Jakarta: Kebutuhan energi dalam jumlah besar menjadi salah satu tantangan bagi perusahaan pertambangan dalam mengembangkan bisnis. PT Vale Indonesia Tbk memilih mengembangkan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan operasional tambang dengan investasi lebih dari USD450 juta.
Direktur dan Kepala Keberlanjutan serta Urusan Korporasi Vale Indonesia Budiansyah mengatakan perusahaan sempat dihadapkan pada pilihan sumber energi yang lebih murah untuk memenuhi kebutuhan operasional tambang, salah satunya batu bara yang dinilai dapat menghasilkan energi hingga ratusan megawatt. Namun, perusahaan memilih mengembangkan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
"Jadi perusahaan mengambil keputusan untuk mengembangkan energi terbarukan dengan cara memanfaatkan sisa ataupun studi daripada kemungkinan kita menghasilkan energi," ungkap dia, dalam peluncuran riset Bank DBS Indonesia bertajuk Identifikasi Tantangan dan Langkah Strategis Menuju Transisi Keberlanjutan pada Lima Sektor Kunci di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ilustrasi energi terbarukan. Foto: dok Magnific.
Baca Juga :
Transformasi Hijau dan Sosial, Vale Indonesia Buktikan Tambang Bisa Berdaya dan BerkelanjutanBudi menambahkan perusahaan tambang juga menghadapi tantangan dari sisi lingkungan. Menurut dia, penambangan nikel dan batu bara menggunakan metode opencast atau tambang terbuka yang membutuhkan pembukaan lahan dalam skala besar.
Karena itu, perusahaan terus menjalankan kegiatan pertambangan dengan memperhatikan lingkungan dan pengelolaan sumber daya air di tengah perubahan kondisi pasar.
"Challenging-nya itu adalah bagaimana kita bisa berjalan bersamaan dengan aspek lingkungan, water resource management, dan juga di tengah itu perusahaan menghadapi dinamika pasar," ucap dia.
Ia menyebut hasil tambang masih menjadi bagian dari berbagai kebutuhan manusia. Karena itu, tantangannya adalah memastikan kegiatan pertambangan dilakukan dengan cara yang baik dan bertanggung jawab. (Tiaranissa Juliansyah)




