MANGGARAI, KOMPAS — Hingga Rabu (19/8/2026) atau tiga hari setelah gempa bumi, sejumlah warga di sekitar kantor Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mengaku belum mendapatkan bantuan pemerintah. Akibat rumahnya rusak berat, mereka terpaksa mendirikan tenda pengungsian mandiri.
Gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026) merusak ribuan rumah di Kabupaten Manggarai. Sebagian terletak lebih kurang 1 kilometer dari kantor bupati.
Bagian samping dan belakang rumah Vinsensius Kurniadi (44) di Kelurahan Tenda, Kecamatan Langke Rembong, misalnya, ambruk.
Dapur dan kamar mandi di rumah itu juga hancur. Adapun, tembok-tembok pada kamar-kamar tidur dan ruang tamu yang masih berdiri itu retak.
Tak hanya rumah keluarga Vinsensius, dua rumah tetangganya juga mengalami hal serupa. Tiang penyangga rumah bergeser dari lokasi semula dan lantainya retak-retak. Bahkan, rumah indekos yang dikelola saudara ipar Vensensius di lokasi itu juga rusak parah.
“Di hari pertama, kami sempat mengungsi di rumah tetangga yang masih aman, tapi sempit karena terlalu banyak orang. Akhirnya, kami berinisiatif membangun tenda pengungsian dari terpal. Baru kemarin kami dapat bantuan dari saudara, dipinjami tarup. Jadi terpalnya kami pakai untuk menutupi sekeliling tarup,” kata Vinsensius, Rabu.
Tenda darurat itu awalnya hanya ditinggali oleh tiga keluarga yang rumahnya rusak berat akibat gempa. Kemudian, sejumlah penghuni indekos dan satu keluarga yang merupakan tetangga mereka ikut mengungsi di situ.
Tetangga mereka itu tetap mengungsi meski rumahnya tidak rusak karena takut tertimpa bangunan di samping rumah mereka yang kondisinya hampir roboh.
Hingga Rabu, ada 20 orang, delapan diantaranya anak, yang tinggal di tenda berukuran sekira 5 meter x 5 meter tersebut. Mereka terpaksa tidur berimpitan karena terbatasnya ruang.
Sejak hari pertama gempa, pihak kelurahan sudah mendatangi rumah Vinsensius. Mereka mengaku ingin mendata. Namun, hingga tiga hari setelah gempa, belum ada bantuan dari pemerintah yang tiba.
“Jarak rumah kami hanya 700 meter dari kantor Bupati, tapi sampai sekarang belum ada bantuan sama sekali. Mungkin, mereka mengutamakan yang jauh-jauh atau yang lebih parah. Tapi kan di sini ada juga yang parah, dibagi-bagi lah harusnya,” ucap Vinsensius.
Vinsensius mengharapkan bantuan makanan bisa segera disalurkan. Selain itu, pakaian, selimut, dan perlengkapan sekolah juga dibutuhkan segera karena benda-benda itu telah tertimbun reruntuhan bangunan. Ia juga mengharapkan pemerintah bisa membantu merehabilitasi rumah warga yang rusak akibat gempa.
“Kami sangat membutuhkan bantuan, sekurang-kurangnya untuk merenovasi rumah, entah berupa material atau apa,” ujarnya.
Korban gempa lain di Kelurahan Tenda, Regina Ani Edan (37) juga mengharapkan bantuan makanan, pakaian, serta rehabilitasi rumah. Selain itu, ia juga mengharapkan bisa mendapat bantuan obat-obatan. Sebab, mayoritas pengungsi di tenda mandiri itu kini sedang sakit.
“Karena di luar, jadi kalau malam dingin, bisa sampai 13 derajat. Karena selimut-selimut kami tertimpa reruntuhan bangunan, jadi sangat terbatas, satu selimut untuk bersama-sama. Mungkin karena kedinginan akhirnya banyak yang pilek dan batuk,” kata Regina.
Tak hanya warga dari Manggarai, warga dari Kabupaten Manggarai Timur juga sempat mendatangi posko tanggap bencana gempa bumi di sekitar kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai untuk meminta bantuan pada Rabu siang.
Subrianus Orly Kabut (37), warga Desa Liang Deruk, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, salah satunya.
Orly mengaku, terpaksa mendatangi posko di Manggarai karena ada tiga desa terdampak parah gempa di Kecamatan Lemba Leda Utara yang belum tersentuh bantuan sama sekali. Tiga desa yang disebut Orly rumah warganya 80 persen rusak berat itu, yakni Nampar Tabang, Liang Deruk, dan Golo Munga.
