JAKARTA, KOMPAS.TV - Pakar gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Irwan Meilano, menjelaskan sejumlah gempa besar yang terjadi di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 1977.
Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan, sistem sesar naik di busur belakang Indonesia timur membentang lebih dari 1.500 kilometer.
“Jadi, dari riset yang kami lakukan dan sudah terbit di jurnal pada tahun 2016, bahwa kita menemukan bahwa sistem sesar naik di busur belakang Indonesia Timur, ini membentang di area yang cukup panjang,” jelasnya dalam dialog Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Kamis (20/8/2026).
“Bahkan kami menduga lebih panjang dari 1.500 km, membentang dari bagian timur Pulau Jawa sampai kemudian bagian timur dari Pulau Timor,” tambah Irwan.
Baca Juga: Gempa NTT, Wakil Ketua Komisi IV DPR: Banyak Warga Adang Mobil Bantuan
Ia kemudian menjelaskan sejarah kegempaan di kawasan NTT bersama kejadian tsunami yang mengiringi.
“Dari sejarah kegempaan pun menunjukkan hal demikian, misalnya kita menemukan bukti ada tsunami di Sumba pada tahun 1977, dan kemungkinan sumber gempanya magnitudonya lebih atas 8,” jelasnya.
“Tsunami di Flores itu dari gempa magnitudonya 7,9 pada tahun 1992, kemudian ada tsunami juga di Timor pada tahun 1995, kemungkinan ada gempa 6,5 di sana,” imbuhnya.
Berdasarkan catatannya, setidaknya ada lebih 34 gempa merusak dalam rentang waktu tahun 1970-an hingga 2014.
Ia menyimpulkan, wilayah tersebut memiliki potensi gempa yang sangat signifikan.
“Nah pertanyaannya adalah, apakah mitigasi yang perlu dilakukan? Apabila kita bicara kondisi saat ini maka mitigasi yang paling prioritas paling penting adalah melakukan kaji cepat dampak kerusakan, untuk melihat rumah mana yang rusak, pemulihan akses di wilayah yang terisolir,” beber Irwan.
Dengan demikian, bantuan dapat merata, pemetaan ulang zona prioritas dapat dilakukan, serta penyediaan fasilitas dasar bagi masyarakat yang terdampak, mulai dari tempat tinggal, MCK, kesehatan, dan pendidikan, dapat terlaksana.
Baca Juga: Sisa Luka dan Cerita Penyintas Gempa NTT, Tertimbun Reruntuhan hingga Isu Tsunami
Setelah hal itu terwujud, kata dia, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah penyusunan rencana jangka panjang berupa penguatan pengurangan risiko bencana.
Irwan menambahkan, pihaknya bersama tim pusat studi gempa sudah menerbitkan peta gempa Indonesia, yang dapat menjadi dasar pengurangan risiko bencana dengan memperkuat infrastruktur.
“Terutama tadi infrastruktur strategis, fasilitas pendidikan, kesehatan pemerintahan dan juga perumahan,” katanya.
“Nah, sesudah itu adalah membangun kekuatan komunitas. Saya termasuk yang percaya bahwa kita adalah bangsa yang tangguh, bangsa yang memiliki resilience yang sangat kuat, memiliki kearifan lokal gotong royong yang sangat kuat, itu yang kita perkuat,” bebernya.
Selain itu, kata dia, pemerintah juga harus sangat serius mengelola strategi pembiayaan risiko bencana, agar tidak terlalu kaget saat peristiwa terjadi.
Baca Juga: Gempa Susulan Sebagian Besar Terjadi di Radius 50 Km dari Titik Utama, Warga Diimbau Tetap Waspada
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- irwan meilano
- pakar gempa itb
- gempa bumi ntt
- ntt
- gempa NTT
- sejarah gempa NTT





