Ketombe kerap dianggap sebagai masalah kulit kepala yang kecil. Serpihan putih di rambut atau bahu, rasa gatal, hingga kulit kepala yang terasa kurang nyaman kerap dianggap bisa selesai hanya dengan mengganti sampo.
Namun ketika kondisi tersebut muncul berulang, dampaknya ternyata tidak selalu berhenti pada kulit kepala. Hal ini terungkap dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Mycoses. Studi tersebut menemukan bahwa ketombe dan seborrheic dermatitis dapat memberikan pengaruh terhadap kualitas hidup seseorang.
Menariknya, dari 3.000 pasien yang diteliti, kualitas hidup perempuan lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki.
Ketombe bisa memengaruhi kualitas hidupPenelitian yang dilakukan oleh Jacek C. Szepietowski dan tim tersebut melibatkan 3.000 pasien dengan seborrheic dermatitis atau ketombe. Para peneliti kemudian mengukur kualitas hidup mereka menggunakan Dermatology Life Quality Index (DLQI), sebuah instrumen yang digunakan untuk melihat seberapa besar masalah kulit memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang.
Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata skor DLQI seluruh peserta mencapai 6,92. Pasien dengan ketombe memiliki rata-rata skor 5,34, sementara pasien dengan seborrheic dermatitis mencapai 7,73 dan mereka yang mengalami keduanya mencapai 7,54. Semakin tinggi skor DLQI, semakin besar pula dampak kondisi kulit terhadap kualitas hidup.
Peneliti juga menemukan adanya perbedaan berdasarkan karakteristik pasien. Perempuan, kelompok usia lebih muda, serta mereka yang punya tingkat pendidikan lebih tinggi mengalami dampak kualitas hidup yang lebih besar dibandingkan kelompok lainnya.
Studi tersebut tidak menyimpulkan bahwa jenis kelamin menjadi penyebab langsung perbedaan tersebut, tetapi menunjukkan adanya perbedaan pengalaman terhadap kondisi kulit kepala di antara kelompok pasien.
Bukan sekadar masalah penampilanTemuan tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan bagaimana masalah kulit kepala dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketombe yang terlihat pada rambut atau pakaian dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama ketika seseorang harus beraktivitas di ruang publik, bekerja, atau bertemu dengan orang lain.
Dalam studi tersebut, perempuan memiliki skor yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan laki-laki pada aspek rasa malu dan pilihan pakaian.
Artinya, persoalan ketombe dan kondisi kulit kepala dapat memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar munculnya serpihan putih. Ketika masalah tersebut berlangsung terus-menerus, rasa gatal, ketidaknyamanan, dan kekhawatiran terhadap tampilan rambut dapat ikut memengaruhi pengalaman seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, perawatan ketombe tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menghilangkan serpihan yang terlihat. Kondisi kulit kepala secara keseluruhan, termasuk minyak, hidrasi, mikrobioma, serta fungsi lapisan pelindung kulit atau scalp barrier, juga menjadi bagian yang mulai mendapat perhatian dalam pembahasan kesehatan kulit kepala.
Pendekatan tersebut sejalan dengan perkembangan ilmu dermatologi yang melihat kulit kepala sebagai ekosistem. Daripada hanya berfokus pada gejala yang terlihat, menjaga kondisi kulit kepala secara menyeluruh menjadi salah satu pendekatan yang semakin diperhatikan dalam perawatan ketombe.
CLEAR Soroti Pentingnya Scalp BarrierPembahasan mengenai kesehatan kulit kepala tersebut turut menjadi perhatian CLEAR dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXI Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) yang berlangsung pada 6–8 Agustus 2026 di Yogyakarta. Dalam acara yang mempertemukan lebih dari 2 ribu tenaga medis dari seluruh Indonesia tersebut, CLEAR menghadirkan sesi ilmiah yang membahas perkembangan pemahaman mengenai ketombe dan kondisi scalp barrier.
Dalam sesi bertajuk "Understanding Men's Scalp Vulnerabilities: Sebum, Barrier Strength & Microbiome Imbalance", dr. Mufqi Handaru Priyanto, Sp.DVE, menjelaskan bahwa ketombe tidak semata-mata berkaitan dengan keberadaan jamur penyebab ketombe. Menurutnya, kondisi lapisan pelindung alami kulit kepala atau scalp barrier juga berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem kulit kepala.
Ketika scalp barrier terganggu, kulit kepala dapat menjadi lebih rentan kehilangan kelembapan, mengalami rasa gatal, memproduksi minyak berlebih, hingga mengalami masalah ketombe yang berulang. Karena itu, pendekatan modern terhadap ketombe mulai diarahkan tidak hanya untuk mengatasi serpihan yang muncul, tetapi juga membantu menjaga kondisi kulit kepala secara menyeluruh.
CLEAR Hadirkan Pendekatan ScalpPro Tech™️Melalui PIT XXI PERDOSKI Yogyakarta 2026, CLEAR juga memperkenalkan CLEAR Scalp Health & Science Research Book yang merangkum penelitian selama lebih dari 50 tahun mengenai kesehatan kulit kepala dan melibatkan 1.100 dermatolog dari berbagai negara.
Riset tersebut kemudian menjadi salah satu landasan pengembangan CLEAR ScalpPro Tech™️, teknologi yang memadukan Piroctone Olamine untuk melawan jamur penyebab ketombe dengan Niacinamide yang membantu melawan minyak berlebih sekaligus memperkuat fungsi scalp barrier.
Teknologi tersebut hadir dalam sejumlah produk CLEAR, termasuk CLEAR Sampo Menthol Segar, CLEAR Sampo Perawatan Komplit, dan CLEAR Sampo Anti Ketombe & Rambut Rontok. CLEAR juga menghadirkan rangkaian scalp tonic, seperti CLEAR Scalp Tonic Anti Ketombe Apek dengan 3,5% Niacinamide+Hyaluron Complex serta CLEAR Scalp Tonic Anti Ketombe Pro dengan 3,5% Niacinamide+Ceramide Complex.
Untuk kebutuhan kulit kepala pria, CLEAR turut memiliki rangkaian CLEAR MEN ULTRA dengan formula 3X Scalp Barrier Defense dan 3X Ultra Protection yang hadir dalam varian Menthol Fresh Active, Oil Control, dan Anti Hair Fall.
Tak hanya membawa inovasi produk, CLEAR juga memperkenalkan website interaktif yang memungkinkan masyarakat melakukan skrining kondisi scalp barrier secara mandiri. Pengguna dapat mengunggah foto kulit kepala dan menjawab sejumlah pertanyaan mengenai kondisi kulit kepala serta gaya hidup sehari-hari.
Hasil skrining kemudian memberikan analisis mengenai kondisi kulit kepala beserta rekomendasi perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kehadiran fitur tersebut menjadi bagian dari upaya CLEAR untuk membuat edukasi mengenai kesehatan kulit kepala lebih mudah diakses masyarakat.





