JAKARTA, KOMPAS.TV – Mahathir, seorang warga penyintas gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menceritakan bagaimana dirinya dan istri tertimpa reruntuhan rumah.
Mengenakan hoodie berwarna gelap di depan tenda terpal berwarna biru dengan tiang batang bambu, Mahathir memutar kembali ingatannya saat gempa bumi berkekuatan M 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Bekas luka di antara kedua matanya seperti menjadi saksi saat sejumlah warga berupaya menyelamatkan dirinya dari reruntuhan. Sementara tikar alas tenda menjadi teman beristirahat selama dirinya berada di pengungsian.
Baca Juga: Gempa M 5,8 Kembali Guncang Flores, BMKG Catat 3.422 Gempa Susulan sejak 15 Agustus
Tak perlu waktu lama untuk mengingat, ia menceritakan saat tanah tempat rumahnya berdiri berguncang di pagi hari.
Kala itu, jam di rumahnya masin menunjukkan pukul lima lebih sedikit. Dirinya pun masih terlelap di peraduan.
“Saat itu waktu sekitar jam lima lewat. Kita kan tertidur, saya, istri, sama anak. Pas guncangan mulai terjadi, saya bangun gendong yang kecil, sama yang istri saya suruh rangkul saya,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Upayanya untuk mencapai pintu rumah terhenti saat bangunan rumah runtuh. Mahathir dan istri pun tertimpa reruntuhan. Beruntung sang anak sudah terlebih dulu terpental ke arah pintu dan reruntuhan tertahan oleh sisa tembok.
“Nah, kita terpental di dalam kamar waktu itu. Pada saat mau keluar pintu, dua kali kita terpental. Nah, setelah itu selang beberapa detik rumahnya langsung rubuh dan tidak sempat keluar dari kamar kita,” ujarrnya.
“Semuanya tertutup sama puing-puing rumah kita itu. Waktu itu juga kebetulan ya, syukurnya yang kecilnya itu pada saat gempa itu dia terpentalnya di pintu kamar,” ucapnya bersyukur.
Sang anak pun diselamatkan oleh keluarganya yang lain, yang kebetulan berada di luar rumah.
Sementara, Mahathir dan istri masih kesakitan dan terluka di bawah reruntuhan. Ia berada di bawah reruntuhan selama beberapa menit hingga warga setempat mengevakuasi mereka menggunakan alat seadanya.
“Kebetulan warga setempat yang di depan rumah itu masih ada di depan lokasi kejadian itu. Jadi segera waktu setelah kejadian itu langsung dievakuasi oleh warga setempat,” tuturnya.
“Mengevakuasi masih ya masih ada goyangan, guncangan ininya masih ada, ya dengan seadanya dengan cara ngangkat batanya ngambil saya sama istri.”
Perjuangan mereka belum usai. Setelah bebas dari reruntuhan, Mahathir beserta istri yang terluka masih harus berupaya menyelamatkan diri ke dataran tinggi, karena beredar isu akan terjadi tsunami.
Dengan kepala dan telinga terluka, Mahathir mengangkat sang istri yang mengalami cidera pada kakinya hingga tidak dapat berjalan.
“Jadi dengan sekuat tenaga ya mengangkat istri lagi, harus bisa lari ke dataran tinggi lagi.”
Keduanya harus berjalan menempuh jarak sekitar tiga kilometer untuk mencapai dataran yang lebih tinggi.
Meski peristiwa itu telah berlalu beberapa hari, hingga kini sang istri masih belum dapat berjalan akibat luka yang dialami.
Baca Juga: [FULL] Tertimbun Puing Saat Gempa NTT, Begini Cerita Penyintas yang Berhasil Selamat
“Untuk kondisi istri kakinya belum begitu pulih, belum bisa bergerak sama sekali,” kata dia, Rabu (19/8/2026).
“Kalau untuk saya sendiri ya alhamdulillah lumayan keringlah lukanya yang dijahit sama di telinga sama kepala,” ucapnya sambil menunjuk bekas luka di antara kedua mata.
Ia mengaku dirinya dan istri telah mendapatkan perawatan medis dan obat-obatan serta bantuan logistik.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- gempa bumi ntt
- gempa bumi
- ntt
- penyintas gempa bumi





