JAKARTA, KOMPAS.com - Bukan suara tawar-menawar atau deru kendaraan yang pertama kali terasa ketika memasuki kawasan pengupasan bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Aroma bawang yang tajam justru lebih dulu menyambut siapa pun yang datang ke area tersebut.
Di antara tumpukan bawang putih, sejumlah ibu duduk menekuni pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang sejak pagi.
Sebuah pisau kecil bergerak di tangan mereka, memisahkan kulit bawang sebelum berpindah ke bawang berikutnya.
Pekerjaan itu tampak sederhana. Namun, setelah dijalani berjam-jam, tangan dan pinggang mulai terasa sakit. Jari pun tak selalu selamat dari mata pisau.
Selamet (64) bahkan beberapa kali mengalami luka saat mengupas bawang. Rasa sakit di tangan dan pinggang juga kerap membuatnya menangis.
“Suka menangis, sakit, pinggang sakit, tangan sakit,” kata Selamet saat ditemui Kompas.com di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (16/8/2026).
Di sisi lain, uang yang diperoleh dari pekerjaan tersebut tidaklah besar.
Selamet dibayar sekitar Rp 15.000 untuk setiap karung bawang putih yang selesai dikupas. Dalam sehari, ia biasanya memperoleh empat hingga lima karung.
Jika empat karung selesai dikerjakan, penghasilannya sekitar Rp 60.000.
Nominal tersebut menjadi alasan mengapa ucapan Selamet terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna besar.
“Dapat Rp 50.000, alhamdulillah, mesti disyukuri aja,” kata Selamet.
Bagi perempuan asal Pekalongan itu, uang tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap kecil.
Ada makan yang harus dipenuhi. Ada kontrakan sekitar Rp 500.000 per bulan yang harus dibayar. Sesekali, ia juga menyisihkan uang untuk membantu cucunya.
“Supaya saya bisa makan, bayar kontrakan,” ujar Selamet.
Baca juga: Kisah Pengupas Bawang di Kramat Jati, Tahan Tangan Lecet demi Upah Rp 3.000 Per Kg
Ketika Tubuh Sakit, Pekerjaan Tetap Dilanjutkan
KOMPAS.com/Muhammad Wildan Alghofari Ibu Selamet, salah seorang pengupas kulit bawang putih di Pasar Kramat Jati, Jaktim.
Selamet biasanya mulai bekerja sekitar pukul 08.00 WIB. Jika bawang yang harus diselesaikan masih tersedia, pekerjaannya dapat berlangsung hingga sekitar pukul 20.00 WIB.
Rasa sakit terkadang membuatnya harus menghentikan pekerjaan untuk sementara.
Ia memilih berbaring ketika tubuh sudah tidak kuat. Setelah sedikit pulih, pisau kembali diambil dan bawang berikutnya mulai dikupas.
Keinginan untuk berhenti sebenarnya pernah muncul.
Namun, berhenti bekerja juga berarti ia harus memikirkan kembali bagaimana memenuhi kebutuhan hidup.
Usia membuat pilihan pekerjaan Selamet semakin terbatas.
“Kerja apa? Saya udah tua,” ucapnya.
Karena itu, selama masih ada bawang yang bisa dikupas, ia memilih terus bekerja.
Baca juga: Diupah Rp 60.000 Kupas Bawang hingga Malam, Lansia 64 Tahun: Supaya Bisa Makan
Sepuluh Tahun Berkutat dengan Bawang
KOMPAS.com/Muhammad Wildan Alghofari Sulastri, salah satu pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, yang telah bekerja selama 10 tahun, saat ditemui pada Minggu (16/8/2026).
Bukan hanya Selamet yang mengandalkan pekerjaan tersebut.
Sulastri (56) sudah sekitar satu dekade menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan bawang.
Sulastri mengenalnya ketika sedang mengantarkan kerupuk ke sejumlah warung bersama temannya. Saat melihat orang lain mengupas bawang, ia tertarik mencoba.