala Divisi Konservasi In Situ YEL-SOCP Julius Paolo Siregar, populasi orangutan tapanuli tersebar di tiga kantong populasi di Sumut yakni Batang Toru Barat sebanyak 514 individu, disusul Batang Toru Timur (159), dan Sitandiang Sibualbuali (43).

Dengan jumlah populasi yang sangat sedikit dan habitat yang terpisah-pisah, orangutan tapanuli juga menghadapi ancaman penurunan keragaman genetik akibat perkawinan sedarah atau inbreeding, khususnya pada dua metapopulasi yang jumlah individunya paling sedikit. Populasi-populasi tersebut terpisah oleh jalan nasional, sungai, serta jalan menuju Pembangkit Listrik Tenaga Air Batang Toru.

Kehilangan habitat juga terjadi di delapan metapopulasi orangutan sumatera di Aceh dan Sumut, yakni Leuser Barat, Leuser Timur, Trumon-Singkil, Lingga Isaq, Rawa Tripa, Batu Ardan, Sikulaping, dan Siranggas. Rawa Tripa di pesisir barat Aceh, misalnya, masih berupa hutan rawa gambut yang lebat pada 2013.

Namun, dalam survei terakhir, hampir seluruh tutupan hutannya telah dibabat dan berubah menjadi kebun sawit. Orangutan yang tersisa di habitat itu kurang lebih 46 individu dan enam di antaranya telah dievakuasi ke habitat lain yang lebih layak.

”Faktor utama penyebab penurunan populasi adalah kehilangan tutupan hutan alam,” kata Julius.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Andar Abdi Saragih mengatakan, hasil survei terakhir terkait orangutan menjadi landasan penting bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan penyelamatan orangutan dan habitatnya. SRAK Orangutan juga tengah disusun dan ditargetkan rampung tahun 2027.

”Upaya paling penting yang disiapkan pemerintah adalah mengusulkan 197.000 hektar areal preservasi di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Pakpak Bharat,” kata Andar.

Andar mengatakan, penetapan areal preservasi tidak mengubah status lahan sebagai APL atau hutan produksi. Namun, dengan status tersebut, fungsi kawasan sebagai hutan alam harus tetap dipertahankan.

Hari Orangutan Sedunia pun menjadi refleksi penting penyelamatan orangutan. Di tengah kondisi populasi yang terus menurun, habitat yang terus dibabat, dan perburuan yang masih terjadi, aksi nyata penyelamatan orangutan dinanti.

Baca JugaPeringati Hari Orangutan, Yayasan BOS Adakan Talkshow dan Pemutaran Film


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bedah Editorial MI: Melawan Keterbatasan
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
JPU ungkap 25 pihak diperkaya terkait kasus korupsi CPO POME
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Pertamina Dampingi Petani Boyolali Bangkit dan Lebih Sejahtera, Mengubah Kemarau Menjadi Harapan
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
DPR Finalisasi Rancangan Perpres Ojol Soal Tarif Barang, Makanan hingga Orang
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Jelang Muktamar, Ketua PWNU DKI Soroti Potensi Money Politics & Sedekah Politik
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.