Distribusi Bantuan ke Pulau Palue Terkendala Material Longsoran, Apa yang Harus Dilakukan?

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita
Apa yang dapat Anda peroleh dari artikel ini?

1. Bagaimana kondisi Pulau Palue setelah terdampak gempa Flores?

2. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk membantu warga Palue?

3. Selain Palue, bagaimana kondisi daerah lainnya yang terdampak gempa Flores?

4. Sejauh ini bagaimana gempa Flores ditangani oleh pemerintah?

Bagaimana kondisi Pulau Palue setelah terdampak gempa Flores?

Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu wilayah yang paling berat terdampak gempa Flores bermagnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Posisinya yang dekat dengan pusat gempa membuat guncangan sangat kuat. Palue bahkan sempat terisolasi selama beberapa hari karena listrik padam, jaringan telekomunikasi terputus, dan pelayaran menuju pulau dihentikan setelah peringatan dini tsunami.

Di Palue dilaporkan satu orang tewas, dua orang mengalami luka berat, serta ratusan rumah rusak. Dari delapan desa dengan total 10.728 penduduk, ribuan warga sempat belum memperoleh bantuan. Tim yang tiba di Desa Nitung juga menemukan akses menuju permukiman rusak berat akibat longsor. Wakil Kepala Polres Sikka Komisaris Marselus Yugo Amboro menggambarkan kondisi perjalanan menuju permukiman itu mendaki, banyak longsor, dan menyerempet maut.

Persoalan Palue tidak hanya kerusakan bangunan, tetapi juga terputusnya akses antarwilayah. Belasan titik longsor menutup jalan menuju lima desa yang paling terdampak. Material longsoran terdiri dari pohon, tanah, kerikil, dan batu dengan diameter hingga 4 meter. Kondisi ini membuat bantuan yang sudah tiba di pulau belum mudah didistribusikan ke seluruh permukiman.

Warga juga masih dihantui gempa susulan. Mereka memilih berkumpul di luar rumah dan pada malam hari tidur di tenda darurat yang dibangun sendiri. Nestor Langga menggambarkan guncangan yang dirasakan warga dengan ungkapan, ”ayun lalu gergaji.”

Namun, pada hari keempat pascagempa mulai terlihat pemulihan. Listrik di Palue telah kembali menyala dan jaringan internet mulai terhubung. Tokoh masyarakat Desa Ladolaka, Kornelis Haryanto Pasa, mengatakan, listrik saat ini sudah menyala dan jaringan internet sudah terhubung. Pulihnya listrik membuat warga kembali dapat menghubungi keluarga di luar pulau dan memperoleh informasi dari dunia luar.

Baca JugaGempa Flores Mengguncang Nurani, Palue Memanggil Peduli
Bagaimana upaya yang dilakukan untuk membantu warga Palue?

Upaya bantuan ke Palue mulai dilakukan setelah informasi mengenai kondisi pulau berhasil keluar. Tim pertama berangkat pada Minggu sore dan tiba pada malam hari. Kedatangan tim tersebut mengungkap kondisi lapangan yang sebelumnya sulit diketahui karena komunikasi terputus. Ada satu orang meninggal, dua orang luka berat, ratusan rumah rusak, dan ribuan warga belum mendapatkan bantuan.

Bantuan terus mengalir, tetapi persoalan terbesar bergeser dari ketersediaan bantuan menjadi distribusi bantuan. Warga harus mengangkut bantuan menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki karena jalan menuju sejumlah permukiman tertutup longsor. Medannya juga berat karena jalur dari pantai menuju kawasan permukiman menanjak hingga ketinggian sekitar 500 meter dan jaraknya dapat mencapai 15 kilometer.

Karena itu, kebutuhan mendesak adalah membuka kembali akses jalan. Nestor Langga mengatakan, untuk menyingkirkan titik longsor itu tidak bisa pakai tenaga manusia. Harus menggunakan ekskavator yang dibawa dari luar. Pemerintah kemudian mengupayakan pengiriman alat berat dari Pulau Flores ke Palue menggunakan kapal.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan, pemerintah sedang mengusahakan pengerahan ekskavator melalui balai jalan dan dinas pekerjaan umum. Alat berat tersebut direncanakan diangkut menggunakan kapal milik ASDP. Langkah ini menjadi kunci karena tanpa pembukaan jalan, bantuan yang sudah tiba di Palue tidak dapat menjangkau seluruh warga.

Selain bantuan pemerintah, dukungan kemanusiaan juga datang dari sektor swasta. Perbankan menyalurkan makanan, pakaian, obat-obatan, tenda, selimut, tempat tidur portabel, popok bayi, dan kebutuhan sehari-hari. BCA, misalnya, bekerja sama dengan TNI dalam pengiriman bantuan kemanusiaan ke NTT. BNI juga menyalurkan air mineral, beras, mi instan, telur, minyak goreng, susu, biskuit, popok bayi, dan peralatan dapur ke sejumlah wilayah terdampak.

Baca JugaGempa Flores, Bantuan bagi Warga di Pulau Palue Terkendala Material Longsor
Selain Palue, bagaimana kondisi daerah lainnya yang terdampak gempa Flores?

Dampak gempa tidak hanya terkonsentrasi di Palue. Hingga Senin, 17 Agustus 2026, BNPB mencatat 68 orang tewas dan 213 orang luka-luka di tujuh kabupaten NTT. Korban meninggal terbanyak berada di Manggarai, yakni 26 orang, disusul Manggarai Timur 24 orang, Nagekeo 8 orang, Sikka 4 orang, serta Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing 2 orang.