“Kami datang ke sini meminta bantuan karena posisinya lebih dekat kami ke pusat pemerintahan Manggarai daripada Manggarai Timur. Tapi tadi kami ditolak karena katanya mereka mengutamakan wilayah mereka dulu dan secara administratif harusnya kami minta bantuan ke pemerintah Manggarai Timur. Saya kecewa karena posisi sedang bencana, gawat darurat seperti ini, mereka masih memikirkan wilayah administrasi,” ucap Orly.
Menurut Orly, warga di tiga desa itu memerlukan bantuan makanan, minuman, dan susu bayi. Hal itu karena warga tidak lagi punya uang.
Mereka yang mayoritas bekerja sebagai petani kemiri itu tidak bisa bekerja lantaran lahan tanam mereka berada di daerah lereng. Apabila nekat bekerja, warga khawatir terjadi longsor karena gempa susulan masih terus terjadi.
Selain itu, warga juga disebut Orly membutuhkan obat-obatan karena satu-satunya puskesmas yang melayani warga di tiga desa itu ambruk. Obat-obatan yang disimpan di puskesmas itu tertimbun gempa dan telah tercampur dengan debu.
Kemudian, warga juga mengharapkan bantuan tenda yang layak. Selama ini, warga menggunakan tenda darurat dari terpal-terpal yang didirikan seadanya. Kondisi itu membuat mereka tidur dalam kondisi kepanasan saat siang hari dan kedinginan saat malam hari.
Gempa yang terjadi pada Sabtu juga membuat bangunan di Klinik Pratama Panti Nirmala di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, retak-retak.
Kondisi itu pun memaksa pihak klinik kesehatan harus memindahkan ruang perawatan pasien ke teras klinik. Oleh karena terasnya sempit, sebagian terpaksa dirawat di halaman klinik menggunakan tenda-tenda darurat.
Selain itu, klinik juga mengalami keterbatasan tenaga kesehatan. Satu-satunya dokter di klinik itu masih menjalani pelatihan di Kupang sehingga setiap ada tindakan medis dikonsultasikan secara daring.
Keterbatasan obat-obatan juga dialami karena di masa bencana, jumlah pasien membludak sementara pasokan obat terhambat.
“Kami sangat membutuhkan obat-obatan untuk batuk, pilek, demam, obat hipertensi, dan cairan infus, termasuk infus parasetamol. Sebenarnya kami sempat dapat bantuan, tapi cuma sedikit dan itu sudah habis. Sementara pasien terus berdatangan. Apalagi, setelah gempa itu semakin banyak yang diare, pusing, mual, muntah, tensi tinggi dan vertigo karena ketakutan,” ujar Suster Maria Dolorosa Misericordia, penanggung jawab klinik Pratama Panti Nirmala.
Suster Maria berharap, segera ada bantuan dari pemerintah untuk klinik tersebut, setidaknya suplai obat-obatan dan tambahan dokter.
Sebab, hingga Rabu, klinik itu merawat inap lima pasien. Sebelumnya, ada dua pasien ibu melahirkan yang dirawat inap di klinik itu. Namun, dua pasien itu dipulangkan karena kondisinya dinilai sudah baik.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala BPBD Manggarai, Petrus C. Masangkat mengatakan gempa bumi yang terjadi menimbulkan 28 korban jiwa dan 136 korban luka-luka dengan rincian, sebanyak 32 orang luka berat dan 104 orang luka ringan. Ribuan bangunan juga rusak, mulai dari ringan, sedang, hingga berat akibat bencana itu.
“Kerusakan terjadi pada bangunan pemerintahan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas umum, dan yang paling banyak rumah warga. Sebanyak 5.651 unit rumah warga rusak, dengan rincian sebanyak 3.010 rumah rusak berat, 1.533 rumah rusak sedang, dan 1.108 rumah rusak ringan,” kata Petrus.
Akibat kerusakan yang terjadi, sebagian warga harus mengungsi di sejumlah titik. Ada yang mengungsi di tempat pengungsian pemerintah dan ada yang di pengungsian mandiri.
Saat ditanya terkait kemungkinan bantuan perbaikan rumah, Petrus menyebut, hal itu akan ditentukan selanjutnya. Saat ini, pihaknya masih berfokus pada upaya penyaluran bantuan yang sifatnya mendesak.
“Soal pembangunan nanti itu setelah kami lakukan pendataan, tentu kami akan laporkan ke pihak pemerintah tingkat atas atau dalam hal ini melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mudah-mudahan teman-teman di BNPB nanti itu bisa meneruskannya ke lembaga yang berkaitan dengan urusan pembangunan ini,” ucapnya.





