Pasukan militer Amerika Serikat (AS) diduga secara diam-diam membantu kapal tanker berisi minyak, berlayar melintasi Selat Hormuz, pada Rabu (19/8/2026).
Melansir Antara dari laporan Axios, operasi mengawal kapal tanker itu telah berlangsung selama beberapa minggu. Sehingga memungkinkan pergerakan rahasia hingga 20 kapal untuk masuk dan keluar dari Teluk Persia, dan menyusuri jalur aman di sepanjang pantai Oman.
Berdasarkan skema tersebut, sekitar 10 juta barel minyak diangkut setiap hari melalui jalur perairan itu.
Laporan itu juga menambahkan bahwa meski arus energi yang keluar dari selat itu kini hanya sekitar setengah dari volume sebelum perang, terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pasokan energi ke pasar dunia.
Rencana tersebut diawasi oleh Markas Besar Angkatan Darat AS di Fort Bragg, North Carolina, bersama para mitra AS di kawasan Teluk.
Daftar harian kapal yang keluar menuju Laut Arab, serta kapal tanker minyak kosong yang disewa dan memasuki kawasan Teluk dari arah laut, kini disusun secara berkala.
Dalam laporan itu juga disebutkan kalau kapal-kapal tersebut berlayar setiap malam sesuai jadwal waktu yang telah ditentukan.
Pada malam sebelum 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani sebuah memorandum untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, pada 8 Juli, Donald Trump Presiden AS mengumumkan bahwa gencatan senjata tidak lagi berlaku. Sejak saat itu, pasukan AS telah melancarkan beberapa rangkaian serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai balasan, pasukan Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga AS mengakhiri campur tangannya di kawasan tersebut. Pengumuman itu disampaikan setelah kembali terjadi gelombang saling serang antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Sehari kemudian, Trump mengatakan bahwa AS akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz. Ia juga kembali memberlakukan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.(ant/kir/faz)




