Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Camp Peat Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Rabu (19/8).
Dalam peninjauan tersebut, kondisi lahan gambut menjadi salah satu perhatian karena tinggi muka air gambut berada pada level yang rawan.
Setibanya di Camp Peat Tumbang Nusa, Raja Juli mengawali kegiatan dengan menanam pohon ulin di area persemaian. Setelah itu, dia meninjau alat pengukur tinggi muka air gambut otomatis.
Alat tersebut menunjukkan tinggi muka air gambut sekitar -0,99 meter. Kondisi itu tergolong rawan karena tinggi muka air gambut idealnya berada di atas -0,4 meter.
Raja Juli kemudian berdialog dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau, BNPB, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur lain yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Dalam dialog tersebut, Raja Juli menyampaikan apresiasi kepada para petugas yang terus bekerja menangani karhutla di lapangan.
“Yang paling saya hormati, saya banggakan, dan saya cintai adalah teman-teman yang berjibaku di lapangan, baik dari TNI, Polri, BNPB, BPBD, maupun Manggala Agni. Sekali lagi saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh petugas yang terus bekerja di lapangan,” kata Raja Juli dalam keterangan tertulis Kemenhut.
Dia mengatakan penanganan karhutla membutuhkan komunikasi yang cepat dan kerja bersama tanpa terhambat batas kewenangan. Menurutnya, penanganan kebakaran melibatkan banyak kementerian/lembaga serta pemerintah daerah karena kebakaran dapat terjadi baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.
“Kalau masih ada yang kurang, kita lengkapi dan kita tambahkan. Sekarang saatnya tembok-tembok birokrasi dan ego sektoral kita runtuhkan. Yang harus kita bangun justru jembatan komunikasi yang efektif di antara seluruh pihak,” tegas Raja Juli.
Raja Juli juga menyoroti kondisi cuaca yang membuat penanganan karhutla tahun ini tidak mudah. Dia mengatakan El Nino datang lebih cepat dari siklus yang sebelumnya diperkirakan dan menjadi salah satu gambaran nyata dampak perubahan iklim.
“Sejak awal tahun sebenarnya sudah diprediksi bahwa El Nino akan datang lebih cepat. Kalau melihat siklus sebelumnya, terjadi pada 2015, 2019, dan 2023, seharusnya siklus berikutnya sekitar 2027. Tetapi sekarang datang lebih awal. Ini menunjukkan bahwa perubahan iklim itu nyata, climate change is real,” ujarnya.
Puncak Kemarau hingga SeptemberDalam dialog tersebut, BMKG menyampaikan Kalimantan Tengah masih berada pada periode puncak musim kemarau. Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap potensi muncul dan meluasnya karhutla harus terus dipertahankan.
“Puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Hujan diperkirakan mulai kembali meningkat pada awal Oktober,” kata perwakilan BMKG.
BMKG juga melaporkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah beberapa kali dilaksanakan. Namun, pertumbuhan awan membuat hasil hujan yang diperoleh belum maksimal.
“Setelah kami lakukan verifikasi, hasil OMC memang belum maksimal. Hujan sudah terjadi di beberapa titik, tetapi intensitasnya masih sangat rendah sehingga belum cukup untuk membantu memadamkan titik-titik api di sejumlah lokasi,” jelasnya.
Sementara itu, BNPB melaporkan dukungan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah diperkuat melalui armada udara, yang terdiri atas helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan armada water bombing.
Meski demikian, BNPB menegaskan operasi udara berfungsi untuk memperkuat kerja tim darat.
“Dalam penanganan kebakaran, kekuatan utamanya tetap satuan tugas darat. Water bombing digunakan untuk mendukung petugas, terutama untuk menjangkau titik api yang sulit atau tidak dapat diakses melalui jalur darat,” jelas perwakilan BNPB.
BNPB juga menyampaikan pekatnya asap dalam dua hari terakhir menjadi tantangan bagi operasi udara, khususnya di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam pengerahan armada water bombing.
“Karena asapnya sudah semakin tebal, heli-heli kami tidak bisa menjangkau sasaran. Jarak pandangnya sementara ini, kalau tidak salah tadi di bandara pun tidak sampai satu nautical mile. Dari pertimbangan tersebut, heli ini berangkat terbang tetapi kembalinya tidak bisa karena pekatnya asap ini,” jelas perwakilan BNPB.
BNPB bersama BMKG terus memantau kondisi cuaca dan kemungkinan pelaksanaan kembali OMC apabila terdapat pertumbuhan awan yang memungkinkan.
Menhut Siapkan Koordinasi Tambahan Sumber AirSementara itu, Bupati Pulang Pisau berharap dukungan pemerintah pusat terus diperkuat, terutama untuk pencegahan dan antisipasi agar kebakaran tidak terus berulang.
“Kami mohon arahan, bimbingan, dan dukungan dari Bapak Menteri, khususnya bagi Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, dan Kalimantan Tengah secara umum. Kami berharap ada pola penanganan yang semakin kuat, terutama untuk pencegahan dan antisipasi agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ujar Bupati.
Menanggapi berbagai kebutuhan yang disampaikan di lapangan, Raja Juli mengatakan akan meneruskan dan mengoordinasikannya dengan kementerian/lembaga terkait di tingkat pusat. Kebutuhan tersebut mencakup sumber air, penambahan sumur bor, dukungan water bombing, serta OMC apabila kondisi cuaca memungkinkan.
“Setelah ini saya akan langsung berkoordinasi dengan teman-teman dan kolega di pusat. Tadi saya mendengar salah satu persoalannya adalah keterbatasan sumber air. Kita perlu melihat kemungkinan penambahan sumur bor, baik permanen maupun temporer. Dukungan water bombing juga akan kita upayakan untuk ditambah apabila memungkinkan dan kondisi cuaca mendukung,” katanya.
Raja Juli menambahkan pemerintah akan terus mengupayakan OMC apabila berdasarkan analisis BMKG tersedia awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.
“Untuk OMC juga sudah ada komitmen dari BNPB dan BMKG. Di mana terdapat potensi awan semai, terutama di enam provinsi prioritas termasuk Kalimantan Tengah, akan kita optimalkan. Kita akan terus berikhtiar semaksimal mungkin,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Raja Juli juga menyerahkan secara simbolis bantuan perlengkapan pemadaman kepada Masyarakat Peduli Api (MPA). Bantuan itu berupa satu unit mesin jinjing, tiga rol selang pemadam, satu set alat pelindung diri (APD), tujuh kaos lapangan, tujuh pasang sepatu boot, lima helm, satu masker pemadam, serta empat kacamata pelindung.
Raja Juli kembali menyampaikan penghormatan kepada seluruh unsur yang bekerja langsung di lapangan. Menurutnya, kekuatan dalam menghadapi karhutla tidak hanya terletak pada sarana dan prasarana, tetapi juga pada kolaborasi antara pemerintah, aparat, petugas, relawan, dan masyarakat.
“Sekali lagi saya menyampaikan rasa hormat kepada seluruh jajaran TNI, Polri, Manggala Agni, BNPB, BPBD, MPA, serta seluruh pihak yang bekerja di lapangan. Sepanjang perjalanan tadi saya melihat sendiri banyak petugas yang terus berjibaku. Semua bekerja keras, bergotong royong, dan memberikan kemampuan terbaiknya untuk melawan karhutla,” katanya.





