HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAJENE — Sampah sisa sayuran dan kulit buah dari aktivitas dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, mulai diolah menjadi produk bernilai guna.
Tim pengabdian Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) bersama Kelompok Tani Galung Maloang mengolah limbah organik tersebut menjadi ecoenzyme, sabun cuci piring, hingga sabun cuci baju.
Program tersebut dipimpin Nor Indriyanti, S.Pd., M.Pd. dan mendapat dukungan Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.
Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan konsep zero waste sekaligus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik dari aktivitas dapur MBG.
Berdasarkan identifikasi awal, sisa sayuran dan kulit buah dari dapur MBG belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah tersebut masih dapat diolah menggunakan teknologi sederhana menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui program tersebut, masyarakat dikenalkan pada prinsip reduce, reuse, dan recycle. Salah satu praktik yang dilakukan yakni pembuatan ecoenzyme melalui proses fermentasi limbah organik.
Peserta memanfaatkan galon bekas sebagai wadah fermentasi. Kulit buah dan sisa sayuran kemudian dicampurkan dengan gula merah atau molase serta air bersih.
Proses fermentasi membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan. Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai komposisi bahan serta cara memantau proses fermentasi agar ecoenzyme yang dihasilkan dapat digunakan dengan baik.
Pelatihan tidak berhenti pada pembuatan ecoenzyme. Peserta juga diajarkan mengolah ecoenzyme menjadi bahan dasar produk pembersih rumah tangga, seperti sabun cuci piring dan sabun cuci baju.
Dalam praktik tersebut, peserta mempelajari tahapan formulasi, fungsi bahan, proses pencampuran, aspek keamanan hingga pengemasan. Mereka bekerja secara berkelompok dengan pendampingan tim Unsulbar.
Ketua tim pengabdian, Nor Indriyanti, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengajarkan keterampilan membuat produk. Lebih dari itu, program tersebut diharapkan dapat mengubah cara masyarakat memandang sampah organik.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa sampah dapur itu selalu berakhir di tempat sampah. Dari kulit buah, dari sisa sayuran, dan sejenisnya, ternyata bisa lahir produk yang bermanfaat,” ujar Nor.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat terus dipraktikkan secara mandiri setelah program selesai.
“Harapannya, setelah kegiatan ini selesai, masyarakat tetap bisa melakukannya sendiri dan kebiasaan mengurangi sampah bisa terus berjalan,” lanjutnya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Kelompok Tani Galung Maloang dengan pendekatan Participatory-Based Community Development (PBCD).
Melalui pendekatan itu, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pelatihan. Mereka dilibatkan dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah, perencanaan, praktik hingga evaluasi.
Metode learning by doing juga diterapkan selama pelatihan. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai manfaat ecoenzyme, jenis sampah organik yang dapat dimanfaatkan dan proses pembuatannya, peserta langsung mempraktikkan pengolahan menggunakan bahan serta peralatan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Ecoenzyme yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan produk pembersih rumah tangga.
Ketua Kelompok Tani Galung Maloang, Kasran, mengaku mendapat pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut.
“Awalnya kami pikir sisa sayur dan kulit buah itu ya sampah biasa. Tapi ternyata setelah tadi belajar, itu semua bisa diolah lagi jadi sesuatu yang berguna,” katanya.
Menurut Kasran, praktik langsung membuat peserta lebih mudah memahami proses pengolahan sampah organik.
“Senang juga karena caranya bisa kami praktikkan sendiri di rumah. Jadi bukan hanya belajar membuat sabun, tetapi kami juga belajar supaya tidak semua sampah itu langsung dibuang,” ujarnya.
Efektivitas kegiatan kemudian dievaluasi melalui pre-test dan post-test terhadap 28 peserta.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh aspek yang diukur. Rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 2,900 menjadi 4,003.
Pada aspek keterampilan, skor meningkat dari 2,953 menjadi 3,810. Sementara sikap dan kesadaran lingkungan meningkat dari 3,013 menjadi 3,960.
Peningkatan tersebut menunjukkan pelatihan memberikan dampak terhadap pemahaman peserta mengenai konsep zero waste. Peserta juga mengalami peningkatan keterampilan dalam memilah sampah, membuat ecoenzyme, memantau proses fermentasi, hingga menghasilkan sabun berbasis ecoenzyme.
Program tersebut sekaligus mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah organik.
Sisa bahan dapur yang sebelumnya dianggap sebagai limbah mulai dilihat sebagai sumber daya yang masih dapat diolah menjadi produk bermanfaat.
Tim pengabdian Unsulbar menilai pengelolaan sampah dapur menjadi bagian penting dari keberlanjutan program MBG. Keberhasilan MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi, tetapi juga bagaimana dampak lingkungan dari aktivitas dapurnya dikelola secara bertanggung jawab.
Pemanfaatan limbah organik menjadi ecoenzyme dan produk pembersih rumah tangga dinilai dapat menjadi langkah awal menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, keterampilan tersebut juga berpotensi membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna.
Tim Unsulbar berharap model pengelolaan tersebut dapat dikembangkan dan direplikasi pada kelompok masyarakat, sekolah, desa, maupun lokasi dapur MBG lainnya.
Dengan pendekatan sederhana dan partisipatif, sampah organik dapur diharapkan tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang.
Sebaliknya, sampah dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai ketika dikelol a dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat. Dari kulit buah dan sisa sayuran, masyarakat Mekkatta mulai membuktikan bahwa konsep zero waste dapat dimulai dari dapur. (suk/adv)





