Bank Indonesia (BI) mencatat aliran investasi portofolio asing ke Indonesia mencapai net inflows sebesar US$ 1,8 miliar atau sekira Rp 32,04 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS). Aliran modal tersebut tercatat pada triwulan III 2026 hingga 14 Agustus 2026.
Pjs Gubernur BI, Destry Damayanti menuturkan, masuknya modal asing tersebut ditopang oleh penerbitan global bond dari pemerintah serta meningkatnya aliran dana asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Dari transaksi modal dan finansial, aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 (hingga 14 Agustus 2026) mencatat net inflows sebesar 1,8 miliar dolar AS," ujar Destry dalam konferensi pers, Rabu (19/8).
Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga di level US$145,3 miliar. Nilai tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
Destry mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut juga masih berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor. Kondisi itu menunjukkan masih kuatnya bantalan eksternal Indonesia dalam menghadapi dinamika perekonomian global.
Kendati demikian, BI menilai kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat guna menjaga ketahanan eksternal. Dari sisi perdagangan, neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Juni 2026 secara kumulatif masih mencatat surplus sebesar US$ 3,58 miliar. Namun, khusus pada Juni 2026, neraca perdagangan mencatat defisit sebesar US$ 0,45 miliar.
“Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan ketahanan eksternal Indonesia tetap kuat. Hal tersebut didukung oleh sinergi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam menghadapi berbagai gejolak perekonomian global,” ujar Destry.




