Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.748 per Dolar AS, Pasar Respons Rencana Pangkas Kuota BBM Subsidi

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026). Rupiah naik 92 poin atau 0,52 persen menjadi Rp17.748 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.840 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah respons positif pelaku pasar terhadap rencana pemerintah memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan mulai 2027.

Ibrahim Assuabi analis mata uang mengatakan, kebijakan pengendalian subsidi BBM menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar.

“Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite,” kata Ibrahim dilansir dari Antara.

Pemerintah berencana memangkas kuota BBM bersubsidi hingga 58,5 persen pada 2027. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengendalikan belanja subsidi sekaligus menjaga pengelolaan anggaran negara.

Menurut Ibrahim, pemangkasan kuota tersebut berpotensi memperketat akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi, khususnya bagi pengguna Pertalite yang selama ini mengandalkan bahan bakar tersebut untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.

Pemerintah juga menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel dalam perencanaan 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak dunia saat ini yang berada di kisaran 83 dolar AS per barel.

“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari,” ujar Ibrahim.

Selain faktor domestik, pergerakan rupiah masih dipengaruhi sikap hati-hati investor menjelang rilis data transaksi berjalan Indonesia kuartal II 2026.

Investor mencermati perkembangan tersebut karena pada kuartal I 2026 defisit transaksi berjalan sempat melebar ke level terbesar sejak 2019.

Pelebaran defisit antara lain berkaitan dengan melemahnya kinerja perdagangan di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Dari pasar global, sentimen positif datang dari penurunan imbal hasil surat utang pemerintah AS. Departemen Keuangan AS meningkatkan program pembelian kembali atau buyback sekuritas jangka panjang sebagai bagian dari upaya mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang.

“Imbal hasil acuan Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps) dan imbal hasil tenor 30 tahun turun hampir 9 basis poin (bps) setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) untuk mendukung likuiditas pada surat berharga pemerintah berjangka waktu lebih panjang,” kata Ibrahim.

Penurunan imbal hasil Treasury AS dapat meningkatkan daya tarik aset berisiko dan memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain kurs pasar spot, nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat menguat. JISDOR berada di level Rp17.779 per dolar AS pada Kamis, dari sebelumnya Rp17.844 per dolar AS. (ant/saf/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhan Sjafrie Dorong MRO Kertajati Jadi Pusat Perawatan Pesawat Tempur TNI AU
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Update Korban Gempa NTT: 72 Orang Meninggal, 82.691 Mengungsi
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Pascagempa NTT: Warga Nagekeo Tinggalkan Desa, Ngungsi Mandiri dan Tunggu Bantuan | KOMPAS SIANG
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Munafri Perkuat Pertanian Makassar Hadapi Musim Kemarau
• 5 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Korban Gempa Dekat Kantor Bupati Manggarai Belum Dapat Bantuan
• 14 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.