Sekitar 18 meter di bawah permukaan Bundaran Hotel Indonesia (HI), hiruk-pikuk lalu lintas di pusat kota Jakarta terasa begitu jauh. Tak ada deru kendaraan atau klakson yang biasanya memenuhi kawasan jantung Ibu Kota itu.
Yang terdengar justru suara aktivitas konstruksi dan getaran kereta bawah tanah MRT Bundaran HI. Pekerja berhelm putih dan jingga hilir-mudik mengerjakan area bawah tanah yang masih dalam proses pembangunan.
Pipa atau blower ventilasi oranye besar melintang di atas kepala. Sementara dinding abu-abu yang masih kasar dan basah mengelilingi area yang kelak menjadi ruang publik seluas hampir setengah lapangan sepak bola.
Area tersebut merupakan bagian dari proyek Extended Concourse Stasiun MRT Bundaran HI yang digadang menjadi simpul baru transportasi Jakarta, menjelang usia kota ini genap lima abad.
Gelap, lembap, dan tak ada sinyal telekomunikasi seluler. Katadata.co.id berkesempatan melihat langsung “isi perut” Bundaran HI pada Rabu (19/8). Pembangunan ruang multifungsi baru MRT Jakarta itu ditargetakan mencapai 24,80% pada Agustus ini.
Lebih lanjut, progres pembangunan Extended Concourse ditargetkan mencapai 45% akhir 2026, hingga ditargetkan selesai pada Mei 2027 dan diresmikan pada Juni 2027.
Lokasi tepatnya area itu berada di bawah Anjungan Halte Bundaran HI dan di atas rel kereta MRT. Sebetulnya, bangunan itu sudah lama ada, namun baru direncanakan untuk diperluas.
Dengan nilai proyek sekitar Rp 200 miliar, pembangunan tersebut akan memperluas ruang bawah tanah sekaligus membuka koneksi baru bagi pejalan kaki di kawasan pusat Jakarta dengan area proyek mencakup sekitar 4.439 meter persegi.
Ruang Multifungsi Sekaligus Jalur Pejalan KakiRuang yang sedang dibangun itu bukan sekadar perluasan Stasiun MRT Bundaran HI. Area sepanjang sekitar 158 meter itu akan menjadi ruang multifungsi sekaligus jalur pejalan kaki bawah tanah yang menghubungkan sisi barat dan timur kawasan. Lebarnya mencapai 20 meter dengan tinggi sekitar 10 meter.
Kelak, wajahnya tak lagi berupa area konstruksi. Ruang tersebut akan disulap menyerupai “mini mal” yang mampu menampung hingga 17 ribu pengunjung. Lebih dari 24 tenant ritel juga direncanakan mengisi area itu, membuat perjalanan pengguna MRT tak lagi sekadar turun, naik kereta, lalu meninggalkan stasiun.
Di sisi selatan, concourse akan diperpanjang langsung ke arah Bundaran HI. Dua akses lainnya disiapkan di sisi barat dan timur yang akan menghubungkan kawasan Hotel Grand Hyatt dengan Plaza Indonesia. Kemudian, area itu juga akan terhubung ke Hotel Pullman dan Wisma Nusantara sekaligus terintegrasi langsung dengan halte Transjakarta di Jalan MH Thamrin.
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, mengatakan proyek Extended Concourse merupakan pengembangan sirkulasi bawah tanah Stasiun MRT Bundaran HI untuk meningkatkan kapasitas layanan dan kenyamanan penumpang. Pengembangan itu sekaligus mengantisipasi tambahan sekitar 6.000 penumpang per hari setelah MRT Jakarta Fase 2A beroperasi pada 2029 dan Jalur Timur-Barat pada 2032.
Ia juga menuturkan, proyek tersebut dilakukan dengan memperluas struktur concourse eksisting Stasiun MRT Bundaran HI. Selain menambah kapasitas, pengembangan mencakup pembangunan entrance baru di sisi timur dan barat untuk memenuhi kebutuhan keselamatan saat kondisi darurat, seperti bencana atau kebakaran.
Entrance baru akan dibangun dengan metode open cut di sisi jalur pedestrian sehingga kebutuhan rekayasa lalu lintas di Jalan MH Thamrin dapat diminimalkan. Pengembangan tersebut juga membuka potensi interkoneksi stasiun dengan kawasan komersial di sekitar Bundaran HI.
“Pengembangan Kawasan Bundaran HI melalui pendekatan TOD menunjukkan pergeseran paradigma dari kawasan yang sekedar menjadi titik perpindahan moda menjadi kawasan perkotaan yang mengintegrasikan mobilitas, aktivitas ekonomi, dan ruang publik dalam satu ekosistem,” ucap Ferdi dalam paparan MRT Jakarta: Extended Concourse Bundaran HI: Menghubungkan Mobilitas, Menguatkan Integrasi di Jakarta, Rabu (19/8).
Pembangunan saat ini memasuki tahap pertama rekayasa lalu lintas yang berlangsung sejak April hingga September 2026. Pada tahap ini, area konstruksi ditutup di sisi barat atau Plaza Indonesia serta sisi timur yang mengarah ke Pullman dan Wisma Nusantara. Pekerjaan meliputi pengalihan lalu lintas, pekerjaan fondasi, hingga pemancangan SSP.
Tahap kedua akan berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Mei 2027. Sejumlah area, termasuk bagian tengah, akan ditutup untuk penyelesaian konstruksi. Arus kendaraan kemudian dialihkan dengan memanfaatkan sebagian ruang jalan yang berbagi dengan jalur TransJakarta. Separator jalur bus juga akan dilepas untuk mendukung rekayasa lalu lintas selama pengerjaan proyek.
Pusat Perbelanjaan di 'Perut Bumi' JakartaSeiring dengan itu, Departement Head Commercial, Ricky Agung Kresna Putra mengatakan, Extended Concourse Bundaran HI nanti tidak beroperasi selama 24 jam. Jam operasional kawasan tersebut akan mengikuti waktu layanan MRT Jakarta di Stasiun Bundaran HI.
Selain menjadi jalur penghubung, Extended Concourse juga dirancang sebagai kawasan komersial. MRT Jakarta menyiapkan sekitar 1.387 meter persegi area ritel yang dapat ditempati berbagai tenant. Kawasan ini juga akan dilengkapi titik periklanan, area pop-up store, pameran, brand activation, hingga berbagai kegiatan yang dapat menarik pengunjung.
Ricky juga mengatakan, MRT Jakarta turut menyiapkan area co-branding sebagai ruang kolaborasi yang memadukan identitas MRT Jakarta dengan merek mitra. Sementara itu, media periklanan akan ditawarkan langsung kepada merek maupun agensi berdasarkan slot dan periode penayangan.
Kerja sama komersial tersebut dapat dilakukan dalam jangka pendek maupun panjang. Pendapatan dari penyewaan ruang dan media periklanan akan masuk ke MRT Jakarta sebagai sumber pendapatan non-farebox atau di luar penjualan tiket.




