REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibu Kota terus berubah wajah. Gubernurnya berganti, jargon pemerintahannya berubah, teknologi masuk ke tubuh birokrasi, MRT melintas di bawah dan di atas tanah, sementara perdebatan tentang banjir, kemacetan, reklamasi, Betawi, RT/RW, hingga masa depan kota seolah tidak pernah selesai.
Dalam sekitar 15 tahun terakhir, Jakarta bahkan menghadapi perubahan yang lebih besar daripada pergantian gubernur. Kota yang selama puluhan tahun identik dengan pusat kekuasaan Republik Indonesia itu harus mulai membayangkan dirinya tanpa status sebagai ibu kota negara.
Baca Juga
Menteri Israel Targetkan Bunuh 40 Warga Gaza Tiap Hari
Modifikasi Cuaca Turunkan Hujan di Jakarta tak Bisa Dilaksanakan karena tak Ada Awan
Amanah yang tidak Pernah Selesai
Di tengah perubahan itulah buku Catatan Orang Dalam: Perjalanan 15 Tahun Berkarya untuk Jakarta karya M Shendy Adam Firdaus menemukan relevansinya. Buku ini bukan sejarah resmi Jakarta, bukan memoar seorang gubernur, dan bukan pula laporan kinerja pemerintah daerah. Ia lebih menyerupai rekaman seorang penghuni mesin pemerintahan yang memilih terus mengamati, mencatat, dan sesekali mengkritik mesin tempatnya bekerja. Di situlah istilah “orang dalam” menjadi penting.
Shendy membawa bekal pengalaman sebagai wartawan. Ia pernah menjadi reporter di Merdeka. Ketika media tersebut berhenti terbit pada 31 Agustus 2009, jalan hidup membawanya mengikuti seleksi CPNS dan akhirnya memilih Pemprov DKI Jakarta setelah diterima pula di KPU. Ruang redaksi yang egaliter berganti dengan birokrasi struktural. Namun kebiasaan menulis rupanya tidak ikut ditinggalkan.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Tetap Menulis
Satu kalimat dalam prakata membantu memahami posisi buku ini. Shendy menegaskan bahwa menjadi ASN bukan alasan untuk kehilangan kebebasan berpikir dan menyuarakan pendapat. Ia tetap menyalurkan kegemarannya melalui Kompasiana. Hingga buku ini diterbitkan, ia mencatat telah menghasilkan ratusan artikel dengan tema mulai politik, pemerintahan, sosial budaya hingga olahraga.
Setelah melalui pemilihan dan penyuntingan, artikel itu dikumpulkan menjadi buku yang kini Anda pegang. Kandungan buku ini merupakan arsip pemikiran. Banyak tulisan lahir ketika persoalan yang dibahas masih berlangsung, bukan bertahun-tahun setelah peristiwa selesai. Nilai dokumenternya justru terletak di sana.
Dari Foke hingga Teguh Setyabudi
Bagian Politik dan Kepemimpinan memperlihatkan bentang waktu yang panjang. Ada Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan, Heru Budi Hartono hingga Teguh Setyabudi.
Setiap periode membawa watak pemerintahan berbeda. Shendy mencatatnya melalui judul seperti “Empat Tahun Memimpin Jakarta: Bang Foke Tidak Gagal, Hanya Belum Berhasil”, “Jangan Kultuskan Jokowi”, “Rezim Ahok, Eranya Para Mantan Camat Berjaya”, “Pekerjaan Rumah dari Ahok untuk Anies”, hingga “Kasak-kusuk PNS, Kemarahan Heru Budi, dan Meritokrasi”.
Pilihan judul tersebut menunjukkan bahwa kedekatan penulis dengan pemerintahan tidak otomatis menjadikannya selalu memuji. Ia tetap menyisakan ruang untuk penilaian, bahkan kritik. Namun membaca buku ini hanya sebagai kronik para gubernur akan mengecilkan nilainya. Sebab tokoh yang sebenarnya terus hadir dari satu periode ke periode lain adalah birokrasi.
Mesin yang Tidak Ikut Berganti
Gubernur merupakan wajah Jakarta. Tetapi pemerintahan kota dengan jutaan penduduk tidak bergerak hanya karena satu figur di Balai Kota. Di bawahnya terdapat dinas, badan, wali kota, camat, lurah, dan ribuan aparatur yang menjalankan pelayanan setiap hari.
Di sinilah posisi Shendy sebagai orang dalam menjadi menarik. Judul seperti “Lelang Camat dan Lurah ala Jokowi”, “Untuk Apa Jokowi Bentuk TGUPP?”, “Masihkah Jakarta Membutuhkan Camat dan Lurah?”, “CRM, Aplikasi Birokrat Ibu Kota Zaman Now”, “Hentikan Syak Wasangka pada PNS”, sampai “JAKI, Cara Jakarta Hadapi Disrupsi” menunjukkan perhatiannya pada bagian pemerintahan yang jarang menjadi headline utama.
Orang luar dapat menilai hasil sebuah kebijakan. Orang dalam mempunyai kesempatan melihat bagaimana kebijakan bertemu dengan struktur, budaya kerja, resistensi, dan manusia yang harus menjalankannya. Tentu posisi itu sekaligus menimbulkan pertanyaan: seberapa jauh seseorang dapat menjaga jarak dari rumah yang ia tinggali sendiri?
Pertanyaan tersebut bukan alasan untuk meragukan seluruh tulisan. Justru ketegangan antara kedekatan dan objektivitas itulah yang membuat perspektif seorang insider menarik untuk dibaca.