Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menyoroti pentingnya menciptakan skala ekonomi guna mempercepat penguatan industri rantai pasok komponen kendaraan listrik lokal di Tanah Air.
Ketua Umum AISMOLI, Budi Setiyadi, menjelaskan masyarakat dan pelaku industri perlu membedakan antara target minimum yang diatur dalam regulasi pemerintah dan nilai capaian aktual TKDN pada masing-masing produk yang beredar di pasar.
"Perlu dibedakan antara target minimum dalam regulasi dan capaian masing-masing produk," kata Budi saat saat dihubungi kumparanOTO, Selasa (18/8/2026).
Ia menerangkan roadmap yang ditetapkan pemerintah telah mengatur standar ketat untuk industri roda dua dan roda tiga berbasis baterai hingga beberapa tahun ke depan.
"Untuk motor listrik roda dua dan roda tiga, target minimum TKDN sampai dengan 2026 adalah 40 persen. Pada 2027–2029, roadmap pemerintah menetapkan kenaikan menjadi minimum 60 persen," ungkapnya.
Kendati target regulasi tersebut sudah mampu merangsang aktivitas perakitan dan produksi sejumlah komponen lokal, Budi tak menampik bahwa sektor komponen utama masih menghadapi tantangan besar.
"Target tersebut sudah mulai mendorong perakitan dan produksi sejumlah komponen di dalam negeri. Namun, untuk komponen utama seperti sel baterai, motor penggerak, dan controller, kemampuan serta skala industrinya masih perlu diperkuat dan sebagian kebutuhannya masih bergantung pada impor," jelas Budi.
Guna mengatasi ketergantungan impor pada komponen krusial tersebut, Budi menilai akselerasi populasi kendaraan listrik menjadi kunci utama untuk menarik minat para investor komponen global maupun lokal.
"Program satu juta unit dapat menciptakan skala ekonomi yang menarik bagi investor komponen untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia," tegasnya.
Menurut Aismoli, peningkatan standar persentase TKDN tidak bisa berdiri sendiri hanya sebagai angka di atas kertas, melainkan harus dibarengi dengan kesiapan ekosistem manufaktur pendukung di dalam negeri.
"Karena itu, kenaikan TKDN harus diikuti dengan pengembangan pemasok lokal, dukungan investasi, transfer teknologi, riset dan pengembangan, serta kesiapan rantai pasok di dalam negeri," pungkas Budi.





