Ichsan (21) cekatan saat memilah sampah tutup botol di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Go-Sari di Desa Guwosari, Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). Hanya dengan meraba sekilas, lulusan SMK itu langsung mengenali jenis plastik yang sedang ia pegang dan kemudian memasukkannya ke dalam wadah yang sesuai.
Ichsan memilah sampah tutup botol plastik di TPS3R Go-Sari.
(KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Menuang bijih plastik dari tutup botol plastik ke mesin pemanas.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Panel yang dihasilkan dari limbah tutup botol plastik.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pengalamannya sejak bekerja setahun terakhir di tempat itu membuatnya cermat dalam memilah tujuh jenis sampah plastik. Hasil pemilahan itu nantinya akan menjadi kunci keberhasilan pembuatan panel dari limbah tutup botol plastik di tempat tersebut.
”Dalam sehari, saya mengolah sekitar 10 kilogram bijih plastik dari tutup botol plastik,” ujar Ichsan. Limbah tersebut kemudian diolah dengan menggunakan mesin pemanas bertenaga listrik hingga menghasilkan sebuah panel berukuran 1 meter persegi dengan ketebalan 80 milimeter. Panel tersebut banyak diminati oleh perajin yang mengutamakan pemanfaatan bahan daur ulang.
Ichsan memberi makan ayam di kandang yang berada di TPS3R Go-Sari. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Pakan ayam dengan campuran maggot di TPS3R Go-Sari.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Telur ayam yang dihasilkan laku dijual dengan harga Rp 25.000 per kilogram.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Ichsan merupakan salah satu dari 27 pekerja yang mendapat mata pencarian dari tempat hasil binaan PT Pertamina itu. Gaji mingguan yang ia peroleh membuat Ichsan perlahan mulai mampu mandiri secara ekonomi.
Selain bekerja mengolah limbah tutup botol plastik, Ichsan juga bertugas merawat ayam petelur dan memanen telur yang dihasilkan oleh unggas itu setiap hari. Menurut Ichsan, sekitar 580 ayam yang dipelihara di tempat itu menghasilkan sekitar 28 kilogram telur per hari. Telur tersebut laku dijual dengan harga Rp 25.000 per kilogram.
Pakan ayam di kompleks itu dicampur dengan maggot atau larva yang muncul dari sampah organik. Maggot yang dihasilkan juga banyak diburu oleh pemancing yang membutuhkan umpan pada kail mereka untuk memancing ikan.
Siang itu, Parjo, petugas bagian budidaya maggot, sibuk melayani pembeli larva yang dihasilkan oleh lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) itu. ”Maggot laku dijual dengan harga Rp 10.000 per kilogram,” ujar Parjo, yang bertugas seorang diri di instalasi pengolahan sampah organik itu.
Berbagai komoditas yang memiliki nilai jual dari hasil pengolahan sampah di tempat itu merupakan ”bonus” dari upaya konsisten yang terus dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Menurut Hendri, pengelola TPS3R Go-Sari, pendapatan utama kompleks instalasi itu berasal dari biaya langganan warga yang sampahnya dipungut dan dikelola oleh Go-Sari.
Go-Sari setiap hari mengolah sekitar 3,5 ton sampah dari sedikitnya 1.500 rumah tangga di Desa Guwosari. Keberadaan fasilitas itu menjadi penting di tengah kewalahannya Pemerintah Provinsi DIY dalam menangani problem sampah di wilayah mereka.
Adanya lapangan pekerjaan juga menghadirkan angin segar bagi masyarakat sekitar di fasilitas yang kini juga dilengkapi pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 6,6 kWp itu. Pengolahan sampah menjadi furnitur pun melibatkan kelompok warga lanjut usia serta warga binaan penghuni Rutan Kelas IIB Bantul yang terletak hanya beberapa ratus meter dari TPS3R Go-Sari.
Dalam mengedukasi warga untuk memilah sampah, Go-Sari menggunakan pendekatan sederhana dengan istilah-istilah yang lekat dengan lokalitas warga Bantul. Pengelompokan sampah di tempat itu menggunakan istilah ”bosok”, ”rosok”, ”popok”, dan ”bodongkok”. Melalui istilah-istilah yang familiar di telinga warga lokal itu, diharapkan proses pemilahan sampah di rumah dapat semakin mudah.
TPS3R Go-Sari yang mulai beroperasi pada tahun 2019 itu juga menerapkan teknik insinerasi dalam menghancurkan sampah yang tidak bisa didaur ulang. Teknik itu merupakan pembakaran terkontrol dengan suhu di atas 850 derajat celsius yang digunakan untuk memusnahkan sampah residu secara higienis, mengurangi volume sampah hingga 90 persen, serta menghancurkan zat berbahaya pada sampah.
Petugas memasukkan sampah ke mesin incenerator di TPS3R Go-Sari. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Pekerja mendorong sampah ke dalam mesin Incenerator yang membakar sampah dengan suhu di atas 850 derajat celsius..
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pemusnahan sampah dengan teknik insenerasi di Desa Guwosari.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Abu hasil pembakaran sampah tersebut digunakan untuk campuran bahan baku pembuatan paving blok. Pada masa mendatang, kata Hendri, energi yang dihasilkan dari mesin pembakar itu akan dimanfaatkan untuk sumber tenaga yang dapat menunjang proses produksi di kompleks tersebut.
Manfaat berganda telah dirasakan oleh masyarakat Desa Guwosari berkat keberadaan TPS3R itu. Go-Sari pun juga menjadi tempat belajar bagi berbagai yayasan pengelola sampah yang ingin mengetahui seluk-beluk penanganan limbah secara terpadu sekaligus menghadirkan cuan.





