JAKARTA, DISWAY.ID-- Dengan meningkatnya konflik di wilayah Timur Tengah dalam kurun waktu beberapa bulan ini, perubahan besar pun juga turut terjadi kepada proses transisi energi berkelanjutan di kancah global.
Dalam hal ini, Head of Institutional Banking Group at DBS Indonesia Anthonius Sehonamin memaparkan bahwa dengan meningkatnya kepentingan politik di tengah-tengah dinamika geopolitik global, biaya yang diperlukan untuk transisi energi pun juga turut mengubah prioritas target.
BACA JUGA:Pepsodent Kenalkan Pasta Gigi Microbiome Active Pertama di KPPIKG 2026
"Jadi banyak perusahaan ini berusaha menimbulkan target dekarbonusasinya dengan basically upside dan take cost. Karena biaya transisi makin tinggi, ada climate change, ada perubahan prioritas politik," tutur Anthonius kepada media dalam agenda Riset Bank DBS Indonesia di Jakarta, pada Kamis (20/08).
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Anthonius juga menambahkan bahwa selain kewajiban sustainable report setiap tahunnya, taksonomi keuangan berkelanjutan juga tetap sudah menjadi rangka yang penting.
Selain itu, dirinya juga menekankan bahwa dukungan dari perbankan serta lembaga keuangan juga patut untuk diperhatikan.
BACA JUGA:Targetkan 49 Juta KK, Presiden Prabowo Dorong Perlinsos Digital Bebaskan Biaya Pendaftaran Bansos
"Karena untuk peluang bagi investasi, inovasi, dan perkembangan infrastruktur energi, lembaga keuangan ini memegang peran yang penting. Karena bukan hanya pembiayaan saja, tapi kita juga mendukung transformasi industri, harus ada pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan," tegas Anthonius.
Ditemui dalam kesempatan yang sama, William Sumadiputra selaku Senior Vice President at DBS Vickers Securities turut menuturkan bahwa penyusunan laporan sustainable report tersebut juga sangat diperlukan untuk memberikan penegasan akan manfaat dari transisi energi tersebut.
Menurutnya, laporan tersebut akan menekankan bahwa transisi energi berkelanjutan merupakan koordinasi penting yang harus dibangun bersama untuk mewujudkan perekonomian Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
BACA JUGA:Tanggapi Ahli Kubu Febrie, Polri Siap Serahkan Bukti Pendukung dan Ahli
"Jadi nanti di report tersebut akan dijabarkan rekomendasi dan bukti-bukti yang untuk mendukung kebijakan transformasi industri untuk Indonesia," ujar Wiliam dalam penuturannya.
Menurutnya, hal ini juga dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk dapat mengembangkan beragam teknologi menggunakan energi berkelanjutan.
"Ini jadi salah satu jadi peluang Indonesia untuk menaikkan kapasitas solar PV, dan battery and energy storage system, di mana ini dapat memberikan nilai tambah, buat perkembangan industri, as well as the data centers going forward," tutup Wiliam.





