Kabar Buruk Pengusaha Batu Bara RI, Korea Kini Berpaling ke Rusia

cnbcindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih menguat ditopang meningkatnya permintaan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (19/8/2026) ditutup di posisi US$ 134,75 per ton. Harganya menguat 0,37%.

Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya di mana harga batu bara menguat 0,86% dalam tiga hari terakhir.

Pasokan yang mengetat dan permintaan yang belum sepenuhnya kuat menopang harga batu bara di China.

Meskipun harga di mulut tambang naik, keberlanjutan rally masih bergantung pada apakah pengetatan produksi mampu mengimbangi kondisi permintaan batu bara China.

Kabar Baik dan Buruk Untuk Indonesia

Kenaikan harga batu bara domestik China dapat berdampak ke pasar impor. Jika pasokan domestik China semakin ketat, pembangkit dan trader bisa meningkatkan pembelian batu bara impor, termasuk dari Indonesia.

Ini sejalan dengan perkembangan pasar sebelumnya di mana harga batu bara China menguat ketika stok pelabuhan dan pembangkit menurun, sementara inspeksi keselamatan tambang membatasi pasokan. Kondisi tersebut juga meningkatkan minat terhadap batu bara impor untuk blending.

Baca: Dolar Jatuh, BI Tahan Suku Bunga: Ada Harapan IHSG - Rupiah Berpesta

Ketidakpastian produksi dan ekspor Indonesia membuat pembeli China mulai lebih memperhatikan batu bara impor, terutama untuk jenis batu bara dengan kalori menengah dan rendah.

Indonesia menjadi faktor penting karena merupakan salah satu pemasok utama batu bara termal ke pasar Asia. Gangguan produksi, keterbatasan kuota produksi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta perubahan mekanisme ekspor membuat pelaku pasar khawatir pasokan Indonesia menjadi lebih ketat.

China merupakan salah satu pembeli terbesar batu bara Indonesia. Ketika pasokan Indonesia terganggu atau harga batu bara Indonesia naik, pembeli China memiliki beberapa pilihan alternatif seperti Australia dan Rusia.

Batu bara Indonesia memiliki keunggulan terutama pada harga dan karakteristik kalori, sehingga tidak mudah digantikan sepenuhnya. Kekhawatiran pasokan Indonesia karena itu dapat membuat pembeli China melakukan pembelian lebih awal untuk mengamankan stok.

Baca: Harga Emas Bangkit dengan Mengerikan! Terbang 4,3% Sehari, ke U$$ 4500

Namun, tidak demikian dengan Korea Selatan.

Shanghai Metal Market melaporkan adanya pergeseran sumber pasokan batu bara Korea Selatan di mana Rusia dan Australia menjadi pemenang utama, sementara Indonesia justru mengalami penurunan.

Pada semester I 2026, ekspor batu bara Rusia ke Korea Selatan melonjak 89,4% menjadi 12,5 juta ton (mnt), naik 5,9 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rusia kini menyumbang sekitar 22% impor batu bara Korea Selatan, sekaligus menjadi pemasok terbesar kedua setelah Australia.

Total impor batu bara Korea Selatan sendiri naik 21,3% menjadi 56,9 juta ton. Menariknya, sekitar 59% dari tambahan impor bersih Korea Selatan berasal dari Rusia.

Australia juga mencatat pertumbuhan kuat. Pengirimannya naik 35,4% menjadi 19,5 juta ton. Sebaliknya, pasokan dari Indonesia turun 2,5% menjadi 11,9 juta ton. Kanada juga meningkat 33,3% menjadi 5,6 juta ton.

Perkembangan ini penting karena menunjukkan Indonesia mulai kehilangan sebagian pangsa pasar Korea Selatan. Ketika Rusia dan Australia meningkatkan pasokan secara agresif, pembeli Korea memiliki lebih banyak pilihan untuk menggantikan batu bara Indonesia.

Secara keseluruhan, tambahan pasokan dari Rusia dan Australia mencapai 11 juta ton, bahkan lebih besar dibandingkan kenaikan total impor Korea Selatan yang hanya 10 juta ton. Artinya, kenaikan dari kedua negara tersebut menutupi penurunan pasokan dari Indonesia, Kolombia, dan AS.

Harga Batu Bara di Eropa Naik

Pasar batu bara global secara umum menguat dalam sepekan terakhir, meski pergerakan berbeda berdasarkan wilayah dan jenis batu bara.

Harga batu bara termal Eropa naik menembus US$124/ton, didorong kenaikan harga minyak dan gas, risiko geopolitik, serta turunnya produksi energi terbarukan dan nuklir selama gelombang panas.

Baca: Dunia Krisis Aluminium, China Datang Jadi Pahlawan Sekaligus Juragan

Kazakhstan dilaporkan telah mengamankan 4,1 juta ton batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai persiapan menghadapi musim pemanasan mendatang.

Kementerian Transportasi Kazakhstan mencatat, sejak 1 Mei 2026, sebanyak 17,8 juta ton batu bara telah dikirim ke pembangkit listrik dan 1,2 juta ton disalurkan ke sektor komunal.

Saat ini, persediaan mencapai 4,1 juta ton di pembangkit listrik dan sekitar 300.000 ton untuk kebutuhan sektor komunal.

Pemerintah Kazakhstan tengah menyiapkan rencana aksi untuk memastikan pasokan batu bara tetap lancar selama musim dingin, terutama untuk pembangkit listrik dan fasilitas publik.

Operator kereta api Kaztemirtrans mengoperasikan sekitar 29.000 gerbong terbuka, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan batu bara bagi pembangkit listrik, rumah tangga, dan industri.

Pemerintah juga telah menerapkan sistem digital terpadu untuk melacak batu bara secara real time, mulai dari proses produksi, pengiriman hingga penjualan.

(mae/mae)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto Bersama Kapolri Kunjungi Pengungsi Terdampak Gempa NTT
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Dua Perempuan Palestina Terluka saat Israel Lakukan Penggerebekan di Tepi Barat
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Transaksi Jumbo Rp1,42 Triliun Saham DSSA di Pasar Nego, Bagian dari Pengalihan Saham Treasuri?
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Pinjaman Luar Negeri Bank dan FDI Dapat Insentif Swap Hedging dari BI
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Magang Hub Batch 2 Dibuka Mulai 3 September, Ini Jadwal Lengkapnya
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.