Terbongkar! Trump Diam-Diam Buka Jalur Rahasia dengan Garda Revolusi Iran

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com  Di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar mereda, muncul fakta baru mengenai diplomasi rahasia yang berlangsung di balik layar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa Washington telah membangun sebuah saluran komunikasi khusus dengan jajaran Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), organisasi militer yang kini memegang pengaruh sangat besar dalam struktur kekuasaan Iran.

Pengakuan Trump tersebut menjadi semakin penting setelah Axios pada 16 Agustus 2026 menerbitkan laporan terperinci mengenai upaya pemerintahan Trump membuka jalur komunikasi langsung dengan pimpinan IRGC. Laporan itu didasarkan pada keterangan tiga sumber yang mengetahui proses tersebut.

Trump mengakui adanya komunikasi tersebut ketika membahas perkembangan terbaru Iran. Namun, menurut Presiden AS itu, posisi Teheran saat ini berada dalam keadaan terdesak. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Washington tetap mempertahankan tekanan terhadap Iran, jalur diplomasi tidak sepenuhnya ditutup.

Laporan Axios mengungkap bahwa upaya membangun komunikasi rahasia itu sebenarnya sudah berlangsung sejak Mei 2026, ketika Washington menghadapi persoalan serius dalam proses perundingan dengan Iran.

Pada saat itu, pejabat Amerika mulai mempertanyakan apakah para perunding Iran benar-benar mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan strategis. Washington menilai pengaruh IRGC terhadap proses pengambilan keputusan di Teheran telah meningkat tajam sehingga kesepakatan dengan diplomat Iran belum tentu dapat dijalankan tanpa dukungan Garda Revolusi.

Karena itulah pemerintahan Trump berusaha mencari jalan untuk mengetahui secara langsung posisi pimpinan IRGC.

Sekitar 10 Mei 2026, Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat saat itu, Tulsi Gabbard, menghubungi Presiden Pemerintah Regional Kurdistan Irak, Nechirvan Barzani. Menurut laporan tersebut, komunikasi dilakukan dengan persetujuan Presiden Trump dan Wakil Presiden JD Vance.

Pemilihan Barzani sebagai perantara bukan tanpa alasan. Pemimpin Kurdistan Irak tersebut memiliki hubungan panjang dengan Iran dan dinilai mempunyai akses yang sulit diperoleh pejabat Amerika. Washington melihat Barzani sebagai figur yang dapat menjembatani komunikasi dengan pejabat tinggi Garda Revolusi tanpa harus menggunakan saluran diplomatik resmi.

Misi yang diberikan kepadanya sangat spesifik: mencari tahu apakah pimpinan IRGC benar-benar mendukung arah perundingan yang sedang dilakukan pihak Iran.

Empat hari kemudian, tepatnya pada 14 Mei 2026, komunikasi tersebut memasuki tahap yang jauh lebih serius.

Seorang pejabat Garda Revolusi Iran dilaporkan datang ke kantor Barzani di Erbil, ibu kota wilayah Kurdistan Irak, dengan membawa sebuah telepon terenkripsi. Perangkat komunikasi itu memungkinkan Barzani melakukan pembicaraan aman secara langsung dengan Panglima IRGC, Jenderal Ahmad Vahidi.

Dalam pembicaraan tersebut, Barzani menanyakan secara langsung apakah Vahidi dan jajaran Garda Revolusi mendukung tim perunding Iran.

Jawaban yang diterima Washington ternyata cukup positif.

Menurut sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut, Vahidi menyampaikan dukungan penuh terhadap para perunding Iran. Ia juga menegaskan bahwa posisi tersebut mewakili Garda Revolusi dan bahwa IRGC lebih memilih menyelesaikan krisis melalui jalur negosiasi.

Setelah pembicaraan selesai, Barzani dilaporkan segera menyampaikan hasil komunikasi itu kepada Gabbard. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Gedung Putih.

Bagi Washington, jawaban itu memiliki arti strategis karena memberikan indikasi bahwa setidaknya pada pertengahan Mei 2026 terdapat ruang untuk mencapai penyelesaian politik yang mendapat dukungan salah satu pusat kekuasaan terpenting di Iran.

Pemerintahan Trump kemudian melangkah lebih jauh dengan mengusulkan pertemuan rahasia antara pihak Amerika Serikat dan Iran di Erbil.

