Bedah Editorial MI: Percepat Penanganan Gempa

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

EMPAT hari sejak gempa Magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah itu masih terus diguncang gempa susulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi 2.768 gempa bumi susulan. 

Banyaknya gempa susulan jelas menjadi tantangan penanganan gempa. Terlebih, kekuatan gempa susulan bervariasi, bahkan hingga ada yang bermagnitudo 6,2. Di setiap bencana, penanganan memiliki tingkat risiko tersendiri. Penanganan saat bencana masih terjadi, membuat risiko tentu berlipat. 

Para petugas bukan hanya berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan korban yang kemungkinan masih terjebak, melainkan juga memastikan para survivor tidak berada dalam risiko tinggi di zona-zona berbahaya. 

Itu bukan saja risiko menjadi korban gempa susulan, melainkan juga berbagai risiko akibat infrastruktur dan daya dukung lainnya yang lumpuh maupun rusak. Tambahan lagi, semuanya harus dilakukan dengan tetap memastikan keselamatan seluruh petugas dan relawan. 

Dalam kondisi serbagenting seperti itu, pemetaan wilayah terdampak menjadi hal krusial. Pemetaan wilayah akan menentukan efektivitas dan tepatnya penanganan. 
 
Gempa NTT 15 Agustus berada di posisi ke-2 dari 11 gempa terbesar global 2026. Hingga kini setidaknya terdapat 70 korban jiwa.
 

Baca Juga :

Korban Gempa NTT Gratis Cetak Ulang Dokumen Kependudukan


Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 18 Agustus menyebutkan ada 11.925 rusak. Di Kabupaten Nagekeo yang merupakan terdekat dari pusat gempa, terdapat 1.373 rumah rusak berat, 260 unit rusak sedang, dan 1.229 unit rusak ringan. Namun, kabupaten dengan jumlah bangunan rusak parah terbanyak adalah Kabupaten Manggarai, yakni mencapai 1.597 unit. Empat kabupaten lainnya yang terdampak gempa 15 Agustus tersebut adalah Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Ende, dan Sikka. 

Skala kerusakan memang bisa lebih terkait dengan tingkat populasi dan geografis wilayah. Di wilayah-wilayah yang berada di jalur sesar itu, jelas memiliki risiko dampak yang lebih besar. 

Oleh karena itu, pemerintah daerah (pemda) harus bergerak cepat memberikan laporan yang terus teraktualisasi dan tepat. Perubahan kondisi lapangan dari hari ke hari akan menentukan pula segala respons penyesuaian penanganan gempa. Inilah yang akan bermuara pada distribusi tim petugas hingga bantuan logistik yang tepat sasaran.

Sudah dapat dilihat dari kejadian demi kejadian bencana yang terjadi di Tanah Air, rasa solidaritas bangsa yang tinggi akan mengalirkan relawan, donasi, maupun logistik. Seluruh bantuan ini harus dapat dikoordinasi dengan baik dan bersinergi dengan bantuan pemerintah.

Pemerintah pusat melalui Kemensos menyampaikan telah menyalurkan bantuan senilai Rp14 miliar untuk penanganan darurat di NTT. Bantuan tersebut berupa sembako, pembangunan dapur umum, hingga santunan ahli waris dan korban luka.
 
Jika melihat kondisi lapangan dan skala kerusakan, nilai tersebut tentunya masih jauh dari kebutuhan para korban. Maka, kita mendesak pemerintah untuk menambah bantuan dengan signifikan. Pemerintah juga harus memastikan distribusi tepat sasaran, berdasarkan dengan pemetaan wilayah terdampak tersebut.

Pemerintah pusat dan daerah harus dapat membuktikan bahwa sinergi solid dapat tercapai di saat yang genting ini. Hanya dengan itu maka risiko bertambahnya korban dapat dicegah. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Esa Unggul Kenalkan Digitalisasi Data Vaksin
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Percaya Diri
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Karya Kreatif Indonesia 2026: Dorong UMKM Bangkit, Tangguh dan Berdaya Saing
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BMKG Catat Ada 3.055 Gempa Susulan di NTT, 88 Dirasakan Manusia
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Ditantang Pihak Ruben Onsu Soal Audit Nafkah, Pihak Sarwendah Akui Heran
• 3 jam lalucumicumi.com
Berhasil disimpan.