Airlangga Ajak Jerman Bangun PLTS 100 GW: Kami Butuh Teknologi dan Modal

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah mendorong transformasi energi hijau untuk mengejar target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) dalam 2-3 tahun ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan teknologi dan barang modal dalam jumlah besar, sehingga membuka peluang kerja sama dengan negara-negara asing, terutama Jerman.

“Kami memiliki target sekitar 100 gigawatt dalam 2 hingga 3 tahun. Artinya, kami membutuhkan banyak teknologi dan banyak barang modal, dan hal ini terbuka untuk partisipasi dari Jerman,” ucap Airlangga usai bertemu German Federal Minister for Economic Cooperation & Development di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8).

Airlangga juga menyebut program dedieselisasi menjadi salah satu prioritas Indonesia tahun ini. Program tersebut menargetkan kapasitas sekitar 13,3 GW untuk mengubah pembangkit listrik tenaga diesel di pulau-pulau kecil menjadi tenaga surya.

“Jadi, menurut saya [kerja sama] ini merupakan sesuatu yang dibutuhkan Indonesia,” ucap Airlangga.

Pemerintah pun berupaya mempercepat realisasi program Just Energy Transition Partnership (JETP). Indonesia memiliki alokasi dana sekitar USD 21 miliar dalam program tersebut, tetapi hingga kini baru sekitar USD 4 miliar yang telah dimanfaatkan.

“Kami mengetahui bahwa ada sejumlah tantangan dalam kedua area tersebut, tetapi menurut saya ini merupakan sesuatu yang ingin didorong oleh Indonesia,” ujar Airlangga.

Airlangga menambahkan, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan transformasi energi hijau dan realisasi JETP.

Dari sisi pembiayaan, Indonesia memiliki pengalaman kerja sama dengan KfW (Kreditanstalt für Wiederaufbau), bank pembangunan dan investasi Jerman, yang dapat menyediakan pembiayaan bagi sektor swasta, khususnya untuk kebutuhan barang modal.

Sementara itu Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan, mengatakan Indonesia merupakan mitra strategis yang penting bagi Jerman.

Ia menyebut kedua negara memiliki hubungan kerja sama yang panjang dan saling percaya, terutama di bidang pembangunan, yang ingin diperkuat lebih lanjut di sektor ekonomi.

“Saya ingin memperkuat kerja sama kita di sektor ekonomi maupun pembangunan,” ucap Reem dalam kesempatan yang sama.

Menurut Reem, kerja sama tersebut dapat diperkuat melalui skema JETP yang dipimpin bersama Jepang untuk mendukung transisi menuju energi terbarukan. Kerja sama ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, baik dalam upaya mengatasi perubahan iklim bagi perusahaan Indonesia dan Jerman.

Meski demikian, Reem belum bisa mengungkap angka investasi yang disiapkan. Namun, ia menyebut sejumlah perusahaan Jerman telah hadir di Indonesia dan turut berpartisipasi dalam Indonesia Sustainable Energy Week, yang diselenggarakan bersama GIZ, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta sejumlah mitra Indonesia lainnya.

“Kami menginginkan hasil positif bagi iklim, serta keuntungan bagi perusahaan-perusahaan Indonesia maupun Jerman,” tutur Reem.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Selesaikan Kasus Pandji Pragiwaksono soal Toraja Lewat Restorative Justice
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Jebakan Listrik Fosil Bayangi Target Penurunan Emisi dan PLTS 100 GW
• 3 menit lalukatadata.co.id
thumb
Penanganan Gempa Manggarai, Kemensos Bangun Puluhan Tenda-Salurkan Sembako
• 1 jam laludetik.com
thumb
Garudayaksa FC Masih Butuh 5 Pemain Asing Lagi, Gabung Setelah 20 Agustus 2026
• 17 jam lalubola.com
thumb
Superman Rudiansyah Dijanjikan jadi Polisi Hutan Usai Bantu Padamkan Karhutla
• 6 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.