Menpar menegaskan bahwa perhelatan musik berkelas dunia berfungsi sebagai motor penggerak rantai ekonomi pariwisata yang melibatkan berbagai sektor turunan.
IDXChannel - Penyelenggaraan pertunjukan musik berskala internasional terbukti memberikan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan kunjungan wisata, perputaran uang miliaran rupiah, hingga penguatan kapasitas pelaku industri kreatif di Indonesia.
Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa perhelatan musik berkelas dunia berfungsi sebagai motor penggerak rantai ekonomi pariwisata yang melibatkan berbagai sektor turunan secara masif.
"Bagi sektor pariwisata, events seperti ini merupakan demand generator yang mengaktifkan rantai aktivitas ekonomi, terutama melalui transaksi pembelian tiket, sewa fasilitas, hotel, konsumsi kuliner, serta aktivitas produksi oleh vendor dan pelaku industri," kata Widiyanti dalam konferensi pers di JIEXPO, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Teranyar, salah satu perhelatan yang mencuri perhatian adalah pertunjukan musisi dunia Andrea Bocelli yang digagas oleh promotor Shoemaker Studios di dua lokasi, yakni Candi Borobudur dan Jakarta. Pertunjukan ini mempertemukan kekayaan warisan budaya Indonesia dengan fasilitas kota modern yang dinamis dan terbuka untuk ajang internasional.
Dampak ekonomi dari agenda pariwisata ini juga tercermin melalui program unggulan Events by Indonesia. Sepanjang 1 Januari hingga 31 Juli 2026, Kementerian Pariwisata telah mendukung 105 events yang sukses menarik lebih dari 6,47 juta pengunjung, melibatkan lebih dari 11.000 UMKM, serta menyerap 184.000 lebih pekerja seni dan komunitas dengan estimasi perputaran uang menembus Rp1 triliun.
Menyoroti target dukungan terhadap total 206 events hingga akhir 2026, Widiyanti menilai keberhasilan agenda-agenda tersebut menjadi modal kuat bagi promosi destinasi tanah air.
"Capaian yang besar untuk events yang masing-masing hanya berlangsung beberapa hari saja. Selain memperkuat brand sebuah destinasi, events juga memberikan kontribusi dalam penciptaan lapangan kerja," ujar Widiyanti.
Dampak positif panggung internasional tidak hanya dirasakan di sektor pariwisata, melainkan juga merambah ke ekosistem industri kreatif. Kehadiran musisi global membuka ruang pertukaran pengalaman, memperluas jejaring, sekaligus menjadi ajang transfer teknologi dan standar kerja bagi para profesional di balik panggung.
Dalam kesempatan sama, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya memaparkan bahwa pengalaman berstandar internasional menjadi faktor krusial dalam mendongkrak daya saing sumber daya manusia di tanah air.
"Mulai dari tim produksi, stage management, artist management, hingga audio dan lighting engineer, berbagai profesi backstage dapat memperoleh pengalaman langsung dari standar produksi internasional. Transfer of knowledge seperti inilah yang akan memperkuat kualitas talenta dan daya saing industri musik Indonesia ke depan," tutur Teuku Riefky.
Menurut Riefky, musik bertindak layaknya lokomotif yang menarik gerbong subsektor kreatif lainnya untuk ikut tumbuh, mulai dari fesyen, kuliner, kriya, seni pertunjukan, desain, fotografi, videografi, periklanan, hingga konten digital.
Menyadari potensi strategis tersebut, pemerintah telah menempatkan industri musik dalam peta jalan pembangunan nasional melalui Peraturan Presiden terkait Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional (Perpres Rindekraf) yang ditandatangani pada 2 Juli lalu.
Riefky menambahkan soal payung hukum ini mempertegas peran sentral seni musik dalam menggerakkan perekonomian secara menyeluruh.
"Melalui Perpres Rindekraf, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan musik sebagai salah satu subsektor prioritas karena terbukti telah memberikan multiplier effect terhadap tenaga kerja, peningkatan investasi, ekspor, dan kontribusi PDB dari sektor ekonomi kreatif," urai Riefky. (Febrina Ratna Iskana)





