6 Fakta Ngeri Korban Pengantin Pesanan di China Malah Disiksa Suami

detik.com
10 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Bareskrim Polri membongkar tindak pidana perdagangan orang (TPPO) pengantin pesanan ke China. Wanita yang menjadi korban mulanya dijanjikan Rp 10 juta per bulan setelah menikah namun malah disiksa oleh suami dan dijadikan asisten rumah tangga (ART).

Pengungkapan ini berawal dari laporan korban berinisial ULS pada Januari 2025 hingga polisi menetapkan para tersangka. Berikut fakta-faktanya:

1. Dua Orang Jadi Tersangka

Dirtipid PPA dan PPO Bareskrim Polri, Brigjen Nurul Azizah, mengatakan dalam kasus ini, dua orang ditetapkan sebagai tersangka. Pelaku diduga merekrut perempuan WNI untuk dinikahkan dengan warga negara China.

"Tersangka CA adalah perempuan berusia 25 tahun berperan sebagai perekrut korban, memperkenalkan korban kepada calon suami warga negara Tiongkok, membantu pemalsuan dokumen, serta mengurus dokumen pemberangkatan korban ke Tiongkok dan memperoleh keuntungan sebesar Rp 20 juta," kata Nurul dalam jumpa pers di gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (19/8/2026).

Sementara itu, tersangka FU berperan sebagai penerjemah bahasa Mandarin atau penghubung komunikasi korban dengan WN China.

"Tersangka FU, laki-laki usia 59 tahun, berperan sebagai penerjemah bahasa Mandarin sekaligus menghubungkan antara calon suami dengan pihak korban dan memperoleh keuntungan sebesar Rp 5 juta," sambungnya.

Baca juga: Bareskrim Bongkar TPPO Modus Pengantin Pesanan ke China, 2 Orang Tersangka

2. Korban Diimingi Rp 10 Juta Per Bulan

Nurul membeberkan bahwa para pelaku mengiming-imingi korban dengan gambaran kehidupan layak di luar negeri. Korban dijanjikan uang tunai Rp 25 juta hingga uang bulanan Rp 10 juta.

"Modus operandinya yaitu menawarkan kepada korban, memberikan gambaran mengenai kehidupan yang lebih layak apabila bersedia menikah dengan warga negara Tiongkok tersebut," ungkapnya.

"Kemudian kepada korban juga dijanjikan memperoleh uang sebesar Rp 25 juta setelah pernikahan dan akan mendapatkan Rp 10 juta setiap bulannya ketika berada di Tiongkok," lanjut Nurul.

Nurul menyebut korban memang menerima uang Rp 25 juta di awal. Namun uang bulanan yang dijanjikan tidak pernah diberikan.

Dirtipid PPA dan PPO Bareskrim Polri, Brigjen Nurul Azizah, dalam jumpa pers di Bareskrim (Foto: Rumondang Naibaho/detikcom)




(lir/lir)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhut Tinjau Penanganan Karhutla di Kalteng, Soroti Gambut yang Makin Kering
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Ketua DPD Terima Senator Rusia, Bahas Beasiswa hingga Teknologi Nuklir
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Xi Jinping Jarang Singgung “4 Juni” dan Puji Jiang Zemin; Analis: Ketidakstabilan Partai Tidak Dapat Lagi Diredam
• 23 jam laluerabaru.net
thumb
BMKG Catat Ada 3.055 Gempa Susulan di NTT, 88 Dirasakan Manusia
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Purbaya Soroti Penanganan Bencana Gempa NTT: Seperti Tak Ada Koordinasi Daerah dan Pusat
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.