Dua Hal Ini Jadi Kekuatan di Balik Bank Berbasis Teknologi

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Head of People & Culture PT Bank Jago Tbk Pratomo Soedarsono mengungkapkan, membangun bank digital bukan hanya soal teknologi. Di belakang produk dan layanan yang serba digital, ada orang-orang yang harus terus belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan ketika kebutuhan nasabah berubah.

Menurut dia hal tersebut menjadi penting mengingat sekarang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai masuk ke berbagai pekerjaan yang mungkin saja menggantikan peran manusia.

Baca Juga :
Airlangga: Masyarakat RI Simpan 1.800 Ton Emas Senilai Rp 4.460 Triliun 'di Bawah Bantal'
Tantangan Praktik Audit dan Assurance di Era AI, IAPI dan BINUS University Gelar CPA Days 2026

“Di Bank Jago, AI dimanfaatkan untuk memberi saran, tapi keputusan tetap di tangan manusia. Jadi, prosedur rutin yang membuang waktu bisa dihindari dan tim bisa fokus melatih talenta, memahami konteks, dan mengambil keputusan penuh makna,” ujar Tommy saat berdiskusi dengan ratusan anggota Asosiasi Internasional Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Bisnis (AIESEC) di Universitas Indonesia, dikutip dari keterangannya, Kamis, 20 agustus 2026.

 

Pria yang sehari-hari akrab disapa Tommy itu berbagi pandangan tentang cara Bank Jago memanfaatkan AI sekaligus menyiapkan organisasi dan talenta yang siap menghadapi perubahan di industri perbankan.

 

Sebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago menempatkan AI sebagai alat pendamping digital yang membantu pekerjaan rutin. Dengan begitu, waktu dan perhatian karyawan dapat lebih banyak diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan pemahaman terhadap nasabah, penyelesaian persoalan, hingga pengembangan anggota tim.

 

Cara kerja di dalam organisasi pun ikut disesuaikan. Para Jagoan, sebutan bagi karyawan Bank Jago, mendapat ruang lebih besar untuk mengambil keputusan. Tim memiliki keleluasaan untuk menyelesaikan persoalan tanpa selalu menunggu keputusan dari jenjang yang lebih tinggi.

 

Bank yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi dalam ekosistem digital, lanjut Tommy, membutuhkan pola kerja seperti ini karena pengembangan produk dan layanan melibatkan banyak fungsi. Kelincahan dalam pengambilan keputusan menjadi penting agar organisasi dapat merespons kebutuhan nasabah dan perubahan pasar dengan cepat.

 

¨Namun ruang untuk mengambil keputusan perlu diikuti kemampuan yang terus berkembang. Untuk itu kami mengembangkan capability journey untuk membantu karyawan untuk melihat kemampuannya sekaligus menentukan hal-hal yang masih perlu diperkuat,” jelas Tommy.

Baca Juga :
Laku 3,2 Juta Unit di Dunia, Teknologi AI Mesin Cuci Ini Berlabuh di Sunter
Indonesia Butuh Teknologi Industri yang Makin Canggih
Pertamina Trans Kontinental Lakukan Hal Ini Jaga Ekosistem Bahari Laut Sulawesi Utara

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Profil Frederik Kiran, Cucu Soekarno yang Warisi Darah Jepang dan Belanda, Punya Tampang Ganteng Maksimal
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Perjalanan KRL Jakarta Kota dan Tangerang Sudah Normal Usai Kejadian Tertemper Orang-Motor
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Polda Metro Gandeng KPAI dan Ahli Hukum soal Eksploitasi Anak dalam Kasus Bigmo
• 39 detik lalumetrotvnews.com
thumb
10 Kota Workcation Terbaik Dunia 2026, Bangkok Nomor 1
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Bawa Anaknya ke Liga Indonesia, John Herdman Pertaruhkan Keluarga Demi Timnas
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.