Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.844 pada Rabu, 19 Agustus 2026. Posisi rupiah itu menguat 12 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.856 pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 20 Agustus 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.794 per dolar AS. Posisi itu menguat 46 poin atau 0,26 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.840 per dolar AS.
- ANTARA
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan alias BI Rate di level 5,75 persen berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18-19 Agustus 2026.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility sebesar 25 basis poin masing-masing di 4,75 persen dan 6,50 persen.
Pjs. Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, keputusan suku bunga ini tetap konsisten dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
Kebijakan moneter itu juga menjadi upaya untuk menjaga inflasi dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, yang ditetapkan pemerintah serta memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, BI juga memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta meningkatkan likuiditas.
Sekaligus mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.840-Rp 17.900," ujarnya.
Sebagai informasi, para investor menimbang sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal. Presiden AS, Donald Trump pada hari Selasa menyatakan, tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.
Hal itu merupakan sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan klaim Iran bahwa jalur air vital tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran.