Nagekeo menghadapi persoalan kemanusiaan yang serius. Di Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, ratusan pengungsi telah kehabisan persediaan makanan tiga hari setelah gempa. Pengungsi bertahan dengan saling berbagi beras, pisang, dan ubi, tetapi persediaannya terbatas. ”Banyak yang sudah kehabisan makanan dan kelaparan. Belum ada sentuhan bantuan sama sekali. Kami di sini kelaparan,” kata kepala sekolah sekaligus pengungsi, Apolonia Dhupa Mema.

Kondisi Nagekeo diperburuk oleh gangguan akses. Warga kesulitan membeli kebutuhan ke kota karena bahan bakar tidak tersedia dan sejumlah ruas jalan terputus. Para pengungsi yang sebagian berasal dari desa-desa pesisir dekat episentrum memilih mengungsi ke kawasan perbukitan Rendu Butowe, tetapi tetap harus menunggu bantuan.

Di Sikka, sebagian warga masih bertahan di sekitar Stadion Gelora Samador, Maumere, yang sebelumnya menjadi lokasi pengungsian. Sementara di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo, aktivitas masyarakat dan pariwisata mulai berjalan kembali meski gempa susulan masih terjadi. Bandara Komodo mengalami retakan pada taxiway serta pecahan ringan di lantai, sedangkan plafon dan lampu di sekitar terminal sempat jatuh. Namun, pada Senin, aktivitas penumpang relatif normal.

Sejumlah hotel di Labuan Bajo juga terdampak. The Jayakarta Suites ditutup karena kerusakan cukup parah di area lobi, sementara Hotel Crowne Plaza hanya mengalami retakan ringan pada tembok. Saat peringatan tsunami dikeluarkan, tamu di sejumlah hotel dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

BMKG mencatat 1.624 gempa susulan bermagnitudo 1,3-6,2 hingga 17 Agustus.

Baca JugaGempa Flores, Listrik dan Internet di Palue Berangsur Pulih
Sejauh ini bagaimana gempa Flores ditangani oleh pemerintah?

Penanganan pemerintah berlangsung dalam beberapa lapis, yaitu pemantauan gempa dan potensi tsunami, pencarian dan pertolongan, layanan kesehatan, pemulihan infrastruktur, serta distribusi bantuan. BMKG sebelumnya mengeluarkan peringatan dini tsunami 2 menit 16 detik setelah gempa dengan status ancaman Siaga dan Waspada. Peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir sekitar 2,5 jam setelah gempa.

Untuk pencarian dan pertolongan, tim gabungan Basarnas disiagakan di tujuh kabupaten terdampak. BNPB menyatakan personel diturunkan secara optimal untuk memastikan tidak ada warga yang masih membutuhkan pertolongan. Hingga 17 Agustus, tidak ada lagi laporan warga hilang di wilayah terdampak.

Pemerintah juga memperkuat penanganan kesehatan. Kementerian Kesehatan mengirim dua rumah sakit lapangan ke Ruteng, Manggarai, dan Nagekeo karena sejumlah rumah sakit serta puskesmas terdampak. Kemenkes juga mengirim dua tim manajemen krisis kesehatan ke Sikka dan Ende serta dua emergency medical team untuk memperkuat pelayanan di wilayah terdampak.

Untuk Palue, pemerintah berupaya mengatasi persoalan paling mendasar, yakni keterisolasian akses. Gubernur NTT menyatakan balai jalan dan dinas pekerjaan umum sedang mengupayakan pengiriman ekskavator ke Palue menggunakan kapal ASDP. Langkah ini penting untuk membuka jalan menuju lima desa yang terhambat longsor dan memperlancar distribusi bantuan.

Penanganan juga didukung oleh unsur nonpemerintah. Perbankan bekerja sama dengan TNI dan berbagai pihak untuk menyalurkan kebutuhan dasar, seperti makanan, obat-obatan, tenda, selimut, popok bayi, dan peralatan dapur. BNI menyatakan bantuan tahap awal akan dilanjutkan dengan pemantauan kondisi dan koordinasi bersama pemerintah daerah serta BPBD.

Tantangan pemerintah berikutnya bukan hanya respons darurat, melainkan memastikan distribusi bantuan mencapai wilayah paling terpencil dan mempercepat pemulihan akses, fasilitas kesehatan, listrik, serta infrastruktur dasar.

Baca JugaKorban Tewas Gempa Flores Bertambah, Gempa Susulan Capai 1.624 Kali

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Indikator Merosot, Pemerintah Diminta Waspada Sinyal Awal Pelemahan Ekonomi RI
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Drone yang Diduga Milik Rusia  Memasuki Wilayah Udara Rumania, Ditembak Jatuh oleh Pesawat Tempur F-18 NATO
• 14 jam laluerabaru.net
thumb
Dedi Mulyadi Bongkar ‘Feodalisme’ Birokrasi Jabar: Rapat Puluhan Juta, Rakyat Tetap Menderita
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kunjungan Prabowo ke Lokasi Gempa NTT Masih Direncanakan, Pemerintah Fokus Tangani Dampak Bencana
• 23 jam lalupantau.com
thumb
BNPB Pastikan Kebutuhan Warga Terdampak Gempa NTT Terpenuhi
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.