Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjawab kekhawatiran masyarakat terkait potensi terjadinya gempa bumi dengan kekuatan lebih besar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Teuku memastikan butuh waktu yang panjang bagi gempa sekuat magnitudo (M) 7,7 untuk kembali melanda wilayah tersebut.
"Perlu dipastikan bahwa diperlukan waktu hingga puluhan tahun agar sesar naik di busur belakang Flores ini dapat mengumpulkan energi dan menghasilkan gempa sebesar yang terjadi saat ini," kata Teuku kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Teuku menjelaskan, dalam kurun waktu puluhan tahun ke depan, potensi gempa dengan kekuatan yang lebih besar atau lebih kecil memang tetap ada di NTT. Namun, ia menekankan hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
"Bisa lebih besar atau lebih kecil, jadi memang diperlukan waktu yang panjang," ucapnya.
Selain itu, Teuku menyampaikan pemutakhiran data gempa susulan hingga pukul 17.00 WIB. Pihaknya mencatat telah terjadi 3.055 kali gempa susulan dengan kekuatan terbesar M 6,2.
"Jumlah gempa susulan sampai dengan pukul 17.00 WIB sore hari ini, 19 Agustus 2026, tercatat sebanyak 3.055 kali. Gempa susulan terbesar bermagnitudo 6,2 dan yang terkecil M 1,1," jelas Teuku.
"Adapun gempa yang dirasakan oleh masyarakat ada sebanyak 88 kali. Terkait proses peluruhannya, karena gempa utamanya cukup besar yaitu M 7,7, maka penurunan aktivitas gempa memerlukan waktu kurang lebih 3 sampai 4 minggu ke depan," lanjutnya.
(maa/isa)





