Kualitas Udara Banjarbaru Tembus Level Berbahaya, BMKG Imbau Warga Batasi Aktivitas di Luar

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mewaspadai kualitas udara di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang mencapai kategori Berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5 pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kalimantan Selatan Klaus Johannes Apoh Damanik mengatakan konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita.

Angka tersebut jauh melampaui ambang batas 250,5 mikrogram per meter kubik yang sudah masuk kategori Berbahaya.

Konsentrasi PM2.5 mulai meningkat sejak dini hari sebelum kondisi udara memburuk hingga mencapai tingkat ekstrem pada pagi hari.

Asap Karhutla dan Kondisi Kering Pengaruhi Kualitas Udara

BMKG memantau peningkatan konsentrasi PM2.5 berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di sekitar wilayah terdampak.

Kondisi atmosfer yang kering dan tidak adanya hujan selama periode pengamatan 24 jam membuat partikulat serta asap lebih mudah bertahan di udara.

BMKG mencatat kondisi kering terjadi di seluruh wilayah Kalimantan Selatan berdasarkan pemantauan curah hujan pada 18 Agustus pukul 07.00 Wita hingga 19 Agustus 2026.

BMKG mengklasifikasikan konsentrasi PM2.5 sebesar 0–15,5 mikrogram per meter kubik sebagai kategori Baik, 15,6–55,4 kategori Sedang, 55,5–150,4 kategori Tidak Sehat, serta 150,5–250,4 kategori Sangat Tidak Sehat.

Konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 mikrogram per meter kubik masuk kategori Berbahaya sehingga angka 389,4 mikrogram per meter kubik di Banjarbaru telah berada jauh di atas ambang tersebut.

BMKG Imbau Warga Gunakan Masker N95 atau KN95

BMKG meminta masyarakat mengurangi paparan langsung terhadap udara luar ketika konsentrasi PM2.5 berada pada tingkat tinggi.

“Masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker medis seperti N95 atau KN95 saat beraktivitas, menjaga imunitas dengan menerapkan pola hidup sehat, serta tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan yang dapat memperburuk kualitas udara,” ujar Johannes.

Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan kualitas udara karena kondisinya dapat berubah mengikuti pergerakan angin, kondisi atmosfer, dan perkembangan kebakaran hutan serta lahan di Kalimantan Selatan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral! Dantim Pegasus Polres Jeneponto Ngamuk Saat Demo LAKI, Sebut Ada Perlakuan Tak Pantas
• 36 menit laluharianfajar
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp50.000, Jadi Rp2.645.000 per Gram
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
BMKG: Waspada Hujan Lebat Besok 19 Agustus 2026! Ini Wilayah Terdampak dan Potensi Angin Kencang
• 16 jam lalunarasi.tv
thumb
BI Rate Tetap 5,75 Persen, BI Pilih Jaga Rupiah Sambil Dorong Kredit
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Telkomsel Pulihkan 400 BTS di NTT, 44 Genset Dikerahkan
• 4 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.