Namun, rencana tersebut menghadapi persoalan keamanan yang sangat serius.

Pihak Iran disebut khawatir bahwa wilayah Kurdistan Irak bukan tempat yang cukup aman untuk mengadakan pertemuan sensitif seperti itu. Salah satu kekhawatiran terbesar Teheran adalah keberadaan jaringan intelijen Israel yang diyakini memiliki kemampuan operasi cukup luas di kawasan tersebut.

Iran khawatir identitas maupun lokasi delegasinya dapat diketahui sehingga pejabat yang menghadiri pertemuan berisiko menjadi sasaran operasi pembunuhan.

Akibat kekhawatiran tersebut, rencana pertemuan rahasia di Erbil akhirnya tidak pernah terlaksana. Meski demikian, keberadaan jalur komunikasi melalui Barzani memperlihatkan bahwa Washington telah berusaha menembus struktur kekuasaan Iran melalui jalur tidak resmi.

Laporan mengenai komunikasi tersebut juga menarik perhatian karena muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali berada dalam situasi sangat rapuh. Reuters pada 17 Agustus 2026 melaporkan bahwa diplomasi antara kedua negara kembali mengalami kebuntuan, sementara Iran mengancam mengadopsi sikap militer yang lebih ofensif jika upaya diplomatik gagal. Meski demikian, komunikasi melalui perantara yang memiliki hubungan dengan IRGC menunjukkan bahwa kontak di belakang layar belum sepenuhnya berhenti.

Menariknya, laporan mengenai jalur komunikasi rahasia tersebut berhadapan dengan bantahan resmi dari pihak Garda Revolusi.

IRGC sebelumnya secara terbuka membantah klaim mengenai adanya komunikasi langsung dengan Trump. Dalam pernyataan yang diberitakan pada 10 Juni 2026, Garda Revolusi menyebut klaim mengenai kontak langsung tersebut sebagai informasi yang tidak benar.

Dengan demikian, terdapat dua versi yang berbeda. Pemerintahan Trump mengakui adanya jalur komunikasi dengan Garda Revolusi, sementara IRGC secara resmi menyangkal klaim mengenai kontak langsung dengan Presiden AS.

Perbedaan pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan betapa rumitnya diplomasi Amerika Serikat dan Iran. Di depan publik, kedua pihak terus menunjukkan sikap keras dan saling memberikan tekanan. Namun di belakang layar, berbagai jalur komunikasi tampaknya tetap dicoba untuk mencegah krisis berkembang menjadi konfrontasi yang lebih besar.

Yang juga patut diperhatikan, Tulsi Gabbard tidak lagi menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional ketika laporan mengenai operasi diplomatik rahasia itu terungkap pada Agustus. Ia mengumumkan pengunduran dirinya pada 22 Mei 2026, hanya beberapa hari setelah komunikasi rahasia melalui Barzani berlangsung.

Kini, keberadaan jalur komunikasi dengan IRGC menjadi salah satu bagian terpenting dalam membaca strategi Washington menghadapi Iran. Amerika Serikat tampaknya menjalankan dua pendekatan secara bersamaan: mempertahankan tekanan militer dan ekonomi di satu sisi, sambil tetap mencari akses langsung kepada pusat-pusat kekuasaan Iran di sisi lainnya.

Pertanyaan terbesarnya adalah apakah jalur rahasia tersebut nantinya mampu menghasilkan terobosan diplomatik, atau justru hanya menjadi saluran komunikasi darurat di tengah hubungan kedua negara yang semakin berbahaya.

Untuk sementara, satu hal menjadi semakin jelas: di balik ancaman terbuka dan perang pernyataan antara Washington dan Teheran, diplomasi rahasia masih terus memainkan peran penting dalam menentukan arah krisis Amerika Serikat–Iran. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Appi Tinjau SPAM Cambaya, Pemkot Makassar Siapkan 13 Titik Baru Hadapi Kemarau
• 1 jam laluterkini.id
thumb
Editorial MI: Melawan Keterbatasan
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
TNI AL Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT dengan KRI Bung Hatta-370
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polda Bali Kirim 5 Truk Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Kapolda Sampaikan Pesan Haru
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Jaringan Pesantren Ora Aji Salurkan Bantuan Rp500 Juta ke NTT
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